Bacalah!

0
115

Membaca. Itulah kata kerja yang sangat eksotik menurutku. Bagaimana tidak? Karena membaca kita bisa tahu apa itu, kenapa begitu, siapa dia, dimana letak sesuatu, bagaimana bisa terjadi dan seterusnya.

Memang membaca, katanya itu awalnya entah dipaksa atau terpaksa harus membaca sebuah karya tulis terlebih lagi buku. Rasanya memang berat sekali. Seakan penghambat. Lain lagi ketika kita menemukan buku pertama yang membuat jatuh cinta pada membaca. Mengalir begitu saja dalam tulisan sang penulis. Hingga kita candu untuk membaca.

Entah itu awalnya terpaksa tapi kecanduan untuk membaca atau ya karena buku pertama yang membuat jatuh cinta membaca ujung-ujungnya juga candu. Sampai rasanya pengen baca itu, pengen baca ini, itu apa ya isinya? Seakan membaca itu tergentunga.

Seakan membaca itu ya udah enak aja mau baca apapun. Baca buku fiksi? Oke. Baca buku ilmiah? Oke. Baca buku itu? Oke. Baca buku ini? Oke. Baca artikel? opini? berita? oke. Ya, lama-lama biasa dan seakan kebutuhan dalam hidup.

Mengapa sih kok bisa candu? Ya gimana lagi, hidup penuh dengan tanya dari apa, kenapa, kapan, siapa, bagaimana, kapan dan di mana. Semua bisa kita dapat jawabannya lewat membaca. Itulah mengapa aku tertarik ingin baca buku atau karya tulisan sekarang, disamping keharusan sebagai penuntut ilmu. Kadang-kadang tahu-tahu saja penasaran melihat cover, judul atau sinopsis sebuah buku. Ingin rasanya ku baca segera. Sampai-sampai ya harus berkorban untuk membacanya.

Ya, ternyata enak ya kalo sudah candu membaca. Seakan kita tahu segalanya. Wajar dan pantas jika ayat pertama yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad ialah “iqra”, bacalah!

Muhammad Irfan Habibi, Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Walisongo.