Menemukan Indonesia

0
122

Bicara tentang Indonesia, kita pasti berpikiran bahwa Indonesia adalah sebuah negara saja seperti ketika mendengar nama negara lain seperti biasa. Padahal sebenarnya Indonesia tidak hanya sebatas nama negara. Indonesia terbentuk dengan rentetan sejarah dan perjuangan yang amat panjang.

Terbentuknya Indonesia menjadikan refleksi bagi kita untuk memaknai arti Indonesia yang sepenuhnya. Ketika sudah merefleksikan seperti apa terbentuknya Indonesia dapat dipastikan kita akan mengerti makna dari Indonesia secara keseluruhan mulai dari pondasi hingga ke titik paling puncak dari Indonesia tersebut.

Penindas saat ini tidak hanya sebatas sosok manusia saja, jika kita memaknai penindas secara luas

Tak lepas dari sejarah Indonesia dulunya negara terjajah selama berabad-abad, dimana para pendahulu kita bertaruh nyawa secara bersama-sama berjuang untuk lepas dari penindasan. Dari satu titik poin tersebut kita bisa mengatakan bahwa negara ini terbentuk dengan perjuangan masyarakat sosial yang memandang penindas sebagai hal yang harus dilawan.

Memaknai penindas di waktu sekarang, tidak hanya dipandang sebagai manusia beringas berperawakan sangar nan kejam. Penindas saat ini tidak hanya sebatas sosok manusia saja, jika kita memaknai penindas secara luas. Kita bisa melihat bahwa penindas bisa dimanifestasikan kedalam hal apapun. Sebagai contoh, penindas dari dalam individu seorang manusia adalah sifat egois yang akan merundung diri sendiri bahkan orang lain.

Sifat egois seseorang bisa dikatakan sebagai penindas karena sifat egois akan mengurung berbagai sifat, pemikiran maupun perilaku manusia dari kondisi manusia yang sebenarnya. Secara lebih luas kita juga bisa menemukan penindas dalam suatu sistem.

Sistem yang mengurung suara, pemikiran dan tindakan seseorang adalah penindas. Melihat refleksi Indonesia dari satu sisi tersebut kita bisa sedikit mengerti bahwa terbentuknya Indonesia berasal dari kesadaran akan hal-hal yang bersifat menindas. Ketika seseorang paham makna dari “penindas(an)” maka seseorang tersebut dapat dipastikan akan melawan, bukan malah mendukung, terlebih terlibat sebagai penindas.

Dalam memahami makna Indonesia memang tak lepas dari sejarah. Pemahaman berbasis sejarah cukup membantu seseorang dalam proses belajar. Namun sebagai manusia yang dibekali akal budi, kita harus menggunakan bagian akal budi kita yakni logika. Ketika kita merefleksikan sesuatu, salah satunya sejarah, kita tetap harus menggunakan logika kita.

Baiknya kita tidak boleh mengeluarkan judgement secara sepihak. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang, dan kita harus tahu dasar masalah yang ada pada kala dimana sejarah itu kita masuki dengan pemikiran kita. Dengan kata lain ketika mengulik fenomena, kita harus tahu dialek fenomena tersebut. Dalam contoh diatas, perjuangan pahlawan kemerdekaan Indonesia tak lain didasari karena munculnya penindasan.

Untuk menjadi seorang yang Indonesia-is seseorang tidak harus sehebat apa yang dilakukan para pahlawan kita dahulu. Kita bisa mulai dengan diri sendiri

Kemudian sebagai manusia yang berakal budi, manusia tahu apa yang harus mereka lakukan. Setelah itu terjadi munculah perjuangan secara masif dari masyarakat terhadap penindas. Keputusan untuk melakukan perjuangan tidak didasari dengan keegoisan diri seseorang, namun perjuangan didasari dengan pemahaman akan kehidupan selayaknya manusia yang sebenarnya, bahwa semua manusia tidak berkelas. Tidak ada penindas maupun kaum tertindas. Dengan dasar pemahaman tersebut para pejuang Indonesia menjadi pasukan yang sangat kuat.

Untuk menjadi seorang yang Indonesia-is seseorang tidak harus sehebat apa yang dilakukan para pahlawan kita dahulu. Kita bisa mulai dengan diri sendiri. Kita harus meningkatkan kepekaan diri kita terhadap penindas-penindas yang ada disekitas kita, bahkan yang ada dalam diri kita sendiri. Setelah semua manusia menyadari penindas yang ada dalam dirinya, berupa kecemasan,ketakutan,kefanatikan, dan masih banyak lagi, semua orang akan dapat mengalahkannya.

Dan persatuan akan terjalin untuk bersama-sama melawan penindasan dari penindas yang mengancam sekumpulan manusia itu sendiri. Ketika persatuan terjadi, seseorang tidak menganggap sesuatu yang berbeda dari diri seseorang sebagai penindas bagi dirinya. Jika ditarik sejarah kembali, pahlawan kita tidak memedulikan mereka dari suku,ras,warna kulit,dll satu dengan yang lainnya, karena mereka paham hal tersebut bukanlah penindas.

Hal tersebut dapat kita wujudkan saat ini. Persatuan akan terjadi dan kita dapat bersatu untuk bersama-sama melawan penindasan yang sama, penindas yang menindas kemanusiawian manusia bukanlah penindas yang yang anggap merampas nafsu kita, yang merampas kefanatikan kita.

Justru sifat-sifat itulah yang harus kita sadari sebagai penindas dalam diri kita, sifat-sifat yang menindas kemanusiawian diri kita sebagai manusia. Sebab, kesadaran diri manusia akan penindas kemanusiawian diri manusia, akan memunculkan masyarakat tanpa sekat, mereka memiliki satu tujuan untuk kebebasan yang manusiawi bagi semua manusia.

Melihat dari secuil sisi rentetan terbentuknya Indonesia tersebut, kita bisa mengetahui makna Indonesia yang sebenarnya. Dimana kesatuan masyarakat tanpa sekat terbentuk, disitu jiwa Indonesia ada dalam hati setiap manusianya. Merdeka!!!

Erico Dwi Setyawan, mahasiswa jurusan  Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.