Maafkanlah

1
106

Tia adalah keponakanku, juga sahabatku sejak kecil. Kami sering bermain bersama, berlari menerjang ilalang, menikmati bias sinar mentari di atas cabang pepohonan. Pernah juga kami berkunjung ke uwak kami yang ada di seberang bukit Sikunci.

Kami berjalan melewati bukit itu saat hari lebaran ketiga. Entahlah, kami berdua  tidak merasa takut pada apapun. Bahkan pada hidung  babi penghuni jalan menuju rumah uwak pun, kami tidak takut. Ya, kami melewatinya, berdua saja.

Usia kami belum  genap sepuluh tahun kala melintasi bukit itu. Saat pulang, ibunya bertanya “darimana?”. Ah, sialnya Tia menjawab jujur bahwa dia dari seberang bukit. Akhirnya kami tidak boleh main bersama dalam beberapa hari oleh ibunya. Padahal kami tidak apa-apa dan kembali dengan selamat, tapi ibunya tetap marah, menganggap itu keterlaluan.

Kami, sering menghabiskan waktu bersama seharian. Kami membicarakan soal mimpi kami di antara cabang pohon kesemak. Ia ingin jadi orang kaya, sementara aku ingin jadi profesor  “Lho, profesor itu apa,?” tanyanya kepengen tahu. “Em, nggak tau” jawabku waktu itu sekenanya,”hah?”.

”Memang aku tidak tahu apa itu profesor, makanya aku mau jadi profesor kalau sudah besar,” sahutku nyeleneh, karenanya kepalaku mendapat tamparan ganas tangannya, seolah masih terasa sampai sekarang, sakitnya. Tapi kami malah terbahak, menertawakan kebodohanku. Mungkin karena kedekatan kami, higga sesakit apapun kelakuannya padaku, aku tak ambil hati, begitupun dia.

Aku berdiam diri di balkon sejak beberapa jam lalu, mungkin karena rindu, kenangan masalalu itu tiba-tiba melintas di kepalaku. Kalau saja semuanya tidak hancur, aku dan Tia mungkin saja masih saling mengerti. Di umurku ke dua puluh tahun kini, aku merasa kehilangannya.

Bukan karena dia tiada, tapi ketidakjujurannya membuatku tak lagi dapat mempercayainya. Apalah arti berbagi cerita, jika toh, malah menuai masalah seperti yang terjadi padaku. Kupikir dengan menjauh darinya, semua bakal kelar, tapi ternyata itu malah kekanakan.

Setiap insan memang memiliki jatah derita dan bahagia masing-masing. Begitupun aku. Mungkin jatah deritaku adalah kekasihku, sementara jatah bahagia Tia adalah kekasihku.

Agak menyesal aku harus menyadarinya sekarang, saat aku sudah jauh di lintas negara dengannya. Kuputuskan mengunjunginya minggu ini, menyusun jadwal kepulangan, menyisir toko oleh-oleh, ku carikan apa yang biasa ia minta berkali-kali kala cita-citaku belum nyata.

“Suatu saat kalau kamu ke Macau, bolehlah, belikan aku banyak alat sulap. Nanti kalau  aku punya anak, ku kasih anakku biar dia jago sulap kayak si pantomim di depan kampus,” Katanya waktu itu, kala kami masih akrab.

Hari ini pagi sekali aku sudah bersiap menuju bandara, sudah kupersiapkan semuanya terutama pertemuanku dengan Tia. Akan ku kunjungi rumahnya  diam-diam, biar jadi kejutan. Persaanku tak menentu, antara rindu dan perasaan bersalah.

Bagaimana aku membenci Tia, hanya karena orang yang ku cintai ternyata mencintai Tia, dan memilihnya ?

Banyak bayangan tiba-tiba melintas, tentang Tia dan kekasihku dulu yang sekarang jadi suaminya. Bagaimana aku membenci Tia, hanya karena orang yang ku cintai ternyata mencintai Tia, dan memilihnya? Bagaimana aku bisa membenci Tia yang telah membantuku melewati rintangan tingginya  biaya kuliah  yang menghalau cita-citaku menjadi sarjana muda? Hingga aku dapat sukses seperti sekarang.

Bagaimana aku mengasingkannya dari ingatan dan hidupku? Sementara Tia-lah yang selama ini merelakan kuliahnya demi aku yang katanya lebih berhak. “Sungguh, Tia, maafkan aku. Aku segera tiba di Indonesia, akan ku kunjungi rumahmu lepas aku mendarat”.

Tanpa menunggu lama sembari berjalan menuju gerbang kedatangan bandara, aku memesan taksi daring, segera menuju rumah Tia. Dia bukan lagi anak desa memang, tapi rumah Tia dihimpit perkembangan kota, di antara gang daerah Bandengan Jakarta. Kala melewati gang itu tercium aroma yang aneh, entahlah, bau lumpur amis dan tajam sekali, hingga hidungku memerah karena bersin berkali-kali.

Sungguh keadaannya tampak lebih miris daripada saat dia desanya dulu. Rumahnya remang, kutunggu Tia keluar setelah tiga kali salam tanpa jawaban. “Nunggu siapa mbak?,” tanya seorang yang melintas. Mungkin tetangganya. “Tia, apa koko tahu dia dimana?,”.  “Tia?, “. Wajahnya nampak binggung, kemudian menyambung, “Kok mbak nyari orang yang udah meninggal sih? Serem. Ini rumah kosong udah setahun lho mbak,”.

“Mbak Tia itu kecelakaan bersama anak dan suaminya, udah lama,”. Si wajah Tionghoa itu berlari ketakutan. Akupun juga.  Dengan perasaan tak karuan, ku langkahkan kaki menjauh sedikit ketakutan. Setelah ku letakkan alat sulap yang ku belikan untuknya dari Macau di kursi yang baru saja kududuki. “Innalillahiwainnailaihirojiun,Tia.

Waktu begini cepat berlalu. Bahkan sebelum aku berbaikan denganmu. Andai aku dapat tahu takdir mungkin aku akan memilih tetap berdamai denganmu. Tapi sudahlah, kuharap kau memaafkan kekanak-kanakanku,”. Air mata mulai mencair aku mengusapnya sebelum ada yang terjatuh dan keluar berlebihan di jalanan. Aku berlari mencari taksi, untuk mengantarkanku pulang ke apartemen. Lebih baik ku lanjutkan dukaku disana.

Zulayy Ambarwati