Dilema Siswa SMA Tentang Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri

0
1892

Berbagai kebijakan baru telah ditetapkan seiring dengan merebaknya kasus virus korona yang masih berlanjut hingga saat ini. Sebelumnya, para siswa SMA tingkat akhir dihebohkan dengan adanya kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim atas keputusannya untuk meniadakan ujian nasional.

Keputusan ini tentu telah dibuat dengan penuh pertimbangan dari berbagai pihak. Ia menilai UN terlalu berisiko jika diadakan di tengah pandemi korona yang sedang terjadi di Indonesia.

Sama halnya dengan penghapusan UN, pemerintah kembali mengeluarkan keputusan baru yang mengejutkan pelajar SMA kelulusan tahun 2020 ini. Lagi-lagi akibat dari pandemi korona yang melanda Indonesia, Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) menyampaikan bahwa UTBK tahun ini akan menggunakan satu jenis tes saja, yaitu Tes Potensial Skolastik (TPS). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang juga menggunakan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai bahan penilaiannya.

Thukah kalian apa beda TKA dengan TPS?

Sebelum mengarah lebih jauh, kita juga harus bisa membedakan TKA dan TPS. Dikutip dari ruangguru, bahan yang diujikan untuk TKA meliputi materi-materi dari rumpun saintek dan soshum. Dari tes TKA inilah pengetahuan seseorang mengenai materi yang diajarkan di sekolah dan yang dibutuhkan untuk mengikuti program studi yang dipilih akan terukur.

Pada soal TKA juga terdapat soal-soal  HOTS (Higher Order Thinking Skill). Berbeda dengan TPS, tes itu bertujuan untuk melihat bagaimana kemampuan dasar seseorang dalam menjalani perkuliahan nantinya. Dalam tes ini, calon mahasiswa akan diukur kemampuan kognitif, logika, dan pemahaman umumnya.

Bagaimana?  Sekarang sudah tahu kan perbedaannya?

Selain meniadakan TPS, pihak LTMPT juga mengubah jadwal pelaksanaan UTBK 2020. Berdasarkan Surat Edaran Nomor 11/SE.LTMPT/2020, pendaftaran UTBK dan SBMPTN oleh peserta dilakukan satu kali atau bersamaan dan peserta hanya diizinkan untuk mengambil satu kali tes yang dilaksanakan dalam empat sesi setiap hari.

Keterbatasan waktu  membuat pelaksanaan UTBK hanya akan dilakukan sebanyak satu kali untuk setiap satu peserta. Kebijakan ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang memberikan dua kali kesempatan untuk setiap peserta.

Menanggapi kebijakan baru itu, apa kata mereka yang akan mengikuti ujian tahun ini ? Keputusan yang mendadak tersebut membuat heboh para pelajar terutama mereka yang akan mengikuti ujian tahun ini. Perubahan demi perubahan harus mereka terima demi bisa menjadi bagian dari kampus impiannya.

Selama kebijakan pembatasan sosial diterapkan, para pelajar tingkat akhir hanya dapat melakukan pembelajaran secara daring dirumah masing-masing sembari menunggu segala keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai kelulusan mereka.

Kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah  menuai pro dan kontra dari para pelajar. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa ditiadakannya TKA dalam ujian masuk perguruan tinggi akan memudahkan dirinya dalam belajar. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa ia biasa saja terhadap perubahan kebijakan ini.

Bahkan ada yang tidak setuju karena menurut mereka kebijakan baru tersebut bukanlah keputusan yang bijak. Meskipun begitu, sekarang yang bisa mereka lakukan hanyalah menyetujui segala keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah dan tetap fokus dalam tujuan mereka, yaitu diterima di perguruan tinggi.

Melihat surat edaran yang dikeluarkan oleh LTMPT mengenai keputusan pemerintah meniadakan TKA, Dinda Adhani, siswi kelas 12 SMAN 8 Jakarta memberi tanggapan. Menurut dia keputusan itu ada  plus dan minusnya.

“Aku sih nerima aja segala keputusan dari pemerintah, tapi aku lebih setuju kalau misalnya ujian mandiri nanti TPS nya juga dihapus. Kalau beda gini akan mengganggu fokus yang mau ikut tes” tutur Dinda saat diwawancarai pada Kamis (09/04/2020).

Terkait hal tersebut, Dinda beranggapan bahwa TKA memang penting untuk mengukur kemampuan dari bidang pelajaran masing-masing, tetapi menurut dia banyak juga yang berpendapat bahwa kecerdasan juga dapat diukur dari pengerjaan TPS saja.

Selain itu, Dinda juga mengaku telah belajar TKA dari jauh-jauh hari agar mendapat hasil yang maksimal. Ia telah melakukan persiapan ujian dengan cara belajar mandiri dirumah dan mengikuti les di salah satu tempat bimbel yang dekat dengan rumahnya. Kendala harus melakukan pembatasan sosial membuat ia harus melaksanakan les secara daring.

“Tempat lesnya masih pake cara pembelajaran kaya dulu. Belum ada perubahan, tapi katanya untuk kedepan akan menyesuaikan. Sistemnya online, materi TKA tetap ada yang bertujuan untuk persiapan ujian mandiri” tambahnya.

Saat ditanya mengenai perasaannya terhadap kendala kasus korona dikala masanya ujian, Dinda menyampaikan ia turut prihatin dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi.  Menurut dia, kita tidak bisa menyalahkan kondisi.

Kitalah yang harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. Dinda yakin bahwa pemerintah menetapkan kebijakan seperti ini tentu karena telah melalui  banyak pertimbangan sehingga dia hanya mengikuti saja.

Dinda juga turut menyemangati teman-temannya yang sedang berjuang. Ia menyampaikan kepada mereka untuk mulai beradaptasi dengan kondisi saat ini dan jangan menyalahkan keadaan. Ia mengingatkan untuk terus berusaha dan perbanyak berdoa.

“Tetap semangat untuk teman-teman yang berjuang, mulailah adaptasi dengan kondisi sekarang dan jangan terus menyalahkan keadaan. Usaha dan banyak berdoa. Tuhan pasti punya rencana baik untuk kita semua” tuturnya.

Sementara itu, Nadhirah, siswi kelas 12 SMAN 8 Jakarta berpendapat bahwa TKA tidak terlalu penting untuk diujikan. Menurutnya, TPS lebih penting untuk melihat kecerdasan seseorang. Begitu juga untuk perkuliahan nanti, materi yang akan dipelajari juga akan berbeda dengan TKA.

“Kalau aku sih lumayan setuju kalau nggak ada TKA karena bentuk soalnya tuh jenisnya luas. Jadi kalau memang tidak tahu, yaa tidak bisa menjawab” tutur Nadhirah saat diwawancarai pada Kamis (09/04/2020).

Lebih aktif

Nadhirah telah belajar TKA di salah satu tempat bimbel dan mengikuti les privat. Setelah dikeluarkannya surat edaran mengenai peniadaan TKA, ia mengungkapkan bahwa tempat lesnya lebih berfokus kepada pembelajaran TPS untuk saat ini. Sistem pembelajarannya pun sama tetapi adanya pembatasan sosial membuat ia harus mengikuti les secara daring.

Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini membuat pemerintah terus mengubah jadwal pelaksanaan ujian. Hal ini membuat Nadhirah bingung. Ia berharap agar kedepan pemerintah tidak mengubah kebijakan lagi sehingga persiapan belajarnya pun bisa lebih matang.

Terkait kebijakan yang suka berubah-ubah, ia berpesan kepada teman-temannya yang akan mengikuti ujian tahun ini untuk meningkatkan persiapan belajarnya. Selain itu sebaiknya lebih aktif mencari informasi mengenai kebijakan yang terbaru.

“Buat teman-teman lebih ditingkatkan lagi persiapan belajarnya dan lebih aktif lagi buat searching di internet tentang jadwal dan kebijakan yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu” ujarnya.

Berbeda dengan pendapat dari Daniel Salim, siswa kelas 12 SMAN 8 Jakarta ini lebih memilih TKA dijadikan sebagai bahan tes untuk ujian masuk PTN. Daniel mengatakan TKA perlu diujikan karena pada esensinya UTBK adalah tes untuk memasuki PTN dengan jurusan yang diminati oleh seorang siswa. Oleh karena itu, pengujian TKA sangat berperan penting untuk mengetahui tingkat penguasaan materi seseorang untuk menyesuaikan dengan bidang yang akan ditempuh di perguruan tinggi nantinya.

“Pengujian TKA disini berperan penting. Misalnya, siswa A ingin memasuki fakultas teknik, tentu ia harus memiliki penguasaan yang cukup di jurusan tersebut. Nilainya pun harus tinggi di mata pelajaran fisika dan matematika. Lain halnya dengan siswa B yang ingin masuk ke fakultas kedokteran, ia harus menguasai pelajaran biologi” jelasnya saat diwawancarai pada Kamis (09/04/2020).

Daniel menambahkan, keputusan pemerintah untuk meniadakan TKA bukanlah keputusan yang bijak. Dengan dihapusnya TKA, nilai yang diperoleh dari hasil UTBK kurang bisa dijadikan tolak ukur yang tepat dan akurat dalam melihat kesiapan seorang siswa di jurusan yang akan ia tempuh nanti.

Selain itu, ia sendiri juga telah belajar TKA secara mandiri, di tempat bimbel, dan mengikuti les privat. Hal ini tentu menyita banyak waktu, namun yang namanya belajar tentu tidak akan sia-sia. Sama halnya dengan Dinda, bimbel yang Daniel ikuti juga belum merubah sistem pembelajarannya. Bimbelnya masih mengikuti jadwal seperti biasa dan masih diberi soal-soal TKA untuk dikerjakan dan dibahas lewat video call.

Kendala pandemi korona ini juga berdampak bagi kesiapan Daniel dalam mengikuti ujian. Ia mengaku bahwa motivasinya untuk belajar menjadi turun. Akibatnya, selama pembelajaran jarak jauh ini membuat dirinnya jadi kurang produktif dan sangat sulit untuk mulai belajar sendiri.

Menurutnya, tetap menggunakan sistem yang sama dengan tahun lalu, di mana peserta hanya dapat melakukan pendaftaran SBMPTN setelah mengetahui nilai UTBK mereka adalah cara terbaik. Cara seperti itu tentu lebih menguntungkan bagi para peserta karena dapat mengira-ngira apakah nilainya pas untuk masuk ke program studi yang dituju. Lalu, dengan adanya penundaan jadwal pelaksanaan yang cukup lama, sebaiknya TKA tetap diujikan di UTBK.

Sseperti kawan yang lain, Daniel juga memiliki pesan untuk teman-temannya yang sama-sama sedang berjuang agar tidak lengah dan terlena dengan kondisi saat ini. Walaupun keadaan sedang tidak mendukung, rasa malas untuk belajar yang mungkin ada karena sedang dirumah aja tentu bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita.

“Untuk teman-teman, jangan lengah dan terlena. Kemandirian dan disiplin diri kita sedang dilatih saat ini. Kita harus tetap berlatih dan meningkatkan semangat belajar untuk mempersiapkan UTBK” tutupnya.

Sependapat dengan Daniel, saat diwawancarai pada hari Kamis (09/04/2020), Maudy Andhara, siswa kelas 12 SMAN 8 Jakarta menjelaskan bahwa TKA penting untuk tetap ada di UTBK karena menurutnya dapat digunakan untuk melihat kredibilitas peserta dalam mendaftarkan dirinya ke jurusan atau program studi yang diinginkan. Utamanya, diujikannya TKA juga membuat para peserta mempelajari materi-materi yang berfungsi sebagai ilmu dasar untuk pendidikan yang akan ditemput di perkuliahan nanti.

Pro dan kontra

Namun, dalam menyikapi kebijakan baru ini, Maudy berpendapat, semua itu  ada pro dan kontranya. Ia setuju karena hal tersebut akan membantu meringankan beban para peserta dalam mempersiapkan ujian. Di lain pihak ada yang membuat dia tidak setuju sebab sistem itu akan membuat persaingan antar peserta menjadi semakin ketat.

“Pendapat saya jujur ada pro dan kontranya. Pro-nya adalah membantu meringankan beban para peserta dalam mempersiapkan materi yang akan diujikan pada UTBK nanti dalam sikon genting Covid-19 ini, jadi tidak bisa sekolah, les, ataupun privat secara tatap muka,” jelas Maudy.

Menurut dia, sistem ujian yang akan diterapkan nanti akan membuat persaingan antar peserta semakin ketat karena tidak ada materi pembeda antara saintek dan soshum. Juga tidak ada indikator atau target pembelajaran yang pasti.

Dalam hal pembelajaran, Maudy telah mengikuti berbagai kegiatan. Selain belajar sendiri, ia juga mengikuti bimbel dan les privat, bahkan mengikuti camp khusus untuk UTBK dan tes mandiri. Ia menjelaskan, sekarang sistem belajar tempat bimbelnya berubah menjadi daring dengan diberikan file berisi soal-soal dan pembahasan yang akan dibahas melalui video call.

Bingung

 Memiliki pendapat yang sama dengan Nadhirah, Maudy juga merasa bingung dengan keadaan saat ini, terutama dengan sistem yang masih terus menerus berubah karena harus menyesuaikan kondisi. Hal ini membuat ia belum mendapatkan metode belajar yang pasti dan efektif sehingga sedikit menghambat proses pembelajaran.

Meskipun begitu, ia tetap mengapresiasi kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dengan dinamis oleh pemerintah. Tetapi, akan lebih baik jika keputusan penghapusan TKA lebih dipertimbangkan lagi, mungkin dengan menggunakan metode lain yang tidak menghilangkan esensi dari adanya TKA. Ia berharap semua hal bisa dipertimbangkan lebih baik lagi dan segala keputusannya tidak akan merugikan orang banyak.

“Alangkah baiknya apabila keputusan penghapusan TKA kemarin lebih dipertimbangkan. Mungkin bisa dipangkas materi yang diujikan seperti UN jadi memilih salah satu mata pelajaran aja biar setidaknya nggak 0 banget sama materi TKA dan bisa dijadikan tolak ukur kelulusan dan kredibilitas akan materi yang dipahami si peserta” jelasnya.

Wah, ternyata banyak juga yaa keluh kesah yang diutarakan para calon mahasiswa baru. Walaupun begitu, mereka percaya bahwa pemerintah telah memberikan keputusan terbaiknya. Dalam kondisi seperti sekarang ini, tidak hanya satu atau dua pihak saja yang sedang berjuang. Semua pihak telah berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal dan tentunya demi kebaikan banyak orang.

Tidak lupa, Maudy juga memberikan semangat kepada teman-temannya yang akan menghadapi ujian di tengah kondisi yang memprihatinkan ini. Harapannya, semoga teman-teman selalu bisa menyesuaikan diri dalam kondisi apapun.

“Buat teman-teman yang paling penting semangat terus yaa, insya Allah kalau kita terus bisa menyesuaikan diri dan keep our minds to our goals, kebijakan apapun bisa kita lalui dan takluki, Aaamiin” kata Maudy.

Moza Azahra, mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran