Kritis Sambil Bermusik Bersama Tashoora

0
98

Kebebasan berekspresi jadi satu hal utama yang ramai diperbincangkan anak muda Indonesia akhir-akhir ini. Meski mengetahui pentingnya realisasi dari hak asasi manusia itu, banyak anak muda yang belum sepenuhnya memahami langkah apa yang bisa mereka lakukan untuk mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari.

Hal itulah yang membuat Tashoora, sebuah kelompok musik yang berdiri sejak 2016, bertekad untuk menyampaikan pesan-pesan penting seputar isu sosial aktual melalui karya-karya musiknya. Keunikan band asal Yogyakarta ini terletak pada lagu-lagunya yang sarat akan substansi kritik terhadap fenomena atau peristiwa yang sedang terjadi.

Bukan untuk memecah belah, langkah ini merupakan usaha Tashoora untuk menghidupkan iklim demokrasi negara Indonesia guna mendorong perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan. “Sebenarnya bukan diniatkan sejak awal untuk begini (mengkritisi berbagai fenomena melalui lagu). Tapi banyak hal yang terlalu menggelisahkan untuk tidak disuarakan,” kata Danang, vokalis dan gitaris Tashoora pada Minggu (1/3/2020) di jakarta.

Pemuda yang ditemui usai manggung di arena Java Jazz Festival 2020 di Kemayoran Jakarta tersebut kemudian menambahkan,” Apa yang kami lakukan itu adalah bagian dari tenaga, uang, dan waktu yang mereka luangkan sebagai usaha menguatkan koridor-koridor yang harus diperjuangkan,”.

Tashoora memberi salam pada penonton usai tampil di panggung Java Jazz Festival 2020 di Jakarta. Foto: Kaleb Sitompul

Awan, gitaris Tashoora, juga menambahkan, “Kegelisahan kami juga berkembang dan berubah seiring waktu. Misalnya dari sekarang dan lima tahun lalu, itu pasti berbeda. Sesimpel itu kami memutuskan untuk begini.”

Kecintaan pada musik membuat personel-personel Tashoora memutuskan untuk menyampaikan kegelisahan dan aspirasi mereka melalui medium musik. Gusti, basis dan vokalis Tashoora, juga menilai bahwa musik adalah hal yang paling dekat dengan kelima personel Tashoora. Kelimanya kemudian mengolah medium musik sebagai tempat mereka untuk bicara lebih banyak.

“Kami meyakini konsep dakwah, yaitu cara menyebarkan nilai-nilai dengan cara yang lebih membumi agar bisa diterima masyarakat. Mengkritik tidak harus secara terang-terangan di depan mata, enggak harus literal dengan kata-kata,” kata Gusti. Awan kemudian menimpali ucapan Gusti. “Kalau kami bisanya panjat tebing, mungkin kami akan panjat tebing untuk mengkritik,” ujar Awan dengan nada bercanda.

Dari berbagai lagu yang telah Tashoora ciptakan dan bawakan, “Agni” adalah lagu yang dirasa paling penting oleh kelima awak band. Lagu itu menceritakan sengkarut penyelesaian kasus pelecehan seksual yang menimpa Agni, mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Melalui “Agni”, Tashoora berusaha mengkritik ketidakjelasan payung hukum yang menaungi pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual di kampus-kampus Indonesia.

Danang menjelaskan betapa fatal kasus Agni dan kasus-kasus serupa. “Belum ada satu pun kampus di Indonesia yang memiliki SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Saat ini pemerintah dan kampus saling melempar bola (tanggung jawab). Makanya lagu inilah yang paling fatal,” katanya.

Danang (gitar) dan Gusti (bas) beraksi di panggung Java Jazz Festival 2020. Foto: Kaleb Sitompul

Besarnya kepedulian Tashoora terhadap isu pelecehan seksual mengantarkan mereka untuk membuat sebuah rencana tur dari sebuah kota ke kota lainnya. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya pemahaman mahasiswa dan mahasiswi Indonesia mengenai kasus-kasus pelecehan seksual.

Danang menyatakan, selain dari penyintas, pihaknya memposisikan tindakan itu untuk memberi pemahaman, seperti catcalling yang sebenarnya adalah pelecehan seksual. “Rencananya kami mau keliling dari kampus ke kampus tahun ini,” tutur Danang menjelaskan rencana tur band tersebut.

Sampai hari ini, masalah-masalah seputar seks dan pelecehan seksual masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia. Hal itu jugalah yang membuat sebagian kalangan cenderung berusaha menutup mata dari kasus-kasus seperti ini. Awan menjelaskan bahwa semua isu seharusnya bisa dibicarakan, termasuk hal-hal lain yang masih dianggap tabu.

Ia berpendapat, hal yang perlu digarisbawahi adalah tidak ada isu yang sensitif. Semua hal bisa dibicarakan. Tergantung bagaimana kita menyampaikannya. “Kami anak-anak muda harus sama-sama memerangi hal-hal yang tabu. Jangan kemudian ada bahasan yang keras, belum apa-apa itu dibilang sensitif,” lanjutnya.

Perkataan Awan sejalan dengan semangat yang selalu berusaha Tashoora sampaikan melalui tiap-tiap karyanya. Danang misalnya menyatakan, kebebasan berbicara itu anak kandung demokrasi. Hal yang harus kita jaga adalah semangat demokrasinya.

Garis pembatas antara aktivisme dan bermusik yang seolah memudar acap kali menjadi bahan pertanyaan banyak orang pada Tashoora. Tak sedikit mereka yang menanyakan di manakah posisi Tashoora: sebagai kelompok musikkah, atau sebagai aktivis?

Untuk menjawab itu, Tashoora selalu mengedepankan hak setiap manusia untuk menyampaikan aspirasinya, termasuk menjalankan aktivisme.

Dita (akordion) di panggung Java Jazz Festival 2020. Foto: Hans Immanuel

“Kami ini kelompok musik. Tapi aktivisme itu milik semua orang. Jangan sampai membela hak asasi manusia itu jadi milik golongan tertentu saja,” kata Danang.

Gusti menambahkan, “Apa pun cara yang imbasnya adalah menguatkan apa yang sudah ada, ya lakukanlah. Yang perlu digarisbawahi, kamu boleh punya cara kamu sendiri, tapi kita jalannya bareng-bareng.”

Berbagai upaya yang Tashoora lakukan melalui musik sekaligus menguatkan kepercayaan mereka bahwa aktivisme seharusnya dilakukan bersama-sama. Terlebih untuk para anak muda, mencari koridor untuk berdiskusi bersama adalah hal yang utama.

“Untuk para anak muda yang ingin melakukan kegiatan aktivisme, jangan ragu-ragu lagi. Cari teman terdekat. Cari tahu aktivisme dan bagaimana cara melakukannya dari berbagai sumber,” kata Awan.

Suasana wawancara dengan Tashoora. Foto: Hans Immanuel

Danang juga berpesan agar para anak muda tidak bersikap apatis terhadap isu-isu yang ada di sekitarnya. “Jangan tidak peduli. Ayo bersuara dan jalan bareng-bareng. Aktivisme dan pembelaan HAM itu milik semua orang. Kita harus saling menguatkan,” katanya.

Tonton juga video hasil wawancara dengan Tashoora di Youtube Kompas Muda.

Reporter: Selma Kirana Haryadi, mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran Bandung

Fotografer: Hans Immanuel, mahasiswa Fotografi, Lasalle College, Jakarta

Kaleb Sitompul, mahasiswa Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta