Komunitas Alam Daur Berkarya Bagi Anak Di Lombok Tengah

0
313

Komunitas Alam Daur yang berada di Lombok Tengah adalah komunitas yang bergerak di bidang literasi anak dengan program kerja memberikan pendidikan untuk anak-anak pedesaan di sekitar Dusun Sinte, Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat). Para anggota komunitas setiap hari aktif mengajar dan menambah wawasan anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar di kabupaten tersebut.

Alam Daur  beranggota 15 pemuda-pemudi asal Lombok Tengah yang bertujuan menyediakan lingkungan yang baik bagi anak-anak  Dusun Sinte untuk mendapatkan pendidikan dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang baik serta memadai. Pasalnya Dusun Sinte merupakan dusun terpencil dengan akses menuju sekolah dasar yang cukup jauh dan rute yang sulit untuk dilalui karena jalannya sempit dan dari tanah. Di musim hujan jalan menjadii becek  dan licin sehingga anak-anak mengalami kesulitan ke sekolah.

Jarak dari Kota Praya ke Sinte  sekitar 15 kilometer namun dulu akses jalan menuju tempat tujuan sangat jelek. Jika  hujan turun dengan intensitas tinggi, motor dan kendaraan lain tidak bisa lewat, karena jalanan penuh lumpur yang licin, akses jalan pun hanya bisa ditempuh dengan cara berjalan kaki. Jika hujan, kendaraan para anak muda yang mengajar anak-anak Sinte harus menitipkan dahulu di pemukiman warga yang dekat dengan jalan raya.

Mereka lalu menempuh sisa rute sulit selanjutnya dengan berjalan kaki. Cara itu terpaksa mereka lakukan untuk menghindarkan diri dari kemungkinan buruk jika motor dipaksa masuk ke Dusun Sinte yang jalannya yang berlumpur sehingga  berbahaya jika nekad meneruskan perjalanan dengan naik motor atau kendaraan lain.

Jalan kaki merupakan satu-satunya alternatif untuk melewati perjalanan yang terssa menuju Dusun Sinte. Rumah dari sebagian murid pun ada yang sampai melewat pematang sawah.  Akses jalan yang lumayan layak  ke Dusun Sinte baru dibangun Tahun 2020, listrikpun baru masuk sekitar Tahun 2013.

Sebanyak 45 anak asal Dusun Sinte dan dusun sekitarnya merupakan murid dari komunitas Alam Daur. Mereka  ikut belajar dan mengenyam pendidikan tambahan yang lebih baik dari para pengajar. Para pemuda dan pemudi yang menjadi pengajar di tempat itu sudah memahami sifat kekanakan anak didiknya. Mereka pandaii membuat anak-anak betah dan senang belajar di Sekolah literasi Alam Daur. Anak-anak yang menjadi murid di sekolah literasi tersebut umumnya masih bersekolah di TK dan  sekolah dasar dengan usia rata-rata 5-12 tahun.

Perbedaan mata pelajaran yang diajarkan yaitu sesuai dengan umur atau tingkat sekolah mereka. Selain mata pelajaran yang umum seperti menulis, membaca dan berhitung, ada pula pembelajaran dari gim, atau permainan-permainan menarik. Pada saat seperti itu mereka semua akan digabung menjadi satu kelas. Pada waktu belajar per mata pelajaran barulah dibagi menjadi 10 kelas.

Pelajaran utama yang diajarkan, bahasa Inggris dasar, membaca, matematika, dan pelajaran lainnya. namun tim pengajar juga sesekali memberikan pelajaran lewat media YouTube agar anak-anak  dapat mengikuti perkembangan zaman dan melek teknologi. Sekolah Literasi Alam Daur merupakan komunitas yang memiliki prinsip “Bermain Sambil Belajar”, agar anak-anak tidak terbebani dengan belajar terus-menerus namun dapat menikmati waktu dengan bersenang-senang.

Akan tetapi mereka juga mendapat  berbagai pembelajaran menarik serta hal lain yang dapat meningkatkan perkembangan anak dan meningkatkan kemampuan interaksi dan bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar. Para anggota komunitas mengajar anak setiap hari secara bergantían di sela waktu mereka kuliah. Pembelajaran dimulai pukul 13.00  sampai sekitar jam 18.00 di bangunan yang menjadi posko komunitas di desa itu.

Tim pengajar berasal dari kalangan mahasiswa yang menjadi anggota komunitas, dengan kisaran usia antara 20-25 tahun. Sudah dua tahun mereka  mengajar di sana. Kesan dan pesan mereka cukup menarik, salah satunya kesan dan pesan dari Ketua Komunitas yaitu Bukran Habibullah, mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram.

Tanpa pamrih

“Kami membagi ilmu dengan ikhlas tanpa ada pamrih atau mengharap timbal balik sebagai seorang pengabdi masyarakat.  Kami membagi waktu untuk mengajar warga di daerah saya Dusun Sinte yang  tingkat pendidikannya masih minim. Saya sebagai  pemuda daerah merasa terpanggil untuk mengabdikan diri saya di bidang pendidikan untuk anak-anak di daerah saya,” kata Bukran yang menjadi ketua Komunitas Alam Daur.

Ia berharap agar  apa yang sudah ia dan kawan-kawannya ibangun itu terputus. “Kita butuh generasi yang bisa meneruskan kegiata-kegiatan yang sudah dicetuskan, tambah Bukran kepada rekannya yang menjadi anggota komunitas.

Tempat belajar anak-anak itu saat ini dapat dikatakan cukup layak, sebab bangunan awal hanya berupa gubuk yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Para anggota komunitas lalu merenovasi menjadi tempat yang layak pakai. Tak hanya itu, mereka juga melengkapinya dengan kebutuhan belajar-mengajar lain seperti papan, rak-rak buku dan lainnya.

“Saya ingin memanfaatkan waktu yang saya punya agar produktif terutama untuk orang-orang di sekitar saya,  karena akhir-akhir ini sebagian atau banyak oraang lebih memilih untuk memegang gadget sehingga interaksi dan kehidupan sosial mulai terabaikan, ujar pendiri komunitas Alam Daur Ahmad Aprillah. Oleh karena itu, Ahmad yang menjadi dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Mataram itu berinisiatif  mengajak 14 pemuda-pemudi  untuk membangun sebuah komunitas literasi yang menitik beratkan pada aspek dedikasi terhadap anak-anak.

Komunitas itu telah terbentuk selama dua tahun dan sudah mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat sekitar. Pendanaan kegiatan dan merenovasi tempat belajar berasal dari anggota komunitas, yaitu dengan mengadakan iuran setiap ada kebutuhan yang diperlukan. Pencetus Komunitas ini juga sudah berencana untuk memberikan pengajaran tentang menenun kain khas Suku Sasak yaitu kain songket. Hasil karya anak-anak nanti akan dijual dan dana yang didapatkan akan dialokasikan untuk kebutuhan komunitas. Komunitas inipun bersifat mandiri dan tidak berada di bawah naungan pemerintah.

Komunitas Alam Daur adalah salah satu komunitas  yang berperan aktif untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang terdapat di Pembukaan UUD 1945 alinea empat yaitu “…….Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.

Dengan latar belakang dan tujuan yang sama, ke-15 pemuda-pemudi tersebut mendedikasikan untuk ikut andil mewujudkan pendidikan dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang baik dan memadai secara sukarela untuk memberikan pendidikan lebi baik bagi anak-anak di Dusun Sinte, Desa Batujai.

Mita Apriani, mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata  Trisakti Jakarta.