Luka, Setelah Duka.

0
48

Malam yang gelap, di sebuah rumah yang jauh dari kata “tenang”. Ia kembali terduduk diam, memeluk kedua kakinya dan berusaha sekuat tenaga menahan semua kesakitan yang lagi-lagi ia rasakan. Lagi-lagi ia dengar apa yang selama ini menjadi luka terbesar dalam hidupnya yang tak pernah ingin ia dengar.

Hal yang selalu ingin ia hindari, bahkan ingin ia tinggalkan. Sudah lama lukanya menganga, sejak lima tahun yang lalu awal pertama kali ia tahu segalanya. Dan secara perlahan semua mulai merubah hidupnya.

***

Ralline tersadar dari lamunannya karena dikejutkan oleh suara pak Rei yang memanggil namanya lalu sontak membuatnya kaget saat absen sebelum kelas berakhir. Dengan jantung berdegup kencang, iya pun menjawab “hadir pak” sambil mengangkat tangan kanannya.

Kini ia sedang berada dalam kelasnya, di mata kuliah radio and television editing. Ya, kini Ralline tengah berkuliah di salah satu perguruan swasta di daerah Jakarta barat. Ralline mengambil jurusan masscomm atau yang dikenal dengan jurusan komunikasi massa yang kini sudah mulai menginjak semester enam.

Saat keluar dari kelas, Jollie segera menarik Ralline dan membawanya ke toilet. Jollie pun menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.

“Lo kenapa sih, aneh banget deh. Jadi kaya orang bingung gitu loh. Lo lagi ada masalah? Plis deh Ral, gue kan selalu bilang sama lo, kalo ada apa apa tuh cerita sama gue, biar gue ngga bingung, dan biar gue juga tau lo kenapa. Kalo lo Cuma diem kaya gini kan gue jadi”

“Plis deh jo, bisa ngga lo diem dulu. Diem satu menit aja. gue makin pusing tahu gak denger lo ngoceh kaya gitu”

“iya gue minta maaf ral, abisnya lo bener bener aneh. Kan gue jadi takut lo kenapa kenapa”

“Gue ga kenapa kenapa, gue baik baik aja. puas lo?” jawab Ralline sambil berjalan keluar dari Toilet dan dikejar oleh Jollie,

“Tapi gue ga yakin kalo lo baik baik aja. plis ral, kenapasih lo selalu aja”

Ralline pun diam, dan membalik tubuhnya menghadap Jollie

“Lo mau diem ga? Atau gue sumpel mulut lo ya jo”

“Okey. Sorry yaa ral, gue diem deh. Jadi sekarang lo mau kemana?”

“Mau ke kosan, ngantuk gue mau tidur. Nanti sore jam 4 gue harus ketemu sama kajur buat bahas masalah anak maba taun depan. Mau ikut gue lo?

“yaiyalah ral, lo gila kali yam au kerjain itu semua sendiri. Yuk gue ikut lo. Ikut kekosan lo dulu juga ya hehe. Mau tidur juga”

Ralline dan Jollie pun bergegas menuju kosan Ralline yang berada tepat di samping kampus mereka. Mereka pun segera berisitirahat. Dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, Ralline pun membangunkan Jollie untuk bersiap karena harus bertemu dengan kajur. Namun karena rasa kantuk yang teramat sangat, Jollie pun membatalkan niatnya untuk menemani Ralline untuk bertemu dengan kajur atau ketua juruasan.

“Sumpah deh ral, lain kali aja ya gue nemenin lo ketemu kajur. Janji deh. Dan plis, jangan usir gue, biarin gue disini dulu ya”

Ralline pun segera bersiap dan segera menuju kampusnya lagi untuk bertemu kajur. Lalu setelah bertemu dan berdiskusi mengenai kegiatan penerimaaan mahasiswa baru di tahun selanjutnya adalah Ralline terpilih sebagai koordinator untuk jurusannya, dan Jollie sebagai wakil koordinator. Akupun segera memberi tahu Jollie, dan Jollie pun menyetujui nya.

Satu bulan setelah hasil pertemuan itu, diadakanlah sebuah kegiatan pembekalan kepada seluruh koordinator tiap jurusan. Ralline dan Jollie serta rombongan lain pun berangkat menuju Puncak sekitar pukul 06 pagi dari kampus mereka. Di pembekalan itu, mereka mendapat banyak manfaat dan juga mendapat banyak teman baru. Setelah menghabiskan tiga hari dua malam, kami pun kembali ke Jakarta.

Lalu dua bulan setelah pembekalan itu mereka pun memulai tugasnya menjadi pengawas dan juga pembimbing para mahasiswa baru di kampusnya. Banyak hal yang mereka temukan dan mereka lalui. Setelah semua tugas selesai dilaksanakan, Jollie dan anggota yang lain bisa bernafas lega, namun tidak dengan Ralline, karena sejak itulah, ia menemukan cinta. Cinta yang ia yakini mampu menghapus seluruh lukanya.

***

Perkenalkan, namanya Refal. Laki-laki yang telah berhasil memenangkan hati Ralline. Hati yang tak pernah lagi terbuka sejak lima tahun lalu. Refal adalah seorang mahasiswa yang tampan, baik dan juga aktif di kampusnya. Awal kisah cinta Refal dan Ralline pun dapat dibilang indah.

Awal perkenalan mereka berdua adalah saat Ralline ditugaskan menjadi sebuah komandan barikade acara penyambutan tamu di kampus mereka, dan Refal merupakan salah satu anggota barikade tersebut. Acara sudah akan dimulai dan Ralline pun terlihat panik karena ia lupa dimana ia meletakkan tongkat pertanda pembukaan barikade.

Akhirnya dengan susah payah ia pun mencarinya dan ternyata berada di toilet dimana ia berganti baju tadi. Lalu ia pun berlari memasuki auditorium kampusnya, tanpa sadar ia pun tersandung namun ia tidak jatuh karena tubuhnya ditahan dan dibantu untuk kembali berdiri tegak oleh seorang laki-laki salah satu anggota Barikade yang ia pimpin, dan ya, itu adalah Refal.

“Lain kali hati-hati ya, kalo lo jatoh, bukan Cuma sakit yang lo rasain, tapi lo juga bakalan malu banget” ujar Refal.

“Ohh iyaa, makasih ya” jawab Ralline gugup dan sambil berlalu dengan terburu-buru.

Saat Ralline pergi, Refal pun melihat cincin milik Ralline jatuh. Ia mengambilnya dan berniat untuk mengembalikannya setelah tugasnya kali ini selesai. Setelah acara penerimaan tamu di kampusnya selesai, Refal pun mencari Ralline. Refal pun menunggu di depan auditorium menunggu Ralline kembali melintas dan mengembalikan cincinnya.

“Ralline, sorry tadi gue nemuin ini” sambil mengacungkan cincin yang ia temukan tadi ke arah Ralline.

“Ohh yaampun, sorry banget jadi ngerepotin lo. Tapi, thank you banget juga ya lo udah nemuin cincin gue. Gue emang suka teledor banget dan ngga sadar kalo udah panik kaya tadi. Thank you banget yaa” ucap Ralline karena bahagia.

“Iyaa gapapa, santai aja. gue malah seneng bisa balikin cincin lo ini ke lo”

“Hahaha, iyaa thankyou banget ya. Eh wait, gue gatau nama lo sama sekali, kenalan dulu ya, gue Ralline” sambil mengulurkan tangannya kea rah Refal

“Gue Refal” sambil membalas uluran tangan Ralline

“Gue anak Masscomm 2021” ujar Ralline

“Ohh, iya gue tau. Kemaren sempet ada yang mention dan gue denger. Gue anak IT 2020”

“Waw keren banget, sebentar lagi lulus dong ya. Semangat terus ya fal!”

“Apa kerennya hahaha, lo juga ya semangat. Santai aja dan gausah panik-panik kaya tadi”

Sambil menahan malu Ralline pun berpamitan pada Refal karena Jollie sudah menunggunya di perpustakaan.

“Haha okey Fal. Eh tapi gue pamit duluan ya. Gue masih ada urusan lain. Next nya kita ngobrol lagi ya. Thank you banget ya fal! See u”

Sambil berlalu Ralline melambaikan tangannya pada Refal, Refal Pun membalas dengan sedikit senyum di wajah tampannya. Tanpa sadar, hati Ralline dan Refal pun menghangat.

Sejak saat itulah mereka semakin sering bertemu bahkan jalan bersama. Tak Jarang Ralline pun menemani dan membantu Refal mengerjakan tugas skripsinya. Merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang sudah lama tak pernah ia rasakan, Ralline pun meyakinkan hatinya bahwa Refal adalah orang yang tepat untuk dirinya.

Refal pun menyatakan cintanya pada Ralline tanpa takut dan penuh keyakinan. Ralline pun menerimanya tanpa ragu. Jollie yang mengetahui kabar bahagia ini pun turut bahagia. Namun Jollie mengingatkan Ralline untuk berubah dan tidak lagi menjadi pribadi yang tertutup.

“Ral, gimanapun juga, Refal harus tau cerita tentang keluarga lo. Seengganya dia akan tau harus gimana ketika lo lagi down dan butuh dia”

Ralline pun berfikir bahwa ucapan sahabatnya kali ini tidak salah. Ia harus menceritakan dan membagi kesedihan nya pada Refal. Agar Refal tau, akan ada saat dimana Ralline butuh waktu untuk menenangkan dirinya, sendirian. Ralline pun mengirim pesan singkat pada Refal.

Ralline :

Ref, pulang kampus mampir ke Gelatto dulu yuk. Aku lagi stres banget dan butuh salted oreo  Caramelnya kaya biasa. Mau ya plis?

Refal :

Boleh banget. Kasih tau aku kamu selesai kelas jam berapa. Nanti aku jemput selesai aku ketemu sama Miss Monica ya.

Ralline :

Makasih banyak. Aku selesai jam 5 hari ini. Semangat sayang.

Refal :

Okey, harusnya aku selesai sebelum jam 5. U too dear!

Perasaannya menghangat, ia pun bergegas menuju kelas selanjutnya.

Waktu menunjukan pukul 16.45, waktunya absen sebelum kelas berakhir. sambil menunggu absen, Ralline pun mencolek Jollie dan memberi tahu Jollie bahwa ia akan menceritakan semuanya sore ini pada Refal.

“Joll, gue mau ceritain semuanya sore ini. Terlalu cepet ngga ya?”

“Hahaha. Ya engga lah. Kan gue udah nyuruh lo dari kapan tau. Lo aja yang masih ngeyel mau keep semuanya sendiri”

“iya kan gue juga harus yakin dulu Joll, emangnya gue elo yang bisa gonta-ganti pacar kaya gonta-ganti baju. Hahaha”

“Eh lo jangan kurang ajar lo ya, emang lo pikir..”

Tanpa sadar nama Jollie pun dipanggil berkali-kali. Mereka tidak mendengar karena asyik mengobrol. Jollie pun berteriak

“Pak hadir Pak, maaf pak saya ngga denger”

“Kebiasaan kau ni Joll, kebanyakan cakap kau ini ya”

“Hehe iya maaf ya pak”

Ralline pun sontak tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya yang tidak terima jika Dosen memarahinya. Waktu pun menunjukan pukul 16.55 dan kelasnya pun berakhir. bergegas Ralline keluar kelas dan menuju ke bawah. Namun Jollie menahannya.

“Egga bisa ya pamit dulu sama gue? Ngomong apa kek. Ini main nyelonong aja”

“Hehe, ohh iya. Sorry banget Joll, gue buru-buru. Lo balik sama anton kan hari ini? Yaudah ya, hati-hati Jollieku tersayang. Muah. Byeee”

Sambil menggelengkan kepala, Jollie tak lagi heran dengan tingkah sahabatnya. Ia pun bergegas pulang juga sebelum hari semakin sore.

Ralline pun menemui Refal di Basement karena Refal sudah menunggunya.

“Hai maaf ya agak lama”

“It’s okey babe, yuk langsung aja”

Mereka pun bergegas menuju kafe kesayangan mereka berdua di daerah Jakarta Selatan. Sesampainya di sana, Ralline memesan ice cream kesukaannya dan Refal memesan Kopi kesukaannya. Setelah menunggu pesanannya datang, pesanan mereka akhirnya pun datang.

“Ref, sebenernya aku mau cerita sesuatu”

“Boleh dong, mau cerita apa?”

“Aku agak bingung sebenernya mau mulai darimana”

“Yau dah coba pelan-pelan ya”

Dan tanpa Ralline sadari, semua cerita dan semua kesedihannya mengalir begitu saja.

Lima tahun lalu, adalah awal aku mengetahui semuanya. Awal aku menyadari bahwa semua yang berada dihidupku adalah palsu. Ayah dan ibuku  yang selalu terlihat harmonis dan bahagia ternyata hanyalah tipu belaka di hadapanku. Saat pulang sekolah dulu, ketika aku ingin memasuki rumah, terdengar suara pertengkaran ayah dan ibuku.

Yang kudengar kala itu adalah ibuku meneriaki ayahku yang telah menghadirkan wanita lain dalam hidup kami. Lalu ayahku pun memohon maaf pada ibuku. Namun entah seperti apa rasa sakit yang ibuku rasakan, ibuku hanya bisa menangis tanpa mengatakan apapun lagi.

Ibuku hanya ingin anak anaknya bahagia, dan hidup dalam keluarga yang sebagaimana mestinya. Seiring berjalannya waktu, ternyata perkelahian itu tetap terus ada. Namun ayah dan ibuku tidak menyadari bahwa aku tahu segalanya.

Sambil menggenggam tangan Ralline, Refal memahami bagaimana sakitnya Ralline selama ini menyimpan semuanya sendiri.

“Hei, tenang ya. Everything’s gonna be okey. I’m sorry to hear that. Tapi kamu tenang ya, aku akan selalu temenin kamu dan selalu support kamu gimanapun keadaannya. Ngga akan ngerubah respek aku ke ayah dan ibu” Sambil menahan tangis, Ralline percaya dan menggenggam erat tangan Refal.

Tanpa terasa hubungan Ralline dan Refal sudah menginjak tahun ke empat. Dan mereka pun kini bekerja di tempat mereka masing-masing. Dan semenjak pertengahan tahun ke-empat hubungan mereka, Ralline mulai merasakan perubahan pada Refal. Refal mulai sulit jarang dihubungi bahkan sulit ditemui.

Akhirnya Ralline pun memutuskan untuk menemui Refal dikantornya saat jam makan siang. Dengan langkah pasti dan membawakan Refal makanan kesukaannya. Saat memasuki lobby kantornya, ia melihat Refal menggandeng perempuan lain. Berambut coklat tergerai dan menggunakan Rok hijau yang dipadukan dengan blazer hitam.

Sontak  langkah Ralline pun terhenti. Makanan yang digenggamnya pun jatuh berantakan. Refal menyadari adanya kehadiran Ralline di sana. Tanpa menunggu lama, Ralline pun pergi sambil menahan tangisnya. Sesampainya Ralline di mobil, ia menangis tersedu-sedu dan tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ralline pun segera pergi meninggalkan kantor Refal.

Ralline :

 Harusnya kamu bisa kasih tahu aku jauh dari sebelum hari ini aku tahu semuanya. Makasih buat semuanya ya Fal.

Refal :

Ral, aku bisa jelasin semuanya. Maafin aku.

