Lepaskan

1
63

Bukan aku bosan, bukan aku lelah, aku hanya sedang mencoba menerima kenyataan. Tentangmu, yang agaknya tak pernah menyisihkan sedikitpun cuilan hati bagiku. Aku memilih dan memilah, dan aku hanya punya satu cara untuk melupakanmu, ya, dengan kesibukanku. Aku mencari hal yang dapat menyita sebagian besar  waktu dan pikiran, agar tak kamu melulu yang ada dalam bayangan dan tujuanku.

“Ha ha, kau selalu begitu, membalasku dengan lebih kejam. Kamu tahu kan?  Agama kita itu, nggak menganjurkan kita untuk membalas suatu perbuatan seseorang,  jika dia nggak bisa bales dengan tidak lebih dan tidak kurang alias pas,” katamu.

“Ya, oke, minta maaf,” katanya.

“Gitu doang?”  Kau terus bercanda dengannya,  tak menghiraukan diamku  sama sekali. Kalian saling bicara seolah aku tak ada, dan menikmati drama romantismu didepan mata. Dan sedikit terlintas dalam benakku, ‘Andai aku diposisi perempuan  itu, yang dapat menempati diri dan pandai membawa suasana, yang ketika bicara, dapat membuatnya lepas tertawa, bahagia, dan terbawa suasana. Sayangnya, aku adalah aku. Bukan dia’

Aku mendaftar sekolah, satu hal  yang aneh, yang anti maenstream dilakukan orang seusiaku yang harusnya sudah ada di bangku kuliah. Yah, tapi memang bukan? Hidup itu kadang nggak selalu seperti seharusnya. Yang bisa aku lakukan adalah belajar mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang menimpa, atau memilih untuk tetap terpuruk pada keadaan yang terasa memaksa.

“Sembilan belas? Tidak masalah. Telat satu tahun saja, raib semua mimpimu,” kata seseorang yang menerimaku di bangku pendaftaran.

“Tentu saja”.  Aku berucap disusul bergumam, “Semoga aku memang punya mimpi”

Aku menjalani hari-hari sibukku tanpamu, tanpa gangguan bayang-bayang dan harapan tentangmu. Dengan belajar disekolah, juga belajar dari apapun yang bisa membuatku berpikir.  Banyak sekali hal yang sulit, tentu saja itu lebih sulit, daripada melupakannya yang terlanjur menciptakan luka yang menganga.

Melupakan bukanlah hal sulit, sungguh.  Tapi kadang-kadang, ketidaknyamanan itu sendiri yang bikin sulit. Toh, nyatanya aku dapat melupakan setiap kejadian kemarin seperti pelajaran matematika misalnya. Dan berlebihan jika melupakanmu saja aku tidaklah bisa.

“Hem, hujan, jangan kau terlalu deras, jika kau tak ingin membuatku sedih,” ucapku sembari terpejam menikmati jatuhnya.

“Halu,” kata kawan sekelasku yang lebih muda lima tahunan.

“Apa yang lebih halu daripada orang yang menciptakan hari ini menjadi kenangan pahit dihari depan?,” jawabku asal.

“Gagasan macam apa itu mbak?,” tanyanya seolah tak paham.

“Ah, nggak usah dipikir, anak dibawah umur nggak bakal ngerti,” aku menimpali.

Kupikir, sekolah adalah pelarian bagiku. Tapi, entah bagaimana, sekolahku  ini telah merubah segalanya. Menjadi aku yang aku sendiri kadang tidak mengerti. Sungguh berat benar memang, harus sekolah dan menduduki bangku kelas sepuluh diusia sembilan belasan.

Ketidakcocokan pemikiranku dengan pemikiran para remaja peralihan membuatku sedikit depresi. Tapi bagaimanapun, mereka adalah kawan satu kelasku. Andai aku dapat berpikir positif, mereka dapat ku manfaatkan untuk memahami karakter remaja masa kini. Tapi aku malah sering bertikai dengan mereka, tentang hal yang  sepele. Yang terlalu remeh buat di ributkan. Mereka adalah guru terbaik bagiku. Mengajarkan apa yang tidak diajarkan di kelas.

Hari ini, di halaman yang berhiaskan bunga sintetis dan gemerlapnya panggung, aku berbahagia dan bersabar untuk satu hal, kebahagiaanmu. Ya, apalah arti memiliki jika tanpa arti ?

Kan, semua hanya tentang mencari arti ? Dan aku, mungkin tiadalah berarti  bagimu. Tak apa, hari ini aku sedikit setuju bahwa kata adalah do’a, dahulu, aku selalu berucap bahwa pendidikanku akan lebih tinggi dari ayah, atau ibuku.

Dan dari kehilanganmu, adalah jalan Tuhan, untuk menuntunku merealisasikan do’aku di waktu dulu. Aku punya jalan bahagiaku sendiri, kamu juga punya jalan bahagiamu sendiri, begitupun jalan derita,  dan jalan cerita.

Apalah arti bahagia, jika harus memaksakan kehendak dan mengorbankan orang lain pada posisi tidak bahagia karena membahagiakan kita. Selamat berbahagia, untukmu dan untuknya, juga untukku yang berbahagia untukmu. Untuk hari ini, hari dimana di udarakannya kata, yang mengikat hubungan kamu dan dia.

Zulayy Ambarwati