Pare, Kota “Jahat”

0
131

Titisan air mata mengaluk aksara.
Menuang garis cakrawala, sungguh memesona mata.
Kalau boleh, puan. Bolehkan ku ‘tuk mengenalmu.

Kota ini sedang dilanda kesedihan. Tak kala geremis menghiasi senja sore itu mengiringi kehadiran sang malaikat. Adalah matamu yang pertama kali berbicara seakan menarikku kedalam dimensi yang paling dalam. Irisan senyummu yang menggesek tulang rusukku hingga membentuk simponi kepedihan, membelah dadaku hingga menikam ulu hatiku.

“Siapa kau?” kulangkahkan kakiku kepadamu, membawa tanganku dengan penuh keangkuhan, penuh kepercayaan. Kau diamkan tanganmu di dalam jabatanku selama beberapa detik (dalam bayang, walah kita hanya saling menatap dalam kebatua). Aku idamkan tanganku di dalam genggamanmu untuk selamanya. Segala keteraturan yang kubangun selama ini, runtuh dalam sekejap.

Padahal, perjumpaan kita begitu sederhana. Tidak sedramatis kisah-kisah yang didongengkan para pujangga. Meski begitu, bagiku kau istimewa, melebihi apapun yang mampu digambarkan susastra.

Ssttt, jangan berucap biarkan aku menatap jurang yang terlahir di gelombang matamu. Pergi ?, jangan pergi, duduklah disampingku. Tak mau aku pulang ke rumah, sembari memandangmu namun sebatas layar gawai. Tak aku pulang, tidak. Kaulah rumah baruku. Mari kita bersuka ria memandang penampilan orkesta mega langit ria bertajuk nostalgia.

Kau tetap pergi sembali alkisah meracuni angina segar disekitarmu. Wangi yang tak kan bisa dilupakan. Kau pergi, kau menghilang, membuat kegaduhan semestaku. Secarik kertas kau tinggalkan :

“Ini rimba atau jalan.raya. Pulang ke hulu agar kamu tahu disanalah kita bermula karena pulang adalah cara terbaik untuk mengingat”

Aku baru saja beranjak dari kotak pengiriman pos sana. Aku melupakan segalanya yang terjadi dan firlandia, awal dari aku dan kamu. Pukul 12 siang, jam kota berdenting menguak langir biru firlandia, mengisi lorong jalan dan rongga kota. Sudah satu bulan aku menulis memoir kepada teman jauh sana di tanah medan, sungguh aku merindukannya. Mengingatkanku pengembaraan di malam hari layaknya kucing yang mengendap-ngendap untuk menangkap mangsanya.

Alkisah di malam yang paling dalam, diantara cerahnya tabir malam diiringi terangnya purnama, lahir seorang pelampau. Adalah aku yang hadir dihadapan istanamu. Merangkak, merayap dan mengendap-ngendap seakan melarikan diri dari sekumpulan koloni Belanda yang siap mengoyak tiap lapisan jaringan kulitku. melahirkan sepucuk anak, Ku namakan perpisahan….

/Perpisahan/
Pukul sebelas. Di stasiun Kediri
Aku berdiri di pangkuan kereta
Melambaikan tangan padamu kepada dia di ujung sana
Mengucapkan perpisahan untuk perjalanan jauh
Tapi sayang seruanku begitu rendah
Dan angin menerbangkan pada tiang-tiang penyangga
Yang berharap hinggap di telingamu

Senja. Kereta. Akan ku jelajahi kota-kota asing
Dikepalaku dan kubuat peta hidupku sendiri

Jejak kaki yang kutinggalkan di peron tua s
Sesaat sebelum melangkah

“Jangan Bersedih”

Tapi teriakanku begitu rendah
Diempas angina ke gerbong-gerbong renta

Aku melambai, Airmatamu jatuh
Mengalir ke rel kereta, Lalu rindu yang menjelma tugu

Tempat ini dibanjiri jingga
Mata senja sayu dibalik jalanan riuh
Dan malam sebagai tanda perpisahan

Menarilah sayang, menari!
Biarkan tubuhmu terbang ke angkasa luas
Dan lupa dimana letak lautan.
Karena pesta akan dimulai!

Sampai jumpa dalam perpisahan….
Sampai jumpa dalam kerinduan….
Sampai jumpa dalam keresahan….

Keretaku jalan perlahan
Bunyi klakson tertinggal-tertinggal di stasiun dan abadi oleh kengan!

Arif Furqon Nugraha, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran