Perayaan Keberagaman Bermusik

0
244

Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2018 banyak menampilkan pertunjukan kolaborasi. Hal ini didasari pada tema tahun ini yang bertajuk “Celebrate Jazz in Diversity”. Setidaknya ada 11 penampilan kolaborasi pada di hari Jumat (2/3). Penampilan musisi di Java Jazz kali ini dibagi ke dalam 11 panggung dengan 2 panggung outdoor.

Histeris penonton menjadi-jadi saat Elek Yo Band mulai memasuki panggung sambil menyanyikan refrain lagu “Dia” karya Anji. “Oh Tuhan, ku cinta dia,” nyanyi Pak Muhammad Hanif Dhakiri yang lebih dikenal sebagai menteri ketenagakerjaan RI saat memasuki panggung di Mitsubishi Stage.

Bersama Endah N Rhesa, band bentukan beberapa menteri Kabinet Kerja menampilkan beberapa lagu. Sebagai pembukaan, mereka menyanyikan lagu Anji yang berjudul Dia dari awal. Meskipun Elek Yo Band tidak ber-genre jazz, hal itu tidak membuat antusias penonton berkurang. Justru saat Elek Yo Band tampil bersama Endah N Rhesa, seluruh area Mitsubishi Stage langsung dipadati penonton. Penampilan ini pun digadang-gadang sebagai penampilan kolaborasi yang unik.

Penampilan outdoor stage pertama Glenn Fredly di panggung Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2018, Jumat (2/3). Foto: Ursula Natasha A

Pada Garuda Indonesia Stage, terdapat keunikan yang berbeda dari yang Glenn Fredly tampilkan. Dia mendedikasikan penampilannya yang ke-10 di Java Jazz Festival untuk Slank. Slank menjadi inspirasinya diawal karier musik Glenn. Dengan lagu-lagu yang bercerita tentang keadaan nyata di sekitar, Glenn ingin menyampaikan pesannya di Java Jazz yang mempertemukan banyak orang. Untuk pertama kali, pada tahun ini Glenn Fredly tampil di panggung outdoor. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan pertamanya ini. Dia ingin menyampaikan pesan untuk kita bersatu, berkaca dari masyarakat di timur Indonesia.

“Dulu orang Jakarta memandang masyarakat timur yang kurang damai sebagai masyarakat minor. Gambaran Indonesia tentang keberagaman sangatlah luas. Apalagi, Jakarta. saya besar di Jakarta, saya merasa ada yang hilang dari Jakarta. Musik menyatukan dan spirit juga dapat menyatukan,” jelas Glenn.

Tak jauh berbeda dengan perndapat Glenn, Aryo atau yang memiliki nama panggung A Fine Tuning Creation menganggap musik bisa dijadikan media berekspresi yang tepat makna. Dia lebih memilih untuk berekspresi lewat musiknya ketimbang marah meluapkan emosinya. Memberikan media kepada amarah akan membuat penyampaian amarah itu lebih terkemas lebih baik.

Dalam kesempatan ini juga, Glenn sempat menceritakan tentang Konferensi Musik Indonesia pertama yang akan dilaksanakan di Ambon pada 7 sampai 9 Maret mendatang. Dia menjelaskan, keadaan di Indonesia saat ini tidak ada yang pernah membahas tentang ekosistem di dunia musik. Padahal, di dalam musik saja terdapat banyak cabang yang saling berhubungan.

“Di bagian produksi saja sudah memerlukan banyak bidang. Belum lagi bagian edukasi untuk musisi sama bagian perlindungan hak cipta,” lanjut Glenn.

Konferensi ini diharapkan dapat menyatukan segala sektor yang saling bahu-membahu memajukan musik Indonesia. Mengingat bahwa peringkat Indonesia berada di sekitar 20-an pada kategori negara yang maju di bidang musik. Diperlukan kerja sama dari seluruh sektor yang berjuang di balik sebuah lagu.

Musik menyatukan banyak telinga. Tidak terbatas dari genre dan medianya. Musik itu tidak terbatas, serupa dengan persaudaraan yang dapat dijalin tanpa memberi sekat.

 

Reporter: Gregorius Amadeo (Magangers Batch IX, (Volunter Kompas Muda untuk JJF 2018)

Fotografer: Ursula Natasha (Volunter Kompas Muda untuk JJF 2018)