Efektifkah Seminar Kesehatan Secara Daring ?

0
131

Pada era modern ini, kita pasti sudah familier dengan kata seminar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seminar merupakan pertemuan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli, seperti guru besar, pakar, dan sebagainya. Seminar biasanya diadakan oleh suatu kelompok atau organisasi untuk membicarakan suatu topik, mulai dari topik kesehatan, sosial, budaya, politik, akademik, dan lainnya.

Umumnya, seminar diadakan secara tatap muka antara para audiens dengan pemateri. Namun, pada masa pandemi ini, kita diharuskan untuk berjaga jarak dan menghindari perkumpulan sehingga banyak seminar yang mau tidak mau dilakukan secara online atau  daring.

Di Universitias Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, mahasiswa semester tujuh diwajibkan mengikuti mata kuliah seminar profesi. Di matkul itu, akan ada seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa dari berbagai peminatan, di antaranya promosi kesehatan, K3, dan kesehatan lingkungan.  Setiap peminatan diharuskan untuk membuat seminar dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah, memberikan informasi terkait topik yang akan dibicarakan serta advokasi ke pemerintah terkait.

Namun, seminar tahunan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka kini harus diadakan secara online. Hal itu merupakan pengalaman baru dan tantangan bagi para penyelenggara seminar. Keefektifan seminar secara daring pun dipertanyakan. “Jujur, sebenarnya seminar daring seperti ini kurang efektif, tapi selagi masyarakatnya ada kemauan buat belajar, insya Allah bakal efektif juga,” ujar Amelia Lutfi Fauziah, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat 2017, peminatan Kesehatan Lingkungan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Cuplikan seminar promosi kesehatan dengan tema “Strategi Promosi Kesehatan dalam Memerangi Misinformasi Covid-19 di Era 4.0” yang diselenggarakan pada tanggal 17 November 2020 oleh @semprofpromkes_uinjkt

Seminar yang diadakan secara online biasanya dilakukan melalui aplikasi Zoom atau Google Meet. Para penyelenggara dan orang-orang yang berpartisipasi mempromosikan seminar melalui poster atau pamflet yang dibagikan di sosial media, seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan sebagainya. Walau dilakukan secara daring, masih banyak orang yang berminat untuk mengikuti seminar, entah karena mereka memiliki banyak waktu luang di rumah, ingin menambah wawasan, atau hanya sekedar mengincar hadiah atau doorprize dalam seminar itu. Umumnya, tujuan seminar adalah untuk memberikan informasi, mengedukasi, menambah relasi, dan juga menambah pengalaman.

Setelah mengikuti seminar, audiens diharapkan lebih mengerti mengenai topik yang dibahas. Itulah yang menjadi harapan Ria Diani, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat, peminatan Promosi Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia menjadi penyelenggara seminar Promosi Kesehatan dengan tema “Strategi Promosi Kesehatan dalam Memerangi Misinformasi Covid-19 di Era 4.0”.

“Harapanku semoga audiens lebih paham mengenai misinformasi dan lebih bijak dalam menghadapi misinformasi biar enggak nyebarin informasi atau berita yang tidak benar,” tuturnya. Apalagi, tambah Ria, informasi tentang kesehatan yang beredar sering tidak jelas sehingga malah menyesatkan masyarakat. Harapan sama disampaikan Amelia Lutfi Fauziah. “Semoga audiens khususnya masyarakat bisa mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat dari seminar,” katanya.

Seminar memang seperti gudang ilmu yang bisa kita dapatkan dengan mudah. Terlepas dari seminar online atau tatap muka, selalu saja ada ilmu atau pesan yang dapat kita petik dan terapkan dalam kehidupan. Apabila kalian memiliki waktu luang di rumah, ada baiknya diisi dengan hal-hal bermanfaat seperti seminar. Selain mendapat ilmu, kalian juga bisa memperluas relasi. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo daftarkan dirimu ke seminar-seminar mendatang!

Dhiva Salsabila, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta