Perjuangan Tim Prisma Fakultas Kedokteran UGM Berbuah Medali Emas

0
221

Bulan Oktober 2019, saya dan kedua teman saya, Karunia Widhi (ketua tim) dan Indah Listya sebagai sesama anggota tim, mencoba untuk “keluar dari zona nyaman” dengan memberanikan diri mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). PKM merupakan sarana bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan jiwa kreatif dan inovatifnya berdasarkan sains dan teknologi dengan tahap akhir pelaksanaan kegiatan yaitu Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) sebagai ajang untuk mempresentasikan produk kreativitas mahasiswa di depan para dewan penilai.

PKM yang kami ikuti adalah PKM-GT atau Gagasan Tertulis. Kami tertarik untuk memilih bidang ini karena PKM-GT mewadahi mahasiswa dalam menuliskan gagasan atau ide kreatif yang bersifat futuristik dan implementatif, sebagai solusi atas permasalahan di negeri ini.

Sesuai dengan bidang ilmu yang sedang kami tekuni, kami mengangkat masalah pelayanan kesehatan di Indonesia, yakni pelayanan kesehatan yang masih bersifat one-size-fits-all. Maksudnya, penerapan tatalaksana pasien yang sama berdasarkan tanda dan gejala umum, tes diagnostik, dan pengobatan yang sama untuk jenis penyakit tertentu. Menurut kami, penerapan tersebut sudah kurang relevan dan tidak efisien.

Pelayanan kesehatan yang bersifat one-size-fits-all memiliki berbagai kekurangan. Misalnya seperti kesalahan medis dalam diagnosis, terapi yang berlebihan, serta pemborosan dalam sistem kesehatan. Kondisi tersebut diperparah oleh manajemen sistem informasi kesehatan yang kurang memadai, seperti rekam medis yang masih konvensional dan tidak terintegrasi.

Oleh karena itu, kami mengusulkan  gagasan tentang sistem pengintegrasian data kesehatan dan non-kesehatan individu untuk mencapai kedokteran presisi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Indonesia masa depan, yang kami sebut PRISMA (Precise and Integrated System of Medicine in Indonesia). 

Kedokteran presisi adalah suatu pendekatan prevensi, diagnosis, dan terapi medis didasarkan pada keragaman individu dalam hal genetik, gaya hidup, dan lingkungan. Sebenarnya, kedokteran presisi telah diterapkan di Indonesia, namun upaya itu hanya terbatas pada beberapa kondisi medis. Salah satunya, terapi target kanker. Pemeriksaan genomik yang dilakukan juga masih terbatas di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, rekam medis pasien juga sudah mulai terdigitalisasi, tetapi masih belum terintegrasi dengan baik antar fasilitas pelayanan kesehatan.

Sistem terintegrasi 

Itulah sebabnya kami menggagas PRISMA, yang berisi pendekatan pengobatan precision medicine atau personalized medicine dengan mengintegrasikan dan menganalisis data kesehatan tiap orang, data lingkungan yang bermakna bagi kesehatan, serta kumpulan set data klinis berbasis Internet of Things (IoT). PRISMA mengintegrasikan berbagai sumber data, seperti rekam data medis ulang, electronic health medic, dan data lingkungan serta kesehatan masyarakat yang kemudian diolah dengan analisis big data dan kecerdasan buatan berupa machine learning untuk menciptakan rekomendasi-rekomendasi kesehatan yang presisi.

Rekam medik personal memuat data hasil pemantauan mandiri dengan device berbasis IoT. Kemudian rekam medik elektronik akan diintegrasikan antar fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia dan juga memuat hasil pemeriksaan genomik pasien untuk mencapai pendekatan medis yang presisi dan terpersonalisasi. Luaran yang dihasilkan dalam sistem kami akan dapat dirasakan dari berbagai pihak, mulai dari individu pengguna, fasilitas pelayanan kesehatan, dan institusi non-kesehatan.

Individu pengguna akan menerima rekomendasi dan intervensi kesehatan yang terpersonalisasi melalui device yang dipakai. Fasilitas pelayanan kesehatan akan menerima rekomendasi untuk membantu pekayanan keputusan klinis. Institusi non-kesehatan dapat menerima rekomendasi kesehatan spesifik untuk berbagai jenis profesi dan juga dapat memanfaatkan data surveilans kesehatan masyarakat.

Langkah kami tidak terhenti sampai di situ saja. Kami dituntut untuk kreatif, logis, sistematis, dan tidak subjektif. Di bawah arahan dan bimbingan dosen pendamping, kami menguraikan gagasan tersebut secara lebih detail, termasuk pihak-pihak yang terlibat, langkah-langkah strategis, dan prediksi hasil apabila gagasan kami diimplementasikan.

Untuk mewujudkan PRISMA, peran berbagai pihak sangat dibutuhkan, seperti pemerintah, fasilitas kesehatan, penyedia komputasi awan, IoT, dan infrastruktur, serta masyarakat. Selain itu, dalam gagasan kami, PRISMA perlu melewati berbagai tahap implementasi, yaitu persiapan, pilot project, dan pelaksanaan secara nasional.

Oleh karena dosen pembimbing kami merupakan seseorang yang memiliki latar belakang medis dan pendidikan profesional di bidang informatika kesehatan, kami mendapatkan banyak ilmu tentang perkembangan sistem informasi kesehatan di Indonesia yang sangat membantu dalam menulis gagasan tersebut.