Ralline :

Aku udah selalu maafin kamu, fal. Mungkin emang semua ini karena ada hal yang salah dari aku, sampe kamu ga bisa lagi jaga semuanya. Udah ya, makasih sekali lagi. Aku juga yang harus minta maaf sama kamu

Refal :

Ngga kaya gitu Ral, plis aku mohon jangan kayaa gini.

Ral

Ral plis jawab aku.

Dan masih banyak lagi pesan yang dikirimkan Refal untuk Ralline. Namun tekad Ralline sudah bulat. Rasa sakit yang selama ini Ralline yakini bisa sembuh, ternyata malah semakin menjadi-jadi. Jollie yang mengetahui hal itu pun geram. Hingga akhirnya ia membantu Ralline mencari dan mengejar bahagianya. Jollie pun mendatangi rumah Ralline.

“Ya udah Ral, langsung aja tentuin mau kemana dan berangkat kapan. Lo juga dapet rekomendasi kantor lo buat ngisi kantor cabangnya yang di Singapure kan? Kenapa ngga lo ambil? Kan jauh juga dari sini. Gue janji deh bakal main-main kesana”

“Niat gue juga gitu Jol, Cuma kan ya emang banyak yang harus gue urus. Gue juga belum izin sama ibu dan ayah gue”

“Ya udah cepetan gih izin, dan lo urus semuanya. Kalo butuh bantuan gue bilang. Jangan kesusahan sendiri”

“Tenang aja Jol, makasih banyak ya”

“Sama-sama Ral, semangat ya”

Seminggu kemudian, seluruh keperluan Ralline pun sudah selesai diurus. Ralline pun sudah mengantongi izin dari kedua orang tuanya. Ia akan berangkat menuju Singapure pukul 16.30 sore ini. Jollie pun dengan sigap menemani dan mengantarnya menuju bandara. Setelah semua siap, mereka pun sampai di bandara, waktu menunjukan pukul 14.30.

“Gue check in dulu ya Jol”

“Iya Ral, gue beliin kopi sama cemilan ya buat lo di pesawat nanti”

“Thanyou jol” sambil menganggukan kepalanya dan memberikan sedikit senyum di wajahnya.

Setelah check in, Ralline mendatangi Jollie.

“Thankyou banget ya Jol, maaf gue selalu repotin elo”

“ngomong apasih Ral, yang ada gue yang selalu repotin elo. Lo yang selalu sabar ngehadepin gue”

“udah ah malah jadi repot-repotan hahaha”

“Ral, gue yakin lo kuat dan tegar banget. Gue tau itu, tapi gue mohon banget sama lo, kalo lo kenapa-kenapa disana, kabarin gue. Gue ngerasa udah gagal gitu loh selama ini jadi sahabat lo”

“Jol, tenang aja ya. Dan lo nggak gagal sama sekali. Bahkan lo udah hebat banget ngeprotect gue yang lemah ini. Hahaha”

Panggilan untuk pesawat Ralline pun terdengar. Ralline pun berpamitan pada Jollie. Dan memeluknya dengan erat

“Makasih ya Jol” sambil menahan tangis memeluk Jollie

“Sama-Sama Ral, sehat-sehat ya disana. Gue janji bakalan sering main kesana”

Sambil mengangguk dan melepas pelukan Ralline pada Jollie, Ralline melangkah menuju kedalam dan meninggalkan Ralline. Sejak hari itu, Ralline yakin hidupnya akan bahagia, hidupnya akan berubah karena ia  telah berani beranjak pergi meninggalkan seluruh lukanya.

***

Ralline memberanikan dirinya untuk membuka lagi lembaran baru dalam hidupnya. Menghapus dan membuang seluruh ingatan kelam di masa lalunya. Kini ia berada ditengah pusat kota dengan kesuksesannya. Kini ia bahagia, melihat hidupnya kini yang penuh cerita bahagia. Mulai melupakan, menghapus, dan memaafkan kisah kelamnya dulu. Ralline yakin, semua kesakitannya dulu akan terhapus dan berganti menjadi sebuah kebahagiaan tiada tara.

Nadasyifa Aulia-