Memaknai Hari Bumi, Beri “Spasi” bagi Ibu Pertiwi

0
61

Klik. Pesan masuk: make a little space.

Klik. Pesan masuk: make a better place.

Klik. Pengirim pesan: Bumi. 

Begitulah gambaran dari Bumi yang seolah berpesan, lewat penggalan lagu Michael Jackson “Heal the World”, kepada manusia untuk merawat ibu pertiwi. Tersurat juga makna agar memberi sedikit ruang, jika dalam dunia pengetikan yaitu memberi spasi, demi menciptakan kediaman di Bumi yang lebih baik. 

Hari Bumi sedunia diperingati setiap 22 April menjadi momentum penting untuk menghirup udara segar. Selain itu, menjadi waktu untuk memahami arti “Restore Our Earth” sebagai tema Earth Day 2021. 

Tema Earth Day 2021, “Restore Our Earth”, yang diusung oleh komunitas global Earthday.org memiliki tujuan untuk memulihkan ekosistem bumi. Upaya pemulihan bumi ini bukan sekadar kepedulian, melainkan tanggung jawab karena kita hidup di dalamnya.

Kita sebagai bagian dari dunia tentu membutuhkan tempat tinggal yang nyaman. Kenyamanan ini untuk mendukung kegiatan sehari-hari karena rasa nyaman akan memunculkan kebahagiaan.

Perasaan bahagia dari dalam diri inilah yang kemudian membuat keseharian menjadi menyenangkan dan kekuatan menjalani hidup. Maka, bumi yang sehat bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Namun, cobalah pikirkan dalam benak, sebenarnya seberapa kenalkah kita pada bumi tempat tinggal kita sendiri? Fenomena apa saja yang terjadi akhir-akhir ini?

Seperti yang kita ketahui dan alami bersama, telah terjadi pandemi Covid-19 di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, berbagai bencana alam yang terjadi mulai awal tahun ini. 

Berita bencana

Berita tentang bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia adalah banjir bandang dan siklon tropis seroja di Nusa Tenggara Timur yang menelan 178 orang meninggal dan 48 orang hilang. Tak kalah gempar adalah berita mengenai kejadian bencana alam sebanyak 1.125 kejadian terhitung 1 Januari sampai 15 April 2021. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana memaparkan fakta bahwa banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Dari data yang diperoleh, terjadi 476 banjir dalam kurun waktu tersebut. Tak hanya banjir, puting beliung terhitung 308 kejadian dan tanah longsor menyusul sebesar 218 kejadian. Kemudian, 90 kejadian kebakaran hutan dan lahan, 17 gempa bumi, 15 gelombang pasang dan abrasi, serta 1 kekeringan yang terjadi. 

Selama kurang lebih empat bulan, dampak akibat bencana alam berupa 4.933.946 jiwa mengungsi, 12.895 luka-luka, 476 meninggal dunia, dan 60 menghilang. Baik pemerintah maupun masyarakat turut menjadi saksi dari gejolak alam yang terjadi. 

Usia bumi tinggal tujuh tahun lagi, atas prediksi Mercator Research Institute, karena bumi akan mengalami batas pemanasan global yang mencapai maksimal 1,5 derajat Celsius. Kerusakan alam yang menyertainya akibat tindakan manusia sejak tahun 2000, telah menghilangkan 75 persen nilai ekonomis alam. Ketika alam mulai rusak, manusia pun turut merusak dirinya. 

Delapan puluh persen sampah di laut adalah sampah plastik, sesuai data dari Dinas Lingkungan Hidup Semarang, dan yang membuat bahaya adalah kandungan senyawa kimia sehingga plastik sulit terurai. 

Semakin banyak plastik di laut yang dimakan oleh penghuni asli lautan seperti ikan-ikan, membuat mikroplastik mencemari ikan dan kemudian secara tidak langsung manusia akan makan plastik dari ikan yang disajikan. 

Ilustrasi alam dan e-mail. Dokumentasi pribadi.

Kecanggihan teknologi pun membuat sampah yang saat ini menumpuk menjadi dinamis. Jenis sampah dinamis ini tidak berbau karena berasal dari dunia maya. Dunia maya yang konon kembaran tak identik dunia nyata ternyata memiliki kemiripan yaitu sama-sama menghasilkan dan menyimpan jumlah sampah yang cukup besar. E-mail, file, app, foto, dan video yang tidak diperlukan atau tidak berguna lagi adalah sampah dari dunia maya, disebut digital waste. 

Penelitian dari Digital Cleanup Day menunjukkan bahwa jika kita membiarkan 1 GB e-mail tersimpan selama satu tahun itu sama saja menggunakan energi sebesar 321 kWh yang setara dengan daya panggangan oven selama 10 jam. 

Setiap tahunnya, internet dan perangkat pendukung sistemnya menghasilkan 900 miliar ton karbondioksida. Hal tersebut yang memungkinkan terjadinya polusi karbon. 

“Spasi” introspeksi bagi ibu pertiwi

Rasanya kita benar-benar perlu introspeksi dan sadar akan pentingnya menjaga Bumi. Berbagai bencana terjadi, apakah kita hanya akan berdiam diri?

Dalam hal ini, salah satu penyebab bencana adalah ulah manusia yang menghasilkan sampah dan tidak membuangnya dengan cara yang tepat. Maka, untuk memberi “spasi” atau ruang, suatu tindakan harus dilakukan. Salah satu aksi yang dapat dilakukan dari dunia maya dan akan berdampak pada dunia nyata adalah dengan menghapus 150 e-mail yang tidak diperlukan lagi alias membuang digital waste secara permanen. 

Tidak hanya klik hapus e-mail dan masuk trash, tetapi dari trash lalu klik hapus permanen agar  sampah digital itu tidak tersimpan lagi. Aksi itu cukup efektif bila tekun melakukannya. 

Setelah menghapus 150 e-mail selama 12 hari, maka berarti 1.800 e-mail yang sudah tidak berguna telah terbuang dari gawai. Inilah yang dimaksud sebagai “spasi” atau ruang kosong sebagai wujud dari introspeksi bagi ibu pertiwi. 

Oleh karena itu, dengan cara yang benar membuang sampah seperti menghapus sampah digital secara permanen, kita mampu mengurangi karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Berkurangnya sampah digital akan membuat umur gawai lebih panjang. Selain itu, kita juga akan merasakan gaya hidup dalam dunia maya yang baru karena lebih efisien dalam mengelola sampah-sampah seperti itu

Mari, bersama, lestarikan alam mulai dari membuang sampah dengan benar. Kurangi  sampah digital di dunia maya dan beri “spasi” demi pertumbuhan tumbuhan, lingkungan, dan Bumi. Selamat memperbaiki kondisi bumi kita. 

Maria Oktaviana, mahasiswi Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara Tangerang