Berminggu-minggu kami habiskan untuk menulis proposal gagasan tertulis kami. Di saat teman-teman kami sudah mulai berada dalam animo persiapan H-2 minggu ujian blok, kami masih berkutat dengan proposal yang dalam waktu dekat sudah harus dikumpulkan. Dari awal, kami sadar bahwa kami akan mengorbankan banyak hal jika memutuskan untuk mengikuti kegiatan PKM ini, salah satunya adalah waktu. Namun, kembali ke tujuan awal, bahwa kami ingin memanfaatkan ilmu yang sedang dan telah kami peroleh, yaitu ilmu kedokteran, dengan menciptakan sebuah gagasan pelayanan kesehatan masa depan.

Menjadi finalis

Beberapa bulan kemudian, tepatnya  Juli 2020, tim kami menerima informasi bahwa proposal karya tulis kami mendapat insentif sebesar Rp3.000.000 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kami tidak menyangka proposal kami akan sampai tahap itu.

Selang beberapa waktu kemudian, daftar tim yang berhak maju ke Pimnas atau babak final diumumkan. Puji syukur, tim kami berada di daftar tersebut. Tentu, kami sangat senang karena diberikan kesempatan untuk  mempresentasikan gagasan kami dalam skala nasional.

Banyak hal yang perlu siapkan dengan matang karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah diberikan. Luaran yang harus kami persiapkan untuk maju ke babak final adalah poster dan slide presentasi. Kami berusaha semaksimal mungkin menyiiapkan kedua hal tersebut. Kami mendapatkan banyak kesempatan untuk pembimbingan secara intensif baik dari fakultas maupun universitas. Untuk poster, kami mendapatkan pelatihan membuat poster karya ilmiah futuristik yang menarik, mudah dibaca, dan dapat dipahami masyarakat umum.

Tentu saja proses yang kami lalui untuk memberikan hasil yang terbaik tidaklah mudah. Selain bimbingan intensif dari pihak fakultas dan universitas, kami juga belajar materi, berdiskusi, dan berlatih untuk melakukan presentasi yang baik dan dapat menjawab pertanyaan dari dewan secara tepat. Kami terus me-review tulisan kami secara berulang-ulang, memahami kembali topik yang dibahas, dan menemukan variasi pertanyaan yang sekiranya nanti dapat ditanyakan oleh dewan penilai.

Babak final presentasi karya ilmiah diselenggarakan mulai 26 November 2020 secara daring. Pada hari H kami mendapatkan undian sesi pertama. Tentu saja kami gugup. Namun, harus tetap tenang agar perasaan gugup  tidak mengacaukan pikiran kami. Puji syukur, beberapa pertanyaan dari dewan penilai sesuai dengan prediksi kami saat berlatih mandiri secara intensif. Ratusan menit berlalu hingga sesi pertama presentasi peserta babak final selesai. Kami sudah memberikan penampilan yang terbaik dan berharap mendapatkan hasil yang sebanding.

Medali emas

Medali Emas yang diberikan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Ke-33 tahun 2020

Dua hari setelah presentasi, pihak penyelenggara mengumumkan mereka yang berhak mendapatkan penghargaan. Terdapat dua kategori penghargaan dalam PKM-GT, yaitu penghargaan kategori poster dan presentasi. Masing-masing kategori terdapat penghargaan setara emas, perak, dan perunggu. Jadi, total pemenang yang berhak mendapatkan penghargaan dalam bidang PKM-GT adalah enam tim. Kategori tersebut juga berlaku untuk bidang PKM lain, yakni PKM-PE (Penelitian), PKM-M (Pengabdian kepada Masyarakat), PKM-K (Kewirausahaan), PKM-T (Teknologi), PKM-KC (Karsa Cipta), dan PKM-AI (Artikel Ilmiah).

Detik-detik sebelum diumumkan, sejujurnya kami merasa sedikit pesimis karena melihat hasil luaran teman-teman dari tim lain yang juga sangat luar biasa. Awalnya kami berpikir bahwa setidaknya kami bisa meraih penghargaan setara perunggu atau perak untuk poster dan presentasi kami. Namun, saat penerimaan penghargaan PKM-GT kategori poster diumumkan, kami tidak mendengar nama kami sama sekali.

Baiklah, mungkin ada kesempatan untuk kami di bagian presentasi. Hingga detik diumumkannya penghargaan perunggu dan perak, nama kami belum juga disebutkan. Mendapat emas? Hmmm perkiraan kami tidak sejauh itu walaupun kami sudah berusaha semaksimal mungkin.

Akhirnya, benar kami mendapatkan penghargaan setara emas pada kategori presentasi! Kami tidak menyangka memenangkan medali emas pada luaran presentasi. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada dosen pendamping dan pembina, serta kerja keras tim kami sepanjang perjalanan PKM sejak tahun 2019. Kesempatan itu memberikan banyak  pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang hidup.

Sebagai tambahan informasi, tim kami hanya menulis sebuah gagasan atau ide sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di negara ini. Apa yang kami gagas atau tulis belum kami implementasikan secara nyata. Harapan kami ke depan,  gagasan tertulis kami dapat dikembangkan sebagai inovasi pelayanan kesehatan Indonesia di masa depan dengan bantuan berbagai pihak yang terkait.

Bidhari Hafizhah, mahasiswi Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta