Fenomena Penikmat Senja : Mengenal Musik ‘Indie’ Lebih Dalam

0
37

Kau nikmati kopi dengan senja

maksudmu apa?

 

lirik lagu cinta tentang senja

maumu apa?

 

ngaku-ngaku indie tapi playlist

hasil subsidi.

 

pengen tampil beda tapi tetap

hasilnya sama.”

Kutipan di atas adalah petikan lagu  berjudul “Senja” yang diproduksi oleh band Indie, Project Hambalang. Lagu itu mengkritisi beberapa penikmat musik indie yang terkenal dengan ciri khas tertentu dan idealisme yang tinggi.

Senja merupakan fenomena alam yang hampir setiap hari dapat kita nikmati. Senja seringkali dinikmati anak muda zaman sekarang dengan kopi dan musik aliran tenang. Mereka menyebut hal-hal serupa dengan julukan ‘indie’. Penikmat musik indie sering kali dikait- kaitkan dengan langit senja, secangkir kopi hitam panas. Tapi apa semua orang berpikiran yang sama ? Mari kita kupas tuntas pengertian ‘indie’, musik dan band pencetusnya.

Independen

Indie sebenarnya bukan aliran musik. Kata ‘indie’ berasal dari kata independen yang berarti merdeka, mandiri dan bebas berkarya . Musisi-musisi yang disebut indie adalah musisi yang memproduksi lagu sendiri dan memasarkannya. Sarana promosi yang paling efektif adalah dari mulut ke mulut kemudian menjadi tren di kalangan anak muda hingga masyarakat luas.

Musik indie mulai ada di indonesia sejak tahun 1900-an. Masa itu band rock pertama yang tidak dinaungi oleh label musik adalah group band God Bless. Mungkin banyak anak muda zaman sekarang yang lebih mengenal Achmad Albar, yang notabene vokalis grup band God Bless.

Sebenarnya orang Indonesia lebih familiar dengan istilah underground daripada indie. Berbeda dengan indie, underground cenderung keras oleh sebab itu God Bless yang beraliran rock dapat dikategorikan sebagai band indie.

Pada saat itu mereka mendeklarasikan di majalah Aktuil terbitan tahun 1971 bahwa band mereka masuk dalam kategori band underground. Dalam majalah itu pula ditulis bahwa ada Underground Music Festival di Surabaya yang diwakili oleh God Bless dari Jakarta, Giant Step dari Bandung, Bentoel dari Malang dan Terncem dari Solo, dan inilah cikal bakal dari scene underground atau indie

Sedangkan di dunia, musik indie mulai berkembang pada tahun 1980-an. Banyak band indie yang mulai bermunculan seperti Band British pop The Smiths dan Joy Division. Selain itu, Radio head sempat menerapkan sistem penjualan album independen yaitu dengan sistem pay what you want. Sistem penjualan album ini tergolong unik karena pembeli dibiarkan bebas membayar berapapun harganya.

Fenomena yang sedang terjadi adalah kebanyakan anak muda salah persepsi tentang hal ini. Mereka menganggap indie merupakan genre musik yang tidak mainstream. Musik yang dianggap mainstream adalah musik-musik yang bernaung di label rekaman yang besar, sering di putar di pusat perbelanjaan dan biasa disebut musik konvensional . Sangat disayangkan dengan persepsi ini banyak orang jadi membandingkan musik konvensional dan musik indie berdasarkan pemahaman mereka yang salah.

Bagus dan tidaknya selera musik seseorang kembali lagi pada selera masing-masing dan bersifat relatif. Jangan hanya mengikuti tren karena banyak orang berlaku demikian. Lirik puitis yang disuguhkan dalam sebuah lagu memiliki makna yang berbeda untuk orang-orang. Dapat menyentuh di hati kita, belum tentu dapat mengubah hidup orang lain. Musik adalah seni untuk berpendapat dan berkarya tidak seharusnya memaksakan idealisme pada seseorang. 

Sejatinya kembali lagi pada pribadi masing-masing, kita harus paham dahulu sebelum menyukai sesuatu karena “Kita adalah apa yang kita percayai” –C.S Lewis.

Penulis Kompas Corner UMN / Adonia Bernike Anaya

Editor Kompas Corner UMN / Adonia Bernike Anaya

Sumber Foto : Dokumen pribadi Batyalael Chriswied