Terapi Sel Punca, Solusi Medis bagi Penderita Autisme

0
146

Autisme, dikenal dengan istilah autism spectrum disorder (ASD), yang merupakan ketidakmampuan atau keterbatasan penderita untuk bersosialisasi, melakukan rutinitas, dan berbicara di depan umum. Gejala autisme dapat tampak dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun psikis, sehingga mereka diperlakukan berbeda di masyarakat. Padahal, mereka memiliki potensi yang luar biasa.

Menurut Institute of Education London, Inggris, 28 persen penderita ASD memiliki IQ rata – rata (85>IQ>115). Bahkan, 3 persen di antaranya memiliki IQ superior (IQ > 115). Di sisi lain, hanya 16 persen penderita yang memiliki IQ sangat rendah (IQ<50). Oleh karena itu, diperlukan mekanisme rehabilitasi medis autisme untuk memaksimalkan potensi kecerdasan mereka. Salah satu metode itu adalah penanaman sumsum tulang belakang (autologous bone marrow cell therapy).

Autologous bone marrow cell therapy merupakan terapi sel punca (stem cell) secara mandiri menggunakan sel monosit pada sumsum tulang belakang pasien. Sel itu akan ditransplantasi di arachnoid mater, meninges  atau lapisan pelindung pada otak.

Pertama, dilakukan assessment kepada pasien lewat MRI dan EEG untuk mengetahui kondisi awal. Lalu, tim dokter menentukan tingkat granulocyte colony stimulating factor (GCSF), glikoprotein yang mengatur pembentukan stem cell di tulang belakang pada pasien sebelum pengambilan sampel.

Jika nilai GCSF mencukupi, 80 – 100 mili sumsum tulang belakang akan diambil dan disimpan dalam wadah berisi heparin untuk mencegah penggumpalan darah. Setelah itu, dengan metode density gradient, sel CD34+, sel punca hematopoetik, diambil dan ditransplantasikan di lapisan intrathecal otak pada hari yang sama. CD34+ dipilih karena adanya korelasi positif dengan tingkat perfusi pada jaringan target sehingga dapat mengatasi hipoperfusi pada jaringan saraf yang diduga sebagai penyebab autisme.

Selain itu, sel ini dapat mengatasi hipoksia (kekurangan oksigen pada jaringan) yang berdampak negatif pada IQ penderita. Setelah proses pencangkokan selesai, pasien akan menjalani proses terapi khusus dari berbagai aspek, seperti psikologi, terapi bicara, diet khusus, dan pengaturan aktivitas sehari – hari (activities of daily leaving / ADL).

Siklus Kerja Diferensiasi Sel CD34+. Sumber : American Society of Hematology

Metode ini merupakan diversifikasi penggunaan BMCs (Bone Monunuclear Cells) dalam terapi jaringan tulang. Pada jaringan tulang, BMCs yang ditanam pada Beta Tri-kalsium Fosfat memiliki compatibility rate hingga 95%. Dibanding terapi serupa, seperti penggunaan stem cell eksternal (cultivated stem cell) dan sel endotel pembuluh darah (endothelial progenitor cell), BMC menghasilkan pembuluh & struktur yang lebih kompleks.

Konsep tersebut linear dengan keperluan pembentukan pembuluh darah pada sistem saraf otak & perbaikan sistem imunitas yang cukup rumit. Diharapkan, reaksi yang terjadi memiliki efektivitas yang sama.

Prosedur Kerja Transplantasi Sel Punca Mandiri. Sumber : Columbia University Irving Medical Center

Terapi ini lebih efektif dibandingkan obat – obatan yang sudah ada. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), obat umum untuk penderita autisme, adalah depresan untuk depresi berat. Metode itu dapat menyebabkan insomnia serius, kenaikan risiko bunuh diri (terutama pada anak – anak), dan pendarahan (menghambat pembentukan serotonin menjadi keping darah).

Bahkan, penggunaan SSRI pada wanita dewasa, terutama pada masa prenatal, dapat memicu autisme. Selain itu, tidak ditemukan korelasi positif dengan gejala inti ASD, seperti keinginan bersosialisasi dan kemampuan linguistik.

Metode tersebut memang masih memiliki banyak kekurangan. Density gradient centrifugation (DMC), sistem isolasi sel monosit (cryopreservation), hanya memiliki prosentase keberhasilan rata-rata sebesar 25 persen. Artinya, nilai GCSF minimum pasien lebih tinggi sehingga tidak semua penderita dapat menjalani terapi ini.

Selain itu, proses autologous transplant pada umumnya masih memerlukan kemoterapi sebagai tindakan praoperasi, khususnya high-dose chemotherapy (HDCT). Akibatnya, pasien mengalami efek samping yang cukup berat, seperti mual berat, kerontokan rambut, dan penurunan berat badan secara signifikan.

Autisme merupakan isu bersama. Namun, masyarakat sering memandang ini sebagai gangguan psikis tanpa memerhatikan aspek medis dalam penyelesaiannya. Terapi sel punca dapat meningkatkan IQ penderita autisme serta memperbaiki insentif dan kemampuan sosial. Dengan sumber daya yang mudah didapat, semoga terapi sel punca sumsum tulang belakang dapat dikembangkan dan menjadi solusi universal di seluruh dunia.

Jonathan Salomo, mahasiswa Teknik Biomedis (K-01 Biokimia), Institut Teknologi Bandung.