Petang di Kramat Raya

0
101

Matahari sudah bosan mengintip kaum urban di Ibu kota

Pukul lima, jalanan ibu kota selalu ramai diiringi alunan berbagai suara

Mesin-mesin itu tertawa lepas menghantarkan racun udara

Pagi, siang, dan malam aroma kesibukan selalu tercium di teras Ibu kota

Aku berjalan membawa roti isi moka

Tepat Di jalan Kramat Raya, semua orang sibuk menjemput urusannya

Aku bingung, ingin terseyum kepada siapa?

Sedangkan mereka lupa bahwa kita manusia Indonesia

Paling ramah dan senyum yang murah—aku pikir itu hanya katanya

Petang di Kramat Raya, aku seperti diajak bercanda, sungguh tak percaya Jakarta tak lagi diadopsi Ibu kota

Rizqi Fadillah, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir Jakarta