Dieng Culture Festival, Tombak Pembaharuan Kehidupan Sosial Ekonomi Dieng

0
200

Geliat perkembangan pariwisata kian hari kian menarik perhatian masyarakat dan menjadi primadona baru bagi keunggulan pembangunan sebuah daerah. Dinamika gerak pariwisata ini mewujud dalam berbagai pendekatan diantaranya sustainable tourism development, village tourism, ecotourism, dan masih banyak lagi.

Salah satu pendekatan alternatif dalam pengembangan wisata yakni desa wisata. Konsep desa wisata ini menekankan dorongan bagi desa agar dapat membangun dan mengelola potensi wisata secara berkelanjutan dengan bercirikan prinsip keterlibatan masyarakat setempat sebagai pelaku wisata dan adanya hubungan timbal balik antara masyarakat dan wisatawan. Potensi pedesaan seperti sumber daya alam, budaya, etnis, dan geografis dapat menjadi modal untuk pengembangan desa wisata.

Merintis dari bawah untuk menjadi desa wisata, Desa Dieng Kulon yang berlokasi di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah menorehkan sejarah panjang dalam perjalanannya. Diskusi yang terjadi antara Alif, Ketua Karang Taruna Dieng Kulon, dengan tim KKN PPM UGM pada tahun 2009 bermuara pada tekad untuk melanjutkan upaya para sesepuh untuk memelihara kebudayaan Dieng dalam rupa acara gelar budaya.

Acara itu merupakan ritual adat yang dilakukan masyarakat Dieng setiap tahun, yakni ruwat pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng, pagelaran wayang kulit, serta kesenian-kesenian daerah yang disuguhkan oleh tiap Rukun Tetangga (RT) di Desa Dieng Kulon.

Selain untuk memelihara budaya, acara tersebut di sisi lain juga menjadi wadah bagi para pemuda untuk berkarya dan mengisi kegiatan sehari-hari. Guna memberikan sentuhan kesegaran baru, acara gelar budaya ini berganti nama menjadi Dieng Culture Festival (DCF).

Adalah Apriliyanto, salah satu pemuda Dieng yang turut berkontribusi dalam mengembangkan acara DCF. Ide awal penyegaran konsep acara gelar budaya diinisiasi oleh pemuda-pemuda Dieng Kulon. Gelar budaya yang semula hanya berisi ritual adat kemudian coba dikombinasikan dengan sentuhan modern berupa penerbangan lampion dan acara musik yang disesuaikan dengan selera pasar.

Pemuda yang kerap disapa dengan nama Ape itu mengatakan, target pengunjung acara saat itu hanyalah warga lokal Dieng dan traveler yang tertarik terhadap budaya saja. Pada tahun 2012, ide ini mulai digodok dan menuai ketertarikan pemuda-pemuda lainnya untuk bergabung dalam kepanitiaan DCF. Ketertarikan para pemuda ini dibarengi dengan mulai merebaknya program kelompok sadar wisata (pokdarwis) di Dieng Kulon. Setahun berselang, pada tahun 2013, DCF mendapat relawan yang direkomendasikan  wakil bupati Banjarnegara untuk membantu penggodokan ide pembaharuan DCF.

Sumber Foto: Aji Wiko (Sosial Ekonomi Pertanian 2016). Penampilan Band Pusakata di DCF 2019 Jumat (2/8)

Kala itu, biaya menjadi salah satu hambatan untuk mengeksekusi acara yakni untuk merekrut talent dan terkait hal operasional lainnya. Anggaran berasal dari rupiah yang disisihkan oleh panitia dan bantuan dari beberapa pihak.

Setahun berikutnya, tahun 2014, acara ini sempat tidak mendapatkan izin penyelenggaraan pada venue. Meski tak mendapati izin, tahun 2014 justru menjadi momen pacuan bagi Ape dan kawan-kawan. Untuk kali pertama timnya melihat DCF dipenuhi oleh banyak wisatawan dari berbagai kota di Indonesia. Rupanya, lampion dan musik jaz menjadi nilai jual sekaligus umpan bagi masyarakat untuk datang ke DCF dan menyaksikan berbagai rangkaian acara yang disuguhkan.

Dengan bantuan media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, DCF kian dikenal oleh masyarakat luas. Kehadiran masyarakat ke acara itu bagaikan percikan bahan bakar yang mengobarkan semangat Ape dan kawan-kawan untuk terus belajar, berinovasi, dan berjuang guna menciptakan festival yang lebih akbar lagi.

“Kalau tujuannya berorientasi pada keuntungan maka mungkin udah menyerah tahun 2013,” ujar Arifin, salah satu penggagas DCF. Diakui Ape dan Arifin bahwa DCF ini menjadi tonggak sejarah perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Dieng. Hadirnya DCF membawa angin segar yang membuka pintu bagi mata pencaharian baru di Dieng.

Seiring berkembangnya DCF, masyarakat Dieng sebagai tuan rumah menjamu para wisatawan yang datang dengan menyediakan penginapan rumahan, memandu wisata, dan menjual oleh-oleh khas Dieng seperti Carica. “Waktu tahun 2006, cuma ada enam penginapan rumahan di Dieng. Tetapi sekarang penginapan rumahan sudah menjamur. Mulai muncul guide-guide baru juga,” jelas Ape.

Tahun 2015 hingga 2017 dapat dikatakan menjadi masa peralihan kehidupan sosial ekonomi Dieng. Sebelum berkembangnya DCF, kehidupan ekonomi di sektor pertanian masih menjadi andalan dan menjadi muara pencarian pundi-pundi rupiah yang diidolakan oleh masyarakat Dieng. Namun setelah itu, hal tersebut berganti kepada sektor pariwisata yang perlahan-lahan naik daun.

Masyarakat terlibat langsung sebagai pelaku wisata di Desa Dieng Kulon dan memperoleh manfaat material dan nonmaterial yang mampu menguatkan perekonomian dan kehidupan sosial masayarakat Dieng. “Keuntungan setelah even luar itu, luar biasa tiap tahun. Apa? Jaringan yang didapatkan dari DCF. Bisa kenal artis, manajemen artis, wisatawan, penggiat wisata, akademisi, dan masih banyak lagi,” tutur Ape.

Sempat berbagi cerita personal, Arifin juga membenarkan bahwa DCF memberikan manfaat yang luar biasa, terutama bagi keluarganya. “Saya sebagai pegiat DCF. Istri saya punya penginapan rumahan dan jualan oleh-oleh,” ujar Arifin. Dampak positif tak hanya dirasakan di Desa Dieng Kulon, tetapi juga desa sekitar seperti Pekasiran, Bakal, Sumberejo, Pasurenan, Karang Tengah dan meluas hingga ke kota, seperti Banjanegara, Batang, dan Pekalongan.

Sumber Foto: Aji Wiko (Sosial Ekonomi Pertanian 2016). Java Coffee Festival DCF 2019 Sabtu (3/8)

Ketika ditanya terkait semangat melanjutkan DCF, Ape mengakui bahwa kepuasan dalam diri sendiri dan kepuasan melihat perbaikan taraf hidup keluarga-keluarga di Dieng menjadi yang utama. Sempat berada di titik jenuh, Ape dan Arifin tetap terus berusaha untuk melaju dan menyatukan visi misi di kalangan pemuda.

Tanggal 2-4 Agustus lalu 2019, DCF kembali diadakan. Ini menjadi gelaran DCF ke-10 dan menjadi penanda bahwa sudah satu dekade festival ini melenggang dan membawa cerita bagi kehidupan masyarakat Dieng. Sampai sekarang ada sembilan acara yang ada dalam tiga hari rangkaian acara DCF, yakni Ritual Adat Pencukuran Rambut Gembel, Senandung Negeri di Atas Awan, Jazz Atas Awan, Java Coffee Festival, Sky Lantern Festival, Aksi Dieng Bersih, Sarasehan Budaya, Festival Artistik, dan Pagelaran Kesenian Tradisional Dataran Tinggi Dieng yang dihadiri oleh ratusan ribu penonton dari tahun ke tahun.

Kesiapan sumber daya manusia menjadi poin perhatian yang ditekankan seiring dengan gelaran festival yang kian akbar, seperti perihal kesiapan mental menjelang acara dan tata perilaku menjamu tamu. Ape dan timnya terus menggodok hal tersebut demi menjadi tuan rumah yang lebih baik lagi.

Kecap miring dari kiri kanan tak lantas menjatuhkan asa Ape dan kawan-kawan untuk melaju. Capaian-capaian yang berhasil diperoleh juga tak lantas membuat timnya berpuas diri. Terselip mimpi besar darinya bagi DCF untuk mendapat nama dan melenggang di ranah mancanegara sehingga budaya dan pesona Dieng dapat dinikmati oleh lebih banyak orang lagi di muka bumi ini.

Teks : Cyrilla Wikan, mahasiswi Akuntansi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Angkatan 2016

Foto: Aji Wiko, mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Angkatan 2016