Menakar Masa Depan Bioskop di Indonesia

0
71

Beberapa tahun terakhir, gairah nonton bioskop orang Indonesia lagi tinggi-tingginya. Sering kejadian film belum tayang, tapi tiketnya sudah ludes. Gairah yang sedang memuncak, disapih pandemi yang memaksa seluruh layar lebar di tanah air ditutup.

Film beken Hollywood seperti Fast & Furious 9, Black Widow, dan Mulan gagal tayang. Ditambah film Indonesia yang sudah siap tayang seperti KKN Desa Penari, Bucin, dan Tersanjung the Movie. Padahal pemutaran saat masa liburan berpotensi meraup untung berlipat.

Belum ada waktu pasti kapan layar lebar bisa beroperasi kembali. Bioskop dinilai memenuhi syarat sebagai sarana penyebaran Covid-19.

Studio yang biasanya dipenuhi manusia haus hiburan disulap menjadi gudang  penyimpanan kursi. Layar yang menjadi sumber hiburan, sekarang fungsinya menyerupai papan reklame polos.

Pengusaha bioskop pasti melakukan penyesuaian. Menerapkan protokol kesehatan. Enggak mungkin bisa duduk berdekatan seperti sebelumnya. Standar untuk menghilangkan kejorokan masyarakat meningkat. Permen karet di kursi enggak bisa ditolerir lagi. Satu orang batuk, bisa bubarin satu studio.

Di sisi lain, kita bisa nonton dengan khusyuk. Tanpa terganggu makhluk yang suka mengobrol. Terkadang suara mereka mengalahkan  dolby.

Selalu ada kesempatan disetiap kesempitan. Pandemi menjadi berkah bagi penyedia layanan streaming film. Mereka menawarkan hiburan alternatif selama pandemi. Salah satunya Netflix, yang mendapat 15,8 juta pelanggan baru.

Tren layar lebar beralih ke layar sempit. Dibalik kesempitan layar, ada kelebihan yang ditawarkan. Pengguna bisa fleksibel nonton dengan posisi apa saja. Dosis film per hari enggak dibatasi. Jadwal penayangan film bisa kamu atur sendiri.

Jika nonton film bisa semudah itu, eksistensi bioskop bisa terancam. Kebiasaan nonton selama karantina, bukan tidak mungkin berlanjut. Kalau sudah nyaman, enggak ada yang tahu.

Ditengah pertarungan sengit antara Bioskop dan streaming, muncul penantang dari masa lalu. Wacana nonton dari mobil ramai diperbincangkan. Menawarkan sensasi kembali ke tahun 1970an. Indonesia pernah menerapkan konsep ini di taman hiburan Ancol Jakarta Utara saat itu.

Penonton cukup duduk di mobil sambil membuka jendela. Menyaksikan pemutaran film dari kaca depan. Asal enggak hujan, kualitas tayangan jernih. Tetapi kondisi sekarang berbeda. Tingkat polusi Jakarta telah berkembang biak pesat. Berpengaruh terhadap suhu udara. Sudah tidak sebersahabat dulu.

Kalau jendela mobil dibuka, bakalan gerah. Kalau ditutup, harus pakai AC. Bisa dibayangkan, banyaknya polusi knalpot selama satu pemutaran film. Diperlukan riset penerapan yang cocok di Indonesia. Negara beriklim sedang atau dingin tidak bermasalah menyelenggarakan di luar ruangan. Beda dengan kondisi negara tropis.

Wacana ini sudah diselenggarakan di beberapa negara. Jerman, Korea Selatan, dan Turki diantaranya. Mereka meraup keuntungan lebih selama masa pandemi. Protokol kesehatan lebih mungkin diterapkan. Penonton sudah menjaga jarak dengan berdiam di mobil. Mengurangi kontak langsung dengan orang lain.

Kedepan, eksistensi bioskop sangat terancam. Bukan hanya terganjal kebijakan, tapi keselamatan diri mulai diperhatikan oleh kebanyakan orang. Hiburan alternatif memikat masyarakat dengan pesona terbaiknya.

Bioskop harus cepat beradaptasi dengan keadaan. Kalau tinggal diam, tempat penayangan film mainstream akan ketinggalan. Dengan kapasitas dan pengalaman selama puluhan tahun. Sudah semestinya bisa menyiapkan konsep yang relevan.

Bioskop online mungkin bisa menjadi pilihan. Film terbaru disaksikan secara real-time. Pemesanan tiket dan pemilihan jadwal dilakukan secara online seperti biasa. Kesempatan emas mengenalkan fitur booking online bagi pelanggan baru.

Ancaman yang paling menakutkan dari skema ini adalah pembajakan. Zaman secanggih sekarang, memudahkan pembajak merekam layar. Pesen satu tiket penayangan, lalu didistribusikan untuk ribuan orang di situs mereka.

Jika ancaman tersebut bisa dijawab, eksistensi bioskop Indonesia akan tetap bersaing. Menarik ditunggu, respon penyelenggara bioskop terkait kondisi sekarang. Apapun metodenya, saya yakin gairah nonton film masyarakat Indonesia akan tetap tinggi.

Alwin Jalliyani, mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran.