Hambatan dan Solusi Saat Belajar Daring Dari Rumah

0
13219

Saat ini dampak penyebaran virus korona kian pesat dengan terus bertambahnya kasus positif di masyarakat. Terhitung per hari Jumat (10/ 04/ 2020), terdapat total 3.512 kasus positif yang telah dikonfirmasi oleh pemerintah pusat. Hal itu sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya adalah berkurangnya kegitan di luar ruangan.

Saat ini pemerintah Republik Indonesia menginstruksikan untuk melakukan gerakan kerja dari rumah atau Work from Home (WFH) yang mengharuskan masyarakat untuk bekerja secara remote dari rumah mereka masing-masing dengan tujuan untuk memustus rantai penyebaran virus corona ini. Banyak masyarakat yang menanggapinya dengan baik, ada juga masyarakat yang tidak menanggapinya dengan baik.

Salah satu suara tersebut muncul dari kalangan mahasiswa yang ikut terdampak dan harus melakukan kegiatan belajar dari rumah. Instruksi langsung dari pemerintah juga wajib diikuti oleh para mahasiswa sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus korona. Akhirnya, berbagai alternatif metode pembelajaran seperti  pembelajaran secara daring atau online learning pun diterapkan.

Banyak gangguan

Pada awal penerapannya, banyak mahasiswa yang menanggapi kelas daring ini dengan baik, namun, setelah berjalannya proses perkuliahan secara daring tersebut, banyak mahasiswa justru mengalami kesulitan dalam belajar. Keadaan itu justru menurunkan mutu pembelajaran bagi para mahasiswa serta mutu pengajaran oleh para dosen.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa kebebasan yang diberikan pada mahasiswa dengan cara belajar dari rumah justru membuat berkurangnya efektifitas belajar tersebut? Bukankah seharusnya sebaliknya?

“Menurut saya justru lebih sulit belajar dari rumah, karena ada banyak gangguan yang sifatnya kurang kondusif. Pikiran jadi buyar dan susah fokus. Walaupun lebih santai, sih.” Menurut Kevin, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara yang telah menjalankan kelas daring sejak bulan Maret akibat pandemik Covid-19.

“Jujur saya pribadi lebih pilih belajar di kampus, karena bisa lebih fokus. Tapi kalau situasinya begini juga mau gimana lagi,” jawab Kevin menanggapi pertanyaan mengenai pilihan metode belajar yang sesuai dengan dirinya.

Pendapat tersebut tentunya didasarkan pada pengalaman Kevin dalam mengikuti proses pembelajaran online learning.

“Karena belajar daring, bukan hanya tugas lebih menumpuk, tapi juga banyak distraction saat sedang belajar.  Kelas tatap muka punya feel yang beda, interaksi langsung itu cenderung mendukung proses pembelajaran,” ujar David, mahasiswa Universitas Indonesia soal hambatan belajar secara daring.

“Kalau saya pribadi biasanya tetap keep in touch dengan teman, jadi setidaknya tetap aktif dan ada interaksi. Setidaknya membantu memicu fokus sama pembelajaran,” kata David lagi mengenai cara membangun fokus saat kegiatan belajar di rumah.

Berdasarkan pengalaman kedua mahasiswa tersebut, pendapat mereka condong mengarah untuk memilih proses belajar di kampus. Hal tersebut tentu didasari kesulitan saat belajar dengan metode pembelajaran daring. Kebebasan yang diberikan justru membuat terdapat banyak pilihan yang mengganggu fokus dari para mahasiswa.

Fenomena ini pun coba dipahami dari segi psikologis oleh Fiona Damanik, seorang psikolog yang saat ini bekerja di Student Support Universitas Multimedia Nusantara.

“Menurut saya hal ini terjadi karena adanya perubahan kebiasaan yang terjadi pada mahasiswa. Awalnya mungkin disambut dengan baik karena menjadi sesuatu yang berbeda, namun setelah dijalankan justru membuat para mahasiswa kembali jenuh dengan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari tersebut,” jawab Fiona saat ditanya mengenai sikap yang terbentuk saat berkegiatan dan belajar dari rumah yang dilakukan oleh para mahasiswa.

Distraction menjadi salah satu kunci mengapa fokus tersebut sulit dibangun. Salah satu faktor yang membangun fokus tergantung pada dorongan eksternal yang secara garis besar ada dua prinsip, yaitu prinsip kesenganan dan prinsip aturan. Prinsip kesenangan didasari pada dorongan melakukan sesuatu yang disukai dan tertarik dilakukan.

Hal itu dapat membangun fokus karena menyukai subjeknya. Yang kedua adalah prinsip aturan yang didasari pada dorongan melakukan sesuatu karena tuntutan aturan yang memliki akibat. Prinsip tersebut juga dapat mendorong kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu dan mendorong fokus.

Fiona memberi beberapa saran untuk mengatasi gangguan tersebut. “Jika ingin membangun fokus, kita harus tahu prinsip apa yang mendominasi kita. Apakah pinsip kesenangan atau prinsip aturan? Jika salah satu lebih dominan, kita bisa mencoba untuk menyeimbangkannya,” ujar Fiona.

Ia mencontohkan, saya mau belajar sambil makan, tapi jadi suka enggak fokus. Kalau begitu jangan makan dulu, bisa makan setelah belajar. Atau sebelum kelas daring pagi misalnya, harus mandi dulu, sarapan dulu, sehingga fokus tersebut terbangun karena aturan yang kita berlakukan.

”Jika saya suka main gim tapi ada tuntutan yang lebih penting, saya bisa jadikan gim tersebut sebagai reward setelah mengerjakan hal penting yang perlu saya lakukan terlebih dahulu, misalnya mengikuti kelas daring,” lanjut  Fiona mengenai bagaimana cara membangun fokus pada mahasiswa.

Berdasar pada saran tersebut, sebagai seorang mahasiswa, sebaiknya kita mengentahui kita tergerak oleh prinsip yang mana saat belajar. Apakah prinsip kesenangan atau prinsip aturan. Jika sudah tahu, kita perlu berusaha untuk menyeimbangkan hal tersebut. Harapannya kita dapat membangun fokus terutama dalam kegiatan belajar dari rumah secara daring.

Penulis : Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara Tangerang /Hendy Layardi

Editor: Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara Tangerang /Adonia Bernike Anaya

Fotografer: Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara Tangerang / Bryan Kenneth