Kelompok Penerbang Roket : Musik Rock Asik Juga kok!

0
128

Musik Rock yang memiliki suara yang keras kadang-kadang mendapat kesan yang negatif dari masyarakat, tetapi kesan itu tak selamanya terjadi atas Kelompok Penerbang Roket (KPR). Terbukti dengan jumlah “Pencarter Roket” (sebutan bagi penggemarnya) yang sangat banyak.

Dunia musik Indonesia tak selamanya diisi oleh genre pop, jazz, reggae, ataupun dangdut. Genre rock juga tampil mewarnai dunia permusikan Indonesia. Lagu-lagunya rock identik dengan suara yang keras dan penampilan penyanyinya yang terkesan “menyeramkan”. Tapi tidak selamanya musik rock itu menyeramkan loh sobat MuDa.

Saat ini grup band rock yang tengah naik daun yaitu Kelompok Penerbang Roket. Wah sobat MuDa penasaran nggak sih Kelompok Penerbang Roket itu siapa? hehehe. Daripada bingung, mending kita kupas tuntas siapa itu Kelompok Penerbang Roket.

Grup band Kelompok Penerbang Roket (KPR) beranggotakan tiga orang personel. Mereka adalah John Paul Patton (Coki), Rey Marshall (Rey), dan I Gusti Vikranata (Viki). Tahun 2011 adalah tahun yang mengawali pembentukan KPR ini. “Awalnya tahun 2011, kami teman nongkrong di studio gua di Cinere. Akhirnya kami main musik bareng. Ya udah kami mulai bikin band,” jelas Viki setelah tampil di acara Selaras 2019, Sabtu (16/11/2019). Keseriusan mereka untuk bermusik membuat mereka memberanikan diri membentuk band dengan nama “Kelompok Penerbang Roket”.

Viki menjelaskan, ia dan temannya menginginkan nama band yang Indonesia banget. Mereka pantang menggunakan kata “band” dalam timnya. Viki, Rey, dan Coki sangat terinspirasi dan menyukai sebuah band rock yang terkenal pada tahun 70-an bernama “Duo Kribo” yang beranggotakan Ahmad Albar dan Ucok Harahap.

Duo Kribo sempat terkenal karena menyanyikan lagu “Mencarter Roket ke Bulan”. Karena lagu itu juga, akhirnya mereka sepakat menggunakan nama Kelompok Penerbang Roket. “Secara filosofi, kami akan menerbangkan karya musik kami setinggi langit,” tutur Viki dengan penuh harap.

Coki asik bermain bass dan Rey asik bermain gitar. Foto : Tim Dokumentasi Selaras 2019.

Setelah hampir Sembilan tahun bersama, tak jarang KPR menemukan perbedaan pendapat diantara mereka. “Dari awal berkarir selalu ada perbedaan pendapat pastinya” kata Coki. Mereka terus berusaha saling mengerti pribadi masing-masing diantara mereka dan mencari jalan keluar yang terbaik agar perbedaan pendapat itu terselesaikan.

Galaksi Palapa adalah album kedua yang dikeluarkan oleh KPR. Untuk menemukan ide menciptakan sebuah lagu, mereka harus sering melakukan pertemuan. Dengan berkumpul di studio, mereka bisa mendapatkan kurang lebih lima lagu.

Coki menjelaskan betapa mudah mereka menemukan ide. “Menemukan ide itu segampang kami masuk ke dalam studio. Kami pegang alat musik masing-masing, kami keluarin ide masing-masing. Itu udah jadi,” lanjutnya. Dalam menciptakan lagu, KPR harus merasa enjoy. “Kalau lagi sakit jangan main musik, sama kalau lagi “sadar” jangan main musik,” kata Coki. Ia dan dua temannya lalu tertawa menanggapi ucapan itu.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh KPR bukan hanya sebatas lagu yang bernada keras untuk menghibur saja. Beberapa lagu KPR juga ada yang mengandung pesan yang menyentuh pendengarnya. Salah satu lagu yang terkenal dan jadi favorit pendengarnya yaitu lagu “Mati Muda”.

Setiap kali KPR mengisi acara di suatu tempat, tak pernah absen ia menyanyikan lagu “Mati Muda”. “Karena kami melihat situasi Jakarta atau kota besar lainnya yang banyak banget tawuran pelajar dan ketika saat itu juga ada kabar kalau tawuran pelajar tersebut makan korban. Jadi di lagu ini kami mau bahas isu itu aja sih” kata Rey.

KPR menyelipkan pesan di dalam lagu “Mati Muda”, agar para pelajar lebih baik belajar yang baik di sekolah, agar nanti saat masa tua memiliki banyak uang dan menjadi orang yang bermanfaat daripada ikut-ikutan dalam tawuran.

Sampai sekarang, sudah dua album yang dikeluarkan oleh KPR. Mereka mempromosikan albumnya dengan membentuk tim tersendiri. “Kalau lu mau promosiin lagu, ya lu manggung aja. Lu bawain lagu lu, kalau orang suka ya berarti promosi lu berhasil” ujar Coki. Bagi KPR, membawakan lagu terus-menerus di panggung sama saja mereka sudah mempromosikan lagu mereka ke pendengarnya.

Biasanya KPR mengangkat tema di lagunya tentang apa yang mereka pikirkan di benaknya. “Yang lagi kami alamin dan pikirin itu yang kami angkat” kata Rey. Mereka juga menggunakan “ramuan-ramuan” khusus agar pendengar lagunya dapat senang dan puas. “Adalah ramuan dari gunung pokoknya” timpal Coki diiringi gelak tawa.

Viki (drum), Coki (bass/lead vocal), dan Rey (gitar) saat setelah tampil di Selaras 2019. Foto : Tim Dokumentasi Selaras 2019.

Mematahkan Stigma

Kesan negatif tentang musik rock juga menimpa KPR. Viki, Rey, dan Coki berusaha mematahkan kesan negatif itu yang ditunjukkan kepada mereka . “Kalau dari gua sih tergantung orang yang dengar sih. Dia mau menanggapi itu positif apa negatif. Kalau dia memang orangnya negatif, pasti menanggapi sesuatu dengan negatif. Kalau dia orangnya positif, pasti menanggapi sesuatu dengan positif. Gua membebaskan aja buat semua pendengar gua. Mau denger lagu itu yang positif atau negatif, semua tergantung diri lo masing-masing lagi” urai Rey panjang-lebar. Bagi Coki, itu semua hanya perspektif, tidak hanya musik rock, apapun kalau dilihat dari dua sisi, pasti sisi negatifnya ada.

Untuk saat ini, rencana yang tengah dipersiapkan oleh KPR yaitu ia tengah bersiap untuk membuat album baru. Karena mereka hobi bermain musik, mereka sudah mempunyai lagu yang banyak. “Tungguin aja deh pokoknya lagu kami,” Coki mengakhiri pembicaraan.

Wah, jadi seperti itulah cerita tentang Kelompok Penerbang Roket. Sekarang Sobat MuDa sudah nggak penasaran lagi kan. Yuk kita ramaikan playlist kita dengan lagu rock khususnya lagu-lagu dari KPR.

Rafi Ramadhan, Siswa SMA Negeri 1 Jakarta, Magangers Kompas MuDa Harian Kompas 2019