HIMMCOMM Mengajak Milenial Mengenal Seni Budaya

0
319

Tahun 2020 menjadi waktu yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 mengharuskan semua aktivitas kampus dilakukan secara online atau daring. HIMMCOMM Binus University pun merayakan ulang tahunnya yang ke-12 dengan konsep Charity Music Concert melalui platform streaming, loket.com. Meskipun daring namun tidak mengurangi semangat para mahasiswa untuk memeriahkan acara tersebut.

HIMMCOMM 12th Anniversary bertajuk “Aging Through Action: Synthesize the Diversity” yang mengangkat tema “Fusion of Art and Heritage” bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan antusiasme generasi muda dalam memahami seni tradisional di Indonesia. Selain itu, memotivasi mereka untuk menciptakan karya-karya terbaik melalui perpaduan seni tradisional dan modern.

Untuk memperluas kesadaran generasi muda tentang hal tersebut, HIMMCOMM membuat kampanye #BudayaDanAkulturasi di akun Instagram @himmcommbinus  untuk mengedukasi masyarakat tentang berbagai budaya di Indonesia dan pentingnya melestarikan budaya tersebut. Kampanye tersebut berhasil yang terlihat dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 450 peserta dari 10 universitas.

HIMMCOMM bekerja sama dengan platform Benih Baik melakukan penggalangan dana untuk membantu Sanggar Ruang Condet yang terkena dampak pandemi korona agar dapat melaksanakan aktivitasnya kembali. Sanggar Ruang Condet adalah sebuah komunitas seni budaya yang berdiri tahun 2007. Sanggar tersebut menjadi wadah untuk berbagai generasi yang memiliki minat pada pentas Lenong Betawi, seni musik, teater, dan film. Donasi yang terkumpul dari penggalangan dana mencapai lebih dari Rp 6 juta.

HIMMCOMM juga menggelar pre event berbentuk live marching melalui Instagram live dengan menghadirkan beberapa narasumber di hari yang berbeda. Penonton yang menyimak pre event sangat antusias terlihat dari penonton yang berinteraksi dengan narasumber melalui kolom chat di instagram live dengan mengajukan pertanyaan.

Pembicara pertama di acara itu Bhatara Saverigadi Dewandoro yang menjadi Art Director SWARGALOKA. Ia membahas tentang pelestarian seni budaya yang telah diwariskan kepada generasi muda di zaman modern. Visi SWARGALOKA Art yaitu “hidup dan menghidupi seni tradisi” yang menurut Bhatara, generasi muda tidak perlu takut untuk menjadi seorang seniman karena dari seni kita bisa hidup dan bisa menghidupi seni itu sendiri. Maka tugas generasi muda adalah harus pandai mengembangkan seni musik dengan ide-ide kreatifnya.

Pembicara kedua, Siti Nadia, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Binus University yang membahas tentang seni budaya Indonesia dari perspektif komunikasi. Siti mengatakan, seni budaya tradisional dan modern dapat digabungkan dengan inovasi dan kemauan yang kuat. Untuk menggabungkan dua budaya itu memang tidak mudah tetapi sangat memungkinkan. Untuk melakukannya butuh riset mendalam tentang kebudayaan di Indonesia agar mudah untuk mendapatkan inovasi.

di era digital seperti sekarang ini masyarakat mulai meninggalkan musik tradisional karena sudah dipengaruhi oleh musik modern.

 

Lalu ada Rahmania Astrini, musisi dan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Binus University. Ia membahas tentang penggabungan musik tradisional dengan musik modern. Pemilik lagu Runaway itu menjelaskan bahwa di era digital seperti sekarang ini masyarakat mulai meninggalkan musik tradisional karena sudah dipengaruhi oleh musik modern.

Namun sudah banyak pula musisi yang menciptakan lagu dengan kolaborasi musik tradisional dan modern. Seperti almarhum Didi Kempot yang musik dan liriknya berpengaruh untuk mengenalkan musik tradisional. Selain itu juga Lathi dengan lagunya yang berjudul Weird Jenius dengan konsep IDM (intelligent dance music) yang tidak hanya menggunakan alat musik Jawa namun juga menggunakan lirik bahasa Jawa menjadi implementasi nyata dari penggabungan musik tradisional dan modern.

Nara sumber berikutnya,  Dhea Seto yang merupakan pelaku seni tari dan seni peran, membahas tentang peran generasi muda dalam mempertahankan kelestarian budaya. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan pakaian lokal seperti batik dan menjadikan itu sebagai identitas diri untuk diperkenalkan kepada masyarakat lain.

Sementara Deodato M, dari bagian marketing di Komunitas Anak Negeri, membahas tentang pengembangan seni musik dalam pelestarian budaya Indonesia. Komunitas ini berdiri sejak tahun 2014 sebagai sekolah musik yang menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung siswanya mempelajari musik mulai dari segi kurikulum, instruktur, hingga pelatihan.

Untuk mengembangkan seni musik sejak tahun 2017-2019 mereka membuat konser orkestra di sebuah mal untuk mengenalkan eksistensi orkestra ditengah masyarakat. Konser ini mendapat apresiasi dari masyarakat terlihat saat menyaksikan orkestra para penonton sangat antusias.

Live Streaming melalui Loket.com

Setelah beberapa hari melakukan pre event sekaligus menyebarluaskan acara ini. HIMMCOMM mengadakan puncak perayaan ulang tahun pada tanggal 22 Desember 2020 lalu. Acara itu dipandu oleh Ridho Adiono dan Fiana Anindita, keduanya alumni Binus University yang saat ini bekerja di Binus TV. Ridho Adhiono bekerja di bagian Produksi Binus TV, sementara Fiana Anindita di bagian News Binus TV.

Acara diawali oleh penampilan Paramabira, UKM paduan suara Binus University. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari Kita Anak Negeri yang membawakan lagu-lagu daerah, Belantara Budaya Indonesia yang menampilkan tarian tradisional. Membuat penonton semakin menunggu-nunggu penampilan selanjutnya karena sejak awal sudah disajikan penampilan yang membangkitkan semangat dengan lagu-lagu dan tarian daerah.

Bintang tamu yang tidak kalah menarik juga hadir melengkapi yaitu Isyana Saravati, ia membawakan beberapa judul lagu diantaranya Lexicon, Sikap Duniawi, Mad, Pendekar Cahaya, Ragu Semesta, Lagu Malam Hari, dan Untuk Hati yang Terluka ditemani dengan pianonya yang membuat penonton semakin terpukau. Ia juga berkolaborasi dengan Gaspar Araja, si pemain sasando yang menggabungkan musik modern dengan alat musik tradisional. Suara emas Isyana Saravasti menutup kemeriahan di penghujung acara.

Walaupun hanya dapat disaksikan melalui virtual, beberapa penampilan sebelumnya membuat penonton merasa bangga karena melihat penampilan yang diiringi dengan musik tradisional dan modern. Terlihat banyaknya apresiasi yang diberikan melalui kolom komentar di live streaming. Selain itu juga banyak penonton yang mengabadikan beberapa penampilan melalui instastory sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun untuk HIMMCOMM.

Adanya event ini membuat generasi muda khususnya mahasiswa semakin mengenal budaya yang ada di Indonesia. Tentunya juga meningkatkan rasa ingin tahu terhadap seni tradisional dan menumbuhkan kesadaran untuk bersedia mengambil peran dalam mempertahankan eksistensi seni budaya Indonesia.

Fanny Aghnia, mahasiswa Jurusan Mass Communication Binus University, Jakarta