Kopi Ku

0
100

Pagi Menyapa engaku sudah mulai mencariku

Demikian pula saat siang, malam hingga larut malam hingga pagi lagi

Aku heran, kenapa aku selalu dicari dari hari ke hari, dari waktu ke waktu,

Rasaku sejatinya pahit;

Kopi hitam pahit, pekat.

Adapula,

Ditambah gula, terkadang jahe juga susu

Kopi manis tetapi tetap kopi, kopi pahit

Biar terasa, biar lebih segar dan terbelalak

Ku banyak dicari di kedai, cafe, hingga kaki lima.

Banyak yang mengadu padaku karena rindu,

Banyak menghampiriku karena mengobati atau penghilang rasa ngantuk berat

Banyak yang meracikku dengan berbagai aroma sebagai penyambung silaturahmi

Aromaku selalu menggoda tidak memandang usia

Biji dan serbuk tersebar hampir merata di penjuru Nusantara.

Banyak petani terpihara karenaku

Banyak pedagang tersenyum oleh larisnya aku berkeliling.

Aku tidak tahu sejak kapan aku disukai dan laris karena khas hitamku,

Teguk demi teguk menjadikan aku kian diminati, tetapi tetap kopi rasa negeri menjadi ciri

Lagi dan lagi aku selalu dinanti ketika dingin datang menghadang, ibarat obat sebagai penghangat

Tumbuh-tumbuh dimana bijiku berasal rindu untuk dipelihara, terlalu sayang untuk dilepas ketika deru mesin mengganti tanam tumbuhku.

Biji-bijiku dioseng para peracik beraroma khas menanti ditumbuk dan diteguk

Inginku tak hilang lenyap berganti kopi-kopi dari luar. Karena aku rasa merasa aroma pengobat segala ketika semua ada disitu aku ada setia selama, kopi nusantara menjadi ciri yang layak untuk diperhati juga dilestari.

Muhammad Naufal Fathoni