Jarak Malaysia dengan Singapura hanya sepelemparan batu. Kedua negara ini hanya dipisahkan oleh sungai kecil Johor Strait. Meski demikian, menjelajah daratan menggunakan mobil mewah Mercedes-Benz Sporty seri A 200 AMG dari Kuala Lumpur ke Singapura tetap menjadi perjalanan berkesan. Kami riang meskipun sepanjang jalan diterpa hujan.

Jumat 9 September

Pukul 07.00

Selepas sarapan di hotel, kami bersiap berangkat ke Mercedes-Benz City Store Kuala Lumpur, jarak tempuhnya sekitar 30 menit dari hotel. Tak kurang dari 260 orang berkumpul di sana, termasuk ratusan jurnalis dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Korea, Singapura, dan Vietnam. Kami lalu dibagi ke dalam dua kelompok besar dan berpasangan untuk mengendarai mobil. Tiga jenis mobil new generation compact car (NGCC) yakni CLA, GLA, dan A Class terbaru. Saya bersama seorang fotografer dari The Jakarta Post berkesempatan mengendarai A Class seri A 200 AMG. Begitu duduk di jok, rasanya tak sabar untuk segera menggeber mobil yang digerakkan mesin bensin 4-cylinder 1595 cc dan mampu menghasilkan daya sebesar 115 kW atau setara dengan 156 tenaga kuda ini.

Avontur 24 jam KL Spore Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF) 10-09-2016
Avontur 24 jam KL Spore
Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF)
10-09-2016

Pukul 10.00

Sedianya kami berangkat pukul 09.00 waktu setempat. Tetapi karena hujan lebat, keberangkatan molor hingga 1 jam. Setelah pelepasan, kami dibebaskan untuk menjelajahi jalanan di Kuala Lumpur dengan panduan GPS. Yang penting, saat makan siang, kami tiba di Malaka, sekitar 145 kilometer dari Kuala Lumpur. Hujan belum benar-benar reda saat kami meluncur di atas jalan raya. Bahkan, sekitar 30 menit kami dilepas, hujan makin lebat dengan jarak pandang tak lebih dari 20 meter.

Kami mengurangi kecepatan dari sebelumnya 110 kilometer per jam menjadi sekitar 80 kilometer per jam. Jalanan yang mulus ditambah dengan teknologi peredam mobil yang mantap nyaris tak ada guncangan selama berkendara di tengah hujan lebat itu. Saat mengebut pun kami tak terlalu khawatir menabrak mobil di depan lantaran A 200 AMG dilengkapi Collision Prevention Assist Plus, fitur keamanan yang memberikan peringatan visual jika jarak obyek di depan kendaraan mulai mengkhawatirkan. Beberapa kali sempat terdengar peringatan bahwa terlampau dekat dengan mobil di depan, mobil pun saya kurangi kecepatannya.

Avontur 24 jam KL Spore Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF) 09-09-2016
Avontur 24 jam KL Spore
Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF)
09-09-2016

Pukul 12.00

Kami tiba di Malaka. Pas banget karena perut sudah keroncongