Peliknya Masalah di Desa Ponu, Perbatasan Nusa Tenggara Timor dan Timor Timur

0
77

Jika pernah membaca buku berjudul Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi mungkin kalian bisa membayangkan dengan mudah kondisi di Desa Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Panas, gersang, sabana sejauh mata memandang. Ditambah dengan sopi, pesta, dan orang-orang transmigran.

Sebagai salah satu desa terluar di wilayah perbatasan dengan Timor Timur, Desa Ponu tidak hanya dihuni oleh masyarakat asli Biboki Anleu. Tetapi, Desa Ponu juga dihuni oleh transmigran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan eks warga yang dulu tinggal di Timor Timur.

Desa Ponu terletak di sudut tenggara NKRI, lebih tepatnya di Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Karena sebagian besar warganya adalah transmigran, desa Ponu dilabeli sebagai kawasan perkotaan baru (KPB) oleh Kementerian Desa, Pembagunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendestrans).  Selain transmigran, banyak pula warga dari Timor Timur yang pindah ke Desa Ponu karena kerusuhan tahun 1999.

Foto udara Desa Ponu. Foto: Lugas Surya P.

Tahun 2019 merupakan tahun ketiga Universitas Gadjah Mada Yogyakarta  mengirimkan Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) ke Desa Ponu. Pada tahun ini, Tim KKN PPM UGM Unit NT-019 yang bekerjasama dengan Kemendestrans mengusung tema “Revitalisasi Kawasan Transmigrasi di KPB Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur”. Beranggotakan 30 orang yang berasal dari fakultas yang berbeda-beda, Tim KKN PPM UGM NT-019 melaksanakan berbagai program yang bertujuan untuk pemberdayaan dan pendampingan masyarakat baik dalam bidang peternakan, pertanian, perikanan, maupun sosial budaya seperti pendidikan dan pariwisata.

Tingginya angka stunting

Dari segi kesehatan, angka stunting di Kecamatan Biboki Anleu masih cukup tinggi. Berdasarkan data Pantauan Status Gizi (PSG), pada tahun 2017, NTT merupakan provinsi dengan prevalensi stunting bayi tertinggi, yakni mencapai 40,3 persen. Stunting identik dengan masalah kurangnya asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga pertumbuhan fisik dan otak terhambat.

Menindaklanjuti masalah tersebut, TIM KKN PPM UGM Unit NT-019 mengadakan program sosialisasi stunting kepada ibu hamil dan ibu yang masih memiliki balita di sembilan desa di Kecamatan Biboki Anleu. Sebagai kelanjutan dari sosialisasi, diadakan pula pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita yang masuk kategori stunting. Diharapkan dengan adanya program ini, pemahaman para ibu mengenai stunting dapat bertambah dan dapat mencegah serta mengurangi angka stunting.

Sabana di sesa Ponu, di perbatasan Nusa Tenggara Timur dan negara tetangga, Timor Timur. Foto: Hariz Ghifari

Masalah stunting memang terlihat secara kasat mata di Desa Ponu. Tidak sedikit anak-anak yang sudah berusia sembilan tahun masih duduk di kelas 2 SD. Padahal, berdasarkan aturan baru Kemendikbud, anak usia 9 tahun seharusnya sudah duduk di bangku kelas 3-4 SD. Seperti yang disebutkan sebelumnya, stunting juga menghambat pertumbuhan otak dan menyebabkan kemampuan belajar berkurang.

Hal ini yang kemudian memicu TIM KKN PPM UGM Unit NT-019 untuk mengadakan program yang berfokus pada sekolah dan anak SD. Selama satu minggu, tim terbagi ke kelompok-kelompok kecil yang masuk ke setiap kelas di semua sekolah di Desa Ponu mulai dari SD hingga SMA dengan materi berbeda-beda. Di penghujung program, kami mengadakan olimpiade sains dan lomba baca puisi serta pidato untuk anak SD.

“Diharapkan dengan adanya program-program ini, anak-anak Desa Ponu dapat termotivasi dan lebih semangat untuk belajar, kata Lodovikus Meko, Kepala Desa Ponu. Ia mengharapkan, ketika nanti kakak-kakak peserta KKN PPM UGM sudah kembali ke Yogyakarta, olimpiade dan perlombaan tersebut bisa terus dilanjutkan setiap tahun.

Kesulitan air bersih

Pemandangan berupa sawah kering dengan hewan ternak yang berkeliaran bebas sangatlah lazim di Desa Ponu. Kekeringan memang merupakan salah satu masalah utama desa itu. Curah hujan yang rendah dan tidak menentu menyebabkan warga Desa Ponu hanya bisa bisa panen hasil tanaman mereka satu kali dalam setahun.

Itu pun hasil panen hanya disimpan untuk konsumsi pribadi sampai musim hujan berikutnya. Warga sekitar mengaku, hujan di Desa Ponu hanya terjadi pada bulan November-Januari. Kadang-kadang, hujan turun beberapa kali di bulan Oktober.

Hamparan sawah kering di Desa Ponu. Foto: Hariz Ghifari

Masalah kekeringan juga diperparah oleh minimnya sumber air bersih. Kondisi geografis Desa Ponu yang didominasi batuan kapur menyebabkan air tanah dikontaminasi oleh air asin. Hal ini terjadi karena terdapat pengangkatan batuan tidak dalam waktu lama dan terjadi intrusi air laut yang cukup jauh sehingga banyak ditemukan sumur air asin. Keadaan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menjualbelikan air bersih kepada warga.

“Satu drum air dijual Rp 15.000. Dalam satu hari biasanya kami butuh minimal dua drum, jadi setiap hari harus beli,” kata Frans, salah satu warga Desa Ponu.

Hampir seluruh warga di Desa Ponu memiliki hewan ternak mulai dari sapi, babi, kambing, ayam, dan kerbau. Uniknya, hewan ternak ini berkeliaran bebas dan tidak dikandang oleh pemiliknya. Hewan ternak juga hanya menjadi aset untuk dijualbelikan tanpa diolah terlebih dahulu.

Untuk mendukung potensi di bidang peternakan dan pertanian, kami juga mengadakan program seperti pembuatan pupuk kompos, pembuatan mineral blok, pembuatan nugget ikan, pembuatan sabun berbahan daun kelor, pengobatan dan pemberian vaksin untuk hewan ternak, dan lainnya.

Tenun Biboki

Selayaknya wilayah lain di NTT, para perempuan di Desa Ponu juga perajin tenun. Motif tenun yang hanya dapat ditemui di wilayah ini adalah motif tenun Biboki. Dalam satu bulan, biasanya mereka bisa membuat satu tais (kain panjang untuk perempuan), satu beti (kain panjang untuk laki-laki), dan satu selendang. Sedikit memang, karena alat yang digunakan masih tradisional, pembuatan tenun bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Tenun Motif Biboki. Foto: Hariz Ghifari

Tetapi sayangnya, tenun di Desa Ponu masih belum menjadi komoditas utama. Biasanya ibu-ibu perajin tenun hanya membuat tenun untuk pribadi atau tetangga saja saat tenun dibutuhkan untuk penggunaan tertentu. Pun ketika musim penghujan tiba, seluruh kegiatan tenun terhenti karena para ibu akan ikut turun ke sawah.

“Biasanya kami tenun kalau ada yang butuh untuk seragam sekolah atau upacara adat. Kadang-kadang  pembayarannya tidak pakai uang, tapi ditukar sama ternak yang nilainya sepadan,” kata Mama Nela, salah satu ketua kelompok tenun di Desa Ponu.

Melihat potensi yang ada pada bidang tenun, Tim KKN PPM UGM Unit NT-019 juga melakukan pembinaan terhadap kelompok tenun yang sudah terbentuk. Pembinaan tersebut dalam bentuk sosialisasi pemasaran konvensional, pemasaran digital, pembuatan katalog, dan pembukuan produk.

KKN PPM UGM menjadi salah satu medium bagi mahasiswa untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai wilayah-wilayah pelosok di Indonesia. Namun, tentu saja ini tidak cukup. Sebagai mahasiswa, kemampuan kami masih terbatas untuk membantu memberdayakan Desa Ponu.

Kondisi Desa Ponu dengan segudang masalahnya masih membutuhkan banyak perhatian dari berbagai pihak. Mulai dari instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga pihak swasta harus ikut serta dalam membangun wilayah-wilayah terluar Republik Indonesia.

Hasya Nindita, mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pernah melakukan KKN PPM UGM tahun 2019 di Desa Ponu, Kecamatan Bibeku Anlui, Kabupaten Timor Tengah utara, Nusa Tenggara Timur.