Lebih Produktif dengan Manajemen Konflik Efektif

0
16

Konflik merupakan hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai individu yang mandiri maupun dalam berkelompok. Menurut KBBI, konflik juga dapat diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Dalam hal ini kita dapat melihat konflik dari tiga sudut pandang, yang meliputi sudut pandang tradisional, hubungan antar manusia, dan interaksionis.

Pertama konflik dari sudut pandang tradisional. Dalam sudut pandang ini, konflik dianggap sebagai hal yang buruk dan dapat memecah belah kelompok sehingga harus dihindari dan dicegah sedini mungkin. Sedangkan konflik dari sudut pandang hubungan antar manusia dianggap sebagai hal yang alami dan tidak dapat dihindari.

Yang ke tiga konflik dari sudut pandang interaksionis dianggap sebagai sesuatu yang penting bagi suatu kelompok. Menurut pandangan ini, konflik dipandang dapat meningkatkan kinerja kelompok agar lebih efektif.

Dalam pandangan interaksionis, kita dapat menggolongkan konflik menjadi dua kategori yang meliputi, fungsional dan disfungsional. Konflik yang digolongkan sebagai konflik fungsional meliputi konflik konflik yang dapat menunjang kinerja kelompok dan mendukung tujuan kelompok. Konflik jenis ini dapat terjadi pada saat konflik tersebut berada pada tingkatan yang optimal dan dapat menciptakan karakteristik kelompok yang kritis dan inovatif sehingga kinerja kelompok tersebut dapat semakin meningkat.

Salah satu konflik yang dapat digolongkan sebagai konflik yang fungsional adalah konflik tugas. Konflik tugas merupakan konflik atas muatan pekerjaan dan tujuan kelompok. Konflik ini merangsang munculnya ide ide dalam pemecahan masalahnya, sehingga kelompok tersebut dapat menjadi lebih inovatif dalam menyelesaikan pekerjaannya.

konflik disfungsional justru dapat tidak berpengaruh atau bahkan menghambat kinerja kelompok

Contoh kedua, konflik proses dalam tingkat rendah dan menengah. Konflik proses merupakan konflik mengenai bagaimana suatu tugas dapat dikerjakan. Dalam tingkat optimal, konflik proses ini dapat membuat pekerjaan dikerjakan dengan lebih efektif dan efisien.

Berbeda dengan konflik fungsional, konflik disfungsional justru dapat tidak berpengaruh atau bahkan menghambat kinerja kelompok. Konflik jenis ini terjadi apabila kelompok tersebut memiliki konflik dalam tingkatan yang terlalu tinggi, terlalu rendah, atau bahkan tidak ada.

Dalam situasi ada kelompok yang memiliki tingkat konflik yang terlalu rendah atau bahkan tidak ada konflik yang terjadi, kelompok tersebut akan menjadi stagnan, tidak responsive, dan tidak inovatif. Sedangkan apabila situasi konflik dalam kelompok tersebut terlalu tinggi, maka pasti akan menimbulkan kekacauan.

Kedua situasi ini dapat menyebabkan tingkat kinerja kelompok menjadi rendah. Salah satu contoh konflik yang termasuk kedalam konflik disfungsional ini adalah konflik hubungan. Konflik hubungan merupakan konflik yang disebabkan oleh hubungan antar manusia.

Hampir semua bentuk konflik hubungan merupakan konflik disfungsional, karena perselisihan dan permusuhan hanya dapat menghambat penyelesaian pekerjaan. Selain konflik hubungan, konflik proses tingkat tinggi juga dapat digolongkan kedalam konflik disfungsional, karena dapat menghasilkan ketidakpastian terhadap pekerjaan yang hendak dilaksanakan sehingga menghambat proses penyelesaian pekerjaan tersebut.

Penggolongan konflik

Untuk dapat mengatasi konflik yang terjadi dalam kelompok, pertama, kita harus dapat menggolongkan konflik tersebut, apakah ia merupakan konflik fungsional atau disfungsional. Kemudian langkah berikutnya kita dapat menentukan reaksi apa yang harus kita berikan terhadap konflik tersebut.

Ada lima jenis reaksi yang dapat diberikan terhadap suatu konflik, diantaranya penghindaran, pengakomodasian, pemaksaan,  kompromi, dan kolaborasi. Penghindaran merupakan reaksi menarik diri dari konflik tersebut atau menekan konflik. Jenis kedua adalah pengakomodasian, dimana konflik tersebut ditangani dengan cara mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang lain.

Ketiga, pemaksaan. Pemaksaan merupakan bentuk penanganan konflik dengan mengorbankan kepentingan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Selanjutnya ada penanganan konflik dengan kompromi yang merupakan penanganan konflik dimana setiap pihak berkorban agar konflik terpecahkan. Terakhir adalah kolaborasi. Kolaborasi merupakan penanganan konflik dengan mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak.

Meinar Lutfiah Hartono