Waktu adalah Uang? Kita Kaya!

0
425

Dalam situasi pandemi seperti ini banyak sekali rintangan yang harus kita lewati. Kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita lebih banyak di rumah, membuat banyak orang jenuh. Banyak hal yang berubah, hingga langsung mempengaruhi kebiasaan hidup kita sehari-hari.

Sebagai anak muda, saya merasa tidak nyaman dan tersiksa dalam kondisi yang mengharuskan kita diam terus di rumah seperti sekarang ini.

Namun dengan kondisi ini, kita harus dapat mengisinya dengan hal-hal yang produktif. Salah satunya adalah membangun kebiasaan-kebiasaan baik, yang dapat kita teruskan setelah kondisi pulih kembali nanti. Kebiasaan-kebiasaan baru yang mungkin pada keadaan normal tidak kita lakukan karena alasan-alasan kita yang banyak itu. Sibuk, capek, malas dan seribu alasan lainnya.

Saya sendiri, selama lima minggu di rumah terus sudah mulai menjalankan beberapa kebiasaan baru, seperti olahraga lari setiap hari dan membaca buku-buku yang tidak sempat saya baca sebelumnya. Kebiasaan-kebiasaan baru ini justru membuat saya sadar banyak hal yang saya lewati selama ini dalam kehidupan normal saya.

Salah satunya adalah saya baru sadar bahwa membaca itu sangatlah asyik! Sebelumnya saya hanya menganggap membaca sebagai sebuah kewajiban dalam rangka menyelesaikan tugas sekolah. Sekarang, saya bahkan sudah menghabiskan tiga buku dari seri Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan mempelajari banyak hal yang saya tidak tahu sebelumnya.

Misalnya situasi di masa kolonial Belanda yang diceritakan oleh Pram dengan sangat detail dalam buku-bukunya. Saya baru tahu, di masa itu sistem hukum di Indonesia berbeda untuk tiga kelas masyarakat. Kelas pertama: orang Eropa, kelas kedua: orang Cina dan Jepang, kelas ketiga: pribumi. Hal ini merupakan pengetahuan baru bagi saya, tentang bagaimana diskriminasi terjadi dalam situasi kolonial.

Dalam situasi normal, saya jarang membaca buku atau berolahraga secara rutin. Saya tidak dapat melakukan semua ini karena sering kelelahan akibat jadwal kegiatan harian yang padat. Namun dengan situasi pandemi seperti sekarang ini, saya bersyukur dapat memulai kebiasaan-kebiasaan baik itu.

Selain itu saya juga mencoba beberapa hal baru, yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya seperti mempelajari bahasa latin. Ya, bahasa latin! Awalnya saya hanya mencoba untuk membuka di internet beberapa film-film mengenai Kekaisaran Romawi yang berbahasa latin, hingga akhirnya perlahan-lahan saya mulai mempelajarinya.

Untuk saat ini, saya masih mempelajarinya secara mandiri lewat saluran YouTube dan mempelajarinya dengan bantuan Google Translate saja. Walau begitu, saya menikmati proses pembelajaran mandiri ini dan memudahkan saya untuk menonton film-film berbahasa latin yang saya sukai. Salah satu film itu berjudul Embrace of the Serpent yang disutradarai oleh Ciro Guerra.

Menjahit

Saya juga mencoba belajar menjahit. Menjahit yang sederhana saja ya, bukan untuk menjadi penjahit profesional. Awalnya saya hanya membantu mama memperbaiki kantung celana yang berlubang. Saya belajar hal yang sangat sederhana seperti memasukkan benang  ke dalam lubang jarum, sampai akhirnya berhasil memasang emblem untuk seragam pramuka saya sendiri. Buat saya, itu prestasi, karena belum pernah saya lakukan seumur hidup saya.

Terpikir juga membuat tambalan baju atau tas yang koyak misalnya, dengan emblem kain yang saya suka. Saya sadar bahwa ini merupakan keterampilan yang akan sangat berguna bagi saya nantinya. Hal ini sempat membuat saya heran, kenapa menjahit identik dengan perempuan? Padahal laki-laki pun membutuhkan keterampilan ini. Kita tidak akan tahun kapan, tapi saya yakin mendapatkan keterampilan baru akan selalu berguna di masa depan.

Itu beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain? Menurut saya, sebagai anak muda tugas kita antara lain adalah menyebar semangat dan kebaikan. Kita dapat menggunakan media sosial kita sebaik-baiknya untuk tujuan itu. Misalnya untuk menyebarkan semangat menjadi produktif di rumah dan kesadaran menjaga kebersihan, agar pandemi ini cepat berlalu dan agar semua aspek kehidupan dapat pulih kembali.

Lalu yang penting juga, kita harus dapat menyaring hal-hal yang berbau provokatif ataupun berita-berita hoaks yang memang diproduksi untuk kepentingan tertentu yang dapat memancing kericuhan. Di saat banyak pihak berjibaku untuk menjaga kesehatan masyarakat, kita harus membantu. Berikan rasa aman, bukan kepanikan. Melalui media sosial, kita bangun hal-hal positif, bukan negatif. Ingat, stabilitas masyarakat juga akan berpengaruh besar pada pulihnya keadaan.

Ternyata banyak yang bisa kita lakukan saat berlimpah waktu di rumah. Waktu adalah uang kata orang. Artinya, saya saat ini sedang banyak sekali “uang”. Nah saya akan investasikan “uang” itu untuk waktu-waktu di masa yang akan datang. Masa depan! Saya yakin, banyak hal yang dapat kita semua pelajari saat ini. Banyak hal baru saat pandemi ini yang sangat menarik untuk kita gali dan pelajari.

Kita harus menunjukkan kedewasaan dan kemandirian kita. Jangan sampai kehilangan identitas sebagai anak muda yang inovatif dan positif. Tetap bersemangat, dan jangan malas. Saya percaya, pandemi Covid-19 ini bisa kita lewati bersama-sama dengan baik. Semangat!

Arigo Dasachandra Hizkia Herwindo, siswa SMA BPK Penabur Plus Bogor dan Magangers Kompas Muda Batch XI