Desa wisata Andermatt. Kompas/Fransisca Romana Ninik

Setelah menempuh kelok-kelok rute Gotthard Pass di Pegunungan Alpen, Swiss, tampaklah Lembah Urseren di bawah. Kota kecil Andermatt membentang di tengah hijaunya padang dan hutan. Suasana tenang, teduh, dan dingin menyambut raga.

Langit mendung pada sore di pertengahan September itu. Kabut mulai muncul di antara pepohonan pinus yang berjajar di pegunungan. Di padang yang luas, tampak sapi-sapi merumput dengan tenang. Pada awal musim gugur, suhu udara di Andermatt sudah sekitar 15 derajat celsius.

Kota kecil ini terkenal sebagai salah satu kawasan resor ski saat musim dingin. Berhubung baru musim gugur, kami tidak menjumpai sehelai salju pun. Ada dua resor ski utama di Andermatt, yakni Nätschen yang terletak di sisi timur laut dan Gemsstock di sisi selatan.

Celia Nosetti dari Switzerland Tourism menuturkan, kala musim dingin tiba, Andermatt ramai orang yang akan berski ria di pegunungan. ”Sekarang masih sepi pengunjung,” katanya.

Tak lama setelah kami, wartawan dari berbagai negara yang diundang Switzerland Tourism, tiba di Andermatt, hujan pun turun. Sambil merapatkan jaket dan berlindung di bawah payung, kami berkeliling pusat kota kecil ini.

Di sepanjang perjalanan, kami tak menemui banyak orang. Dingin dan hujan barangkali membuat orang malas keluar rumah. Sejauh mata memandang, terhampar pegunungan hijau di sekeliling kota. Di salah satu puncaknya, salju tipis sudah mulai terbentuk.

Namun, semua itu tidak menyurutkan niat untuk berkenalan dengan kota indah ini. Kami hanya memiliki satu sore itu saja untuk menikmati Andermatt dan sungguh sayang untuk dilewatkan hanya dengan meringkuk di bawah selimut hangat di hotel.

Andermatt terletak di ketinggian 1.437 meter di atas permukaan laut. Sejak jalur Schöllenen dibuka sekitar tahun 1200, Andermatt masuk ke dalam rute Gotthard.

Rute ini merupakan penyeberangan historis dari utara ke selatan atau sebaliknya dan barat ke timur atau sebaliknya di Swiss. Tak jauh dari Stasiun Andermatt, keesokan harinya dalam perjalanan ke Gӧeschenen menuju Zürich, kami melihat The Devil’s Bridge yang melegenda di rute Gotthard Pass.

Sejak tahun 1885, Andermatt diubah menjadi kota garnisun untuk Angkatan Bersenjata Federal Swiss. Ketika itu, infrastruktur untuk peperangan bahkan telah dibangun. Sekarang kota kecil ini menjadi pusat pelatihan tentara Swiss. Kami menjumpai beberapa personel berusia muda dalam balutan seragam militer coklat muda tengah melintas dan tersenyum ramah kepada pejalan kaki.

Hotel dan restoran menggunakan bangunan kuno. Kompas/Fransisca Romana Ninik (FRO) 10-11-2016
Hotel dan restoran menggunakan bangunan kuno.
Kompas/Fransisca Romana Ninik (FRO)
10-11-2016

Merah menyala

Sebagai resor, Andermatt dipenuhi hotel, restoran, dan pertokoan. Banyak bangunan tua telah dipugar dan dimanfaatkan kembali untuk menampung lonjakan wisatawan saat musim ski tiba. Rautnya terlihat cantik, dengan hiasan bunga warna-warni pada teras atau cat merah menyala—kadang biru atau hijau terang—pada jendela di tengah dinding coklat tua dan abu-abu. Kontras yang menawan itu membuat Andermatt tidak membosankan dipandang.

Celia menunjukkan hotel bintang lima terbaru di Andermatt, The Chedi. Bangunan modern itu didesain selaras dengan alam sekitarnya. Dari luar, hotel itu terlihat mirip pondok yang besar lengkap dengan cerobong asap di atasnya.

Jalanan Andermatt terbilang sempit, hanya untuk dua lajur berlawanan arah. Tak banyak kendaraan melintas. Di jantung kota tua, jalanan masih berupa batu persegi kecil yang ditata teratur. Bangunan tua dari kayu masih tegak berdiri. Tak sedikit di antaranya yang sudah berusia ratusan tahun.

”Bangunan kayu masih terawat dengan baik. Beberapa di antaranya pernah mengalami kebakaran, tetapi kemudian dibangun kembali,” tutur Celia.

Kota tua yang terpelihara dengan baik ini merupakan kekayaan nasional Swiss. Ada beberapa rumah megah dan interior gaya rococo yang klasik dan artistik. Namun, bangunan tipikal di Andermatt tetaplah struktur kayu dengan fondasi batu yang sederhana, tetapi anggun.

Gereja tua

Saksi perjalanan Andermatt adalah gereja-gereja tua yang tersebar di seantero kota. Beberapa di antaranya terletak di perbukitan. Di antaranya, Kapel Mariahilf yang dibangun sekitar tahun 1735 sebagai tempat berlindung dari longsoran salju. Gereja Our Lady of the Assumption dibangun pertama kali tahun 1448 dan rusak terbakar pada 1669. Gereja ini dibangun ulang tahun 1706-1708.

Kami berkesempatan mengunjungi salah satu gereja yang terletak di tengah kota, Gereja Santo Petrus dan Paulus. Menaranya berwarna merah, terlihat menjulang dan mencolok di tengah bangunan sekitarnya.

Celia menuturkan, gereja ini merupakan gereja terpenting di Lembah Urseren, dibangun tahun 1602. Interiornya bernuansa barok yang memukau. Pada dinding dan atap yang putih terpampang lukisan dari berbagai kisah Alkitab. Altarnya berwarna keemasan karya pematung termasyur, Johann Ritz.

Di halaman belakang terdapat makam tua yang tertata rapi. Di salah satu sudut yang agak jauh, terdapat makam tua seorang perempuan tak dikenal yang selalu menjadi bagian dari misteri kota tua itu.

Hujan sore itu tak kunjung berhenti. Sepatu dan beberapa bagian baju kami sudah basah karena peserta tur keliling kota harus sepayung berdua. Kabut sebentar datang, sebentar hilang. Tetapi di puncak-puncak perbukitan, kabut enggan pergi, seakan memayungi Andermatt agar tetap dingin.

Kami menutup perjalanan di bawah hujan sore itu dengan makan malam di Hotel sur Sonne. Cahaya temaram yang hangat ditambah sajian nikmat, anggur yang lezat, dan kawan baru dengan obrolan menyenangkan melelehkan semua dingin yang menerpa.

”Kita bakal datang lagi saat hari lebih cerah dan lebih dingin,” ujar Sato, wartawan asal Jepang, optimistis. Aku mengangguk pelan….

FRANSISCA ROMANA NINIK


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 November 2016, di halaman 29 dengan judul ”PERJALANAN Di Padang Hijau Andermatt”