Kompromi

0
67

“Mbak Arum, bisa ga bantu saya buat cari info kerjasama dengan radio Kota biar acara kita bisa di promosiin lewat siaran,” Arum mengangguk mengiyakan permintaan Bu Putri, kebetulan ia punya kenalan di salah satu Radio Kota.

Sore itu langit terasa begitu cerah, diiringi dengan suara dialog-dialog orang yang lewat begitu saja dijalan-jalan. Arum menunggu di depan sebuah ruangan stasiun Radio Kota yang ia kunjungi.

Layaknya sebagaimana stasiun radio, di masing-masing studio penyiar sedang asyik dengan siaran dan konten-konten yang mereka bawakan untuk para pendengar, namun ada yang berbeda sore itu seorang wanita yang menunggu dengan menggunakan kemeja biru langit dan rok navy serta tas ransel sedang asyik sendiri berselancar dengan ponselnya sambil menumpang wi-fi yang sudah ia sambungkan ketika tadi lobi stasiun radio itu.

“Rum, sudah lama menunggu? tadi ada beberapa skrip yang harus aku susun untuk siaran besok, nyusunnya bareng temen-temen ya tahulah malah kebanyakan ngobrol jadi ngaret, jadi gimana apa sebenarnya yang bisa aku bantu?, “ kata seorang laki-laki berbaju marun sambil membawa laptop menyapa dan menjabat tangan Arum.

“Ini Dam, aku tuh lagi ada proyek buat iklanin even yang lagi aku kerjain sekarang sama tim, jadi aku mau kerjasama sama radio kota buat bantu promosiin, yaa ga mesti ribet-ribet kok yang penting lewat radio banyak pendengar dan jadi tahu program ini, kebetulan aku yang ditugasin buat media dan informasi,” jawab Arum

Adam yang hari itu sudah bersiap-siap pulang harus berpikir ulang untuk membaca proposal dan berdiskusi dengan Arum. Tapi karena besok kebetulan Adam tidak siaran dan stay pagi di kantor, jadi ia punya waktu luang untuk setidaknya menerima Arum sore itu.

Tak terasa mereka pun mengobrol sampai hari berganti gelap sampai adzan maghrib saling bersahutan, karena stasiun radio itu akan tutup pada pukul 19.00, Arum meninggalkan proposal yang ia bawa di ruangan dan berpamitan sambil menjabat tangan Adam seraya berharap dalam hati menunggu kabar baik jika proposal itu menarik untuk diajak kerjasama dengan radio kota.

Adam mendatangi Arum, “Rum selamat” dan bertanya, “Kira-kira kamu punya waktu sampai jam makan siang?”

“Kringg..” Ponsel Arum berbunyi, itu pesan dari Adam, ketika Arum sedang makan siang bersama teman-teman di kantornya. “Rum, even kamu akan di siarkan hari jumat besok jam 14.00 ya, untuk jadwal dan kesepakatan lainnya nanti aku kabarin lagi ya”.

Arum tak heran karena mereka memang sudah kenal sejak di bangku kuliah dan pernah mengerjakan proyek bersama, jadi untuk menemukan kata sepakat bukanlah hal yang perlu ia khawatirkan. Acara yang dijalankan Arum tiba saat waktu pelaksanaan. Ia dan timnya mendapat antusias yang heboh dari para peserta yang hadir, Adam menjadi salah satu yang hadir pada saat itu selaku media partner even.

Setelah acara itu, Adam mendatangi Arum “Rum selamat” dan bertanya, “Kira-kira kamu punya waktu sampai jam makan siang?”. Arum yang tengah mengucapkan selamat kepada para tim langsung berbalik kearah Adam, “iya Dam, kalau bukan karena kamu mungkin acara ini ga bakal jadi semeriah ini sampai-sampai tadi audiense di batasi karena kuota tempatnya yang udah penuh,” Arum menjawab dengan antusias, “kamu belum jawab pertanyaan aku,” Adam langsung menyambar.

“Oh iya aku kayanya harus ada evaluasi bareng tim. Jadi kayanya ga bisa Dam, atau lain kali nanti aku kabarin kalau emang udah free,” Adam mengiyakan jawaban Arum, dan mencoba mengerti kalau Arum dijejali dengan rutinitas yang selalu menuntutnya.

Adam sendiri tidak terlalu memikirkan dengan definisi “asmara” karena baginya hubungan asmara tidak mesti diproklam sebagai istilah pacaran

Sebelum acara itu diadakan, Arum sudah menghubungi Adam dari dua bulan sebelum acara, dan bagi Adam, Arum adalah wanita yang ia kagumi sejak masih berkuliah dulu. Tetapi Adam mengerti bahwa rutinitas dan segala tuntutan yang dibawa Arum, selalu menjadi prioritas Arum. Karena bagi Arum sendiri, bekerja adalah hobinya, di sisi lain Adam yang bekerja sebagai penyiar dan penulis punya anggapan bahwa bekerja bukan hanya soal materil, tapi juga rasa.

Adam dan Arum memang punya kedekatan khusus semenjak di perkuliahan, entah sebagai teman bekerja, teman bercerita, teman belajar atau teman dalam arti asmara. Adam sendiri tidak terlalu memikirkan dengan definisi “asmara” karena baginya hubungan asmara tidak mesti diproklam sebagai istilah pacaran, dan ia punya definisi sendiri soal perasaannya dan hubungan asmaranya dengan Arum.

Adam yang sehari-hari bekerja dengan canda dan gurauan teman-temannya mencoba menghadrikan diri ketika suasana Arum dalam ke-hectic-an dengan nuansa “selalu ada”, walaupun kadang kali ia harus sabar ketika ditimpa cerita Arum yang seringkali stres terhadap kesibukan pekerjaannya dan juga hubungan dengan mantan kekasihnya. Adam paham, kalau Arum punya masalah dengan mantannya yang tak kunjung pernah selesai.

“Rum kamu udah pulang? aku khawatir, kebetulan aku lagi disekitar braga kalau kamu free kita bisa ketemu,” Adam mengirim pesan kepada Arum siang itu padahal ia tahu kalau Arum pasti akan membalasnya sore sesaat jam pulang kantor, tapi Adam menunggu kejutan kalau-kalau Arum membalas pesannya.

Arum akhir-akhir ini memang kelihatan muram, pernah sekali mereka bertemu, Arum sore itu dijemput Adam dikantornya dengan kantong mata tanda kalau ia belum tidur dan bekas tangisan. Arum memang tak suka bercerita kala sedang muram, dan Adam mengerti ia tidak akan mencoba mencari tahu walaupun ia paham masalah Arum kalau bukan karena soal pekerjaan (materi) pasti soal mantan.

Berhari-hari mereka tidak ada komunikasi via medsos ataupun urusan pekerjaan, Adam yang menekuni pekerjaan sehari-sehari dan Arum yang kesana-kemari ditemani hati yang sepi. Sudah dua bulan berjalan Arum tidak mengabari tentang kondisinya, menjadi hal aneh bagi Adam tatkala ia mengamati Arum melalui medsos Twitter dengan Twitt kekesalan dan kegaduhan, di samping itu Adam yang khawatir tidak mau menambah pekerjaan rumah kepala Arum untuk menjawab dan menanggapi isi kepala Adam.

Sore itu Adam duduk di depan laptop di studionya, ia berpikiran untuk sekedar mengabari Arum dan menemuinya dalam waktu dekat. Ternyata setelah hampir empat bulan mereka tidak saling berhubungan, Adam menyadari kalau rasa bersama perasaan yang ia bawa selama ini tidak pernah dibawa Arum, entah Adam yang begitu perasa atau Arum yang berpikir hanya untuk dirinya. Adam sampai pada pertanyaan, apa pantas semua ini di perjuangkan?

Rakha Arlyanto Darmawan, mahasiswa Universitas Padjadjaran Program Studi Ilmu Pemerintahan.