Jakarta yang Sedang “Beristirahat”

0
97

Panas, polusi, macet, barangkali menjadi kata-kata yang melekat untuk Ibu Kota tercinta, siapa lagi jika bukan Jakarta. Pemandangan jalan yang ruwet dengan berbagai kepentingan orang-orang menjadi pemandangan biasa yang terlihat sehari-hari. Biasanya, Jalan Jendral  Sudirman ramai oleh pegawai kantoran yang bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore. Warga berdesakan di angkutan umum ketika rush hour sudah menjadi hal yang lumrah pula.

Pemberlakuan pembatasan sosial atau sosial distancing guna mengurangi penyebaran virus Covid-19 yang bermula di Wuhan, China menyebabkan pembatasan proses pembelajaran dan pemberlakuan kerja dari rumah atau biasa disebut work from home. Awalnya, aturan itu diberlakukan dalam jangka waktu 14 hari. Namun, Badan Nasional Penalanggulangan Bencana atau BNPB memperpanjang masa tersebut hingga 29 Mei 2020.

Tak terlihat dan bahaya, itulah korona. Virus ini mulai merebak di Indonesia sejak Maret 2019, setelah Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dua pasien positif corona. Korban infeksi virus itu terus berjatuhan. Sudah lebih dari 1.000 orang dirawat karena positif terinfeksi, dan lebih dari 600 orang meninggal dunia karena virus yang sama.

Sejak pemberlakuan pembatasan jarak sosial ada yang hilang dari Ibu Kota, yaitu keramaian. Protokol PSBB menutup tempat wisata, sekolah dan kantor diliburkan, hingga tidak boleh ada kerumunan lebih dari lima orang di ruang publik. Elemen yang membuat Jakarta ramai sudah berdiam di rumah. Berarti, penggunaan kendaran juga turut berkurang karena orang-orang tidak bepergian.

Lengangnya Ibu Kota, seakan memberi bumi rehat sejenak. Penggunaan kendaraan pribadi khususnya motor menjadi penyebab utama polusi Jakarta. Ini berarti, dengan adanya pembatasan sosial, penggunaan kendaraan pribadi khususnya motor berkurang dan berdampak kepada kualitas udara.

Sebelumnya, pada 2019 menurut IQAi.com, situs daring yang memberikan informasi mengenai kondisi udara di seluruh dunia menyatakan Jakarta diurutan pertama dengan kualitas udara terburuk se dunia. Jakarta memiliki angka US AQI (indeks kualitas udara yang merujuk WHO) mencapai 183.

Kondisi langit di kawasan Monumen Nasional  Jakarta yang penuh polusi dilihat dari lantai paling atas Perpustakaan Nasional RI pada 20 Juni 2019. Foto : Dokumentasi Nabilah Muhamad

Membaik

Rupanya, sejak maret lalu kualitas udara di Jakarta berangsur membaik. Angka indeks kuaitas udara berkisar di angka 60-90. Semakin kecil angka kualitas udara maka semakin baik, sebaliknya jika semakin besar semakin buruk pula kualitas udaranya. Angka tersebut muncul saat diberlakukannya work form home, jika ditambah PSBB kemungkinan kualitas udara semakin membaik.

Bahkan, IQAir.com menyatakan Sabtu (11/4/2020) kualitas udara menyentuh angka 55 yang berarti cukup baik. Diperkirakan dalam seminggu kedepan udara Jakarta semakin membaik. Hal itu menjadi dampak baik pembatasan sosial bagi bumi, khususnya Ibu Kota yang setiap hari selalu sibuk.

Merasakan

Menurut warga Jakarta yang kurang lebih sudah tinggal selama 20 tahun, Zefanya Aprilia seorang mahasiswa yang sehari-hari menggunakan transportasi umum merasakan kualitas udara di Jakarta yang membaik. “Di Cempaka Putih (Jakarta Pusat) tuh kalau lewat jalan rayanya ‘kan rame banget ya sama mobil dan motor. Polusinya berasa banget. Kalau sekarang sepi jadi terasa lebih bersih udaranya,” tuturnya.

Meskipun begitu, menurut dia belum semua wilayah Jakarta merasakan membaiknya kualitas udara. Jika dipantau melalui IQAir.com, dapat dilihat jika memang tidak semua wilayah merasakannya. Setidaknya, beberapa daerah merasakan kebaikan dari adanya pembatasan sosial ini, “(Udaranya) lebih bersih aja soalnya sepi. Langitnya juga lebih cerah kalau pagi-pagi,” tambahnya.

Ada hal yang disayangkan oleh Zefanya, jika kualitas udara yang membaik ini tidak bisa bepergian karena sedang meluasnya virus Covid-19. “Kalau lagi nggak pandemik gini kalau keluar rumah pasti keringetan, pasti bau matahari. Belum lagi Jakarta macet parah,” tuturnya.

Beda halnya dengan Jihan Astriningtrias,  mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bandung dan berdomisili di Tanjung Priok, Jakarta Utara tidak begitu merasakan perbedaan yang berarti dari kualitas udara di Jakarta. “Aku tuh sebenernya nggak terlalu ngeh baik atau enggaknya kalau siang. Tapi, kalau malam mulai kelihatan bintang-bintang,” jelasnya.

Perempuan yang biasa disapa Ji itu bercerita jika biasanya Jakarta hampir tidak pernah ada bintang. Pernah beberapa kali ketika ia masih kecil, atau jika adapun  hanya ada 2-3 saja. Sedangkan sekarang mulai banyak bermunculan, “Itu tanda kalau langitnya cerah juga, ‘kan?” tambahnya.

Membaiknya kualitas udara Jakarta bisa menjadi berita baik ditengah-tengah merebaknya virus Covid-19. Biarkan tenaga medis dan jajarannya menjadi garda terdepan untuk memerangi virus ini, yang lainnya tetap di rumah seperti anjuran pemerintah. Tetap di rumah, karena Jakarta sedang beristirahat.

Nabilah Muhamad, mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran