Mengenal Karya Literasi Braille

0
23

Ikatan Penerbit Indonesia bekerjasama dengan Kemendikbud dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali menyelenggarakan Indonesia International Book Festival (IIBF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Pameran ini menghadirkan ragam koleksi buku, dari buku pelajaran hingga karya sastra karya dalam dan luar negeri. Tidak hanya sebagai ajang jual beli buku, acara yang dimulai pada Rabu (04/09/2019) ini juga diharapkan bisa menjadi wisata buku dan meningkatkan literasi generasi muda.

Tidak hanya pada buku bergambar atau dengan tulisan, IIBF 2019 juga menghadirkan buku dengan bahasa braille. Kehadiran Badan Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso pada IIBF 2019 membuat para pengunjung bisa mengetahui lebih detil tentang karya literasi berbasis braille. Braille adalah bahasa internasional untuk membantu kaum tuna netra yang terdiri dari 6 titik sebagai pola dasar.

Bertujuan untuk menyetarakan dan memberikan aksesibilitas netra melalui literasi Braille, BLBI Abiyoso menyediakan karya literasi netra dalam beragam bentuk.  Beberapa diantaranya adalah buku yang disuarakan kembali dalam bentuk audio dan buku dalam bahasa braille yang menggunakan teknik cetak timbul atau emboss. Tidak hanya dalam bahasa, notasi musik juga bisa diterjemahkan kedalam braille.

“Jadi ini braille ini tidak hanya dalam (bahasa) Indonesia, Arab, matematika, bahkan notasi musik juga bisa. Jadi notasi ini dari 100 tahun sudah ada, namun kurang publikasi di Indonesia,” terang Hendra Kusuma (35) sembari menunjukkan buku karyanya.

Salah satu hasil buku bicara dalam bentuk audio berjudul “Rentang Kisah” yang dipajang di IIBF 2019, Jakarta, Rabu (04/09/2019) (Foto: Nashya Tamara)

Selain menerjemahkan karya yang sudah ada kedalam braille, BLBI Abiyoso juga menerima karya yang dikirim teman-teman tunanetra dan menjadikannya kumpulan majalah yang terbit setiap dua bulan. Untuk mencetak huruf braille tidak mudah, diperlukan ketebalan kertas tertentu dan alat khusus. Penulisan menggunakan braille juga memakan lebih banyak tempat, satu lembar huruf latin sama dengan tiga lembar huruf braille.

Salah satu metode mencetak karya netra bisa dengan menggunakan mesin ketik untuk braille. Uniknya, sesuai dengan jumlah titik yang menjadi pola dasar braille, tombol yang ada pada mesin tik hanya ada 9. Tombol tersebut terdiri dari posisi titik 1 sampai 6, enter, spasi dan pilihan untuk kembali ke baris atas. Beberapa tombol harus ditekan bersamaan untuk membentuk huruf tertentu.

Hendra Kusuma (35) menggunakan mesin tik braille. (Foto: Nashya Tamara)

Cara paling mudah menulis braille dengan menggunakan pantule, papan kayu berlubang yang diisi dengan paku kecil sesuai huruf yang ingin ditulis. Biasanya, pemula dalam menulis braille menggunakan alat ini sebagai sarana belajar. Namun, metode menulis yang paling sering digunakan adalah reglet, papan plastik dan alat mirip jarum seperti “pensil”.

“Jadi setelah ditulis, hasilnya dibalik agar dapat dibaca. Memang ada kesulitan tersendiri kalau pakai ini (reglet),” ujar Hendra.

Lewat ragam karya yang ditampilkan membuktikan bahwa tidak ada halangan untuk membaca dan mengenalkan literasi. Siapapun bisa memiliki akses untuk membuat dan membaca karya lewat beragam medium, termasuk dalam bahasa braille.

Nashya Tamara, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara, saat ini sedang magang di Kompas Muda Harian Kompas