Secarik Curahan Hati Mahasiswa Program Diploma 3

0
223

“Kok nggak ambil S-1 aja?” “Karena minat ke jurusan D-3,” jawabku.

“Mau jadi apa kamu nanti?” “Jadi penerjemah berdedikasi tinggi,” tambahku.

“Apa nggak susah cari kerja nanti?” “Kalau itu bisa perkara takdir atau perkara skill,” Jawabku singkat.

Tidak heran lagi, itulah pertanyaan yang sering muncul untuk anak- anak yang kuliah di program diploma tiga atau D-3. Banyak yang meremehkan anak program diploma karena dibayangi oleh gelar sarjana. Aku pun mengalami persoalan sama. Beberapa orang memandang sebelah mata atas pendidikan yang kutempuh kini.

Padahal, mereka nggak tahu aja kalau kuliahku nggak gampang, lho. Justru isinya praktik dan mengerjakan proyek-proyek sebagai representatif dunia kerja sesungguhnya, seperti menerjemahkan berbagai jenis teks dan berperan sebagai jurubahasa pun pernah. Jadi, terlihat bahwa perbedaan kentara antara diploma dan sarjana adalah porsi pembelajarannya. Diploma ditekankan pada praktik, sedangkan sarjana mendalami teori. Pola kuliah begini yang aku idamkan, tetapi tak menampik bila dengar opini orang kadang-kadang membuat hatiku ciut.

Pilihan dan minat
Aku masuk ke jurusanku ini sebenarnya memang dasar mauku. Ya, aku adalah mahasiswa jurusan diploma tiga bahasa Inggris. Aku senang-senang aja dengan jurusanku karena ternyata nggak jauh dari ekspektasi. Ada beberapa keterampilan yang aku dapat saat kuliah ini, seperti aku mahir menerjemahkan beberapa jenis teks, mengoperasikan alat bantu penerjemahan, dan aku pun diajari tentang subtitling, copywriting, interpreting, dan sekilas tentang desktop publishing.

Bahkan keterampilan itu melebihi harapanku. Dari kuliah ini aku pun mengenal beberapa software yang nggak kukenal sebelumnya. Sistem kuliahnya pun nggak teori terus karena memang fokusnya ke praktik. Walaupun sebagian besar tugas membuat pusing juga. Maklum bentuk proyek yang terbanyak berhubungan dengan penerjemahan, seperti menerjemahkan slogan perusahaan, teks iklan, buku pedoman, teks film, dan masih banyak lagi, tetapi nggak apa karena aku menikmatinya.

Malas bersaing

Aku masuk jurusanku sekarang lewat jalur prestasi dengan angka keketatan persaingan 1:14 di tahun 2019. Anehnya, beberapa orang menyuruhku ikut tes lagi dan aku ambil peluang itu. Hasilnya aku diterima di salah satu jurusan yang ternyata nggak sesuai minat. Aku putuskan bertahan di jurusan sekarang sampai saat ini. Lebih lagi, aku nggak menyesali pilihan kuliah di D-3 daripada program sarjana (S-1) dengan jurusan yang aku tidak minati sama sekali.

Saat lulus nanti, aku ingin menjadi seorang penerjemah khususnya teks pemasaran di agensi penerjemahan bergengsi. Selain itu, aku juga ingin jadi penerjemah lepas buku-buku cerita karena menurutku terasa asyik.

Perkara perbandingan dengan anak sarjana, aku sendiri kadang-kadang membandingkan diri dengan temanku yang sarjana. Namun, setelah kupikir nggak ada guna begitu. Toh buktinya aku kuliah diploma justru lebih produktif dari segelintir teman yang sarjana. Keterampilan yang meningkat membuatku bangga pada diriku karena sosok hari ini jadi lebih baik dari kemarin.


President Amerika Serikat ke 26 Teddy Roosevelt menyatakan, Comparison is the thief of joy.” Aku setuju dengan ungkapan itu karena cerita hidup orang itu beda-beda. Perjalanan pun tak sama. Fokus jadi versi terbaik diri kita daripada sibuk dengan yang lain. Nggak usah khawatir kalau kuliah program D-3 akan kalah sukses dengan mereka yang kuliah di program sarjana, karena nggak menutup kemungkinan lulusan program D-3 juga bisa sukses dan bahagia.

Semua itu hanya stigma khalayak yang menganggap  mahasiswa program S-1 lebih baik, padahal setelah lulus pun belum tentu dapat kerja cepat. Bagiku diploma dan sarjana sama kok, sama berjuang hanya beda konsep pembelajaran. Tidak ada yang lebih unggul, keduanya bagus tergantung dilihat dari perspektif yang mana.

Salam Vokasi!

Tasya Rahmawati, mahasiswa  Jurusan D-3 Bahasa Inggris Sekolah Vokasi Universitas  Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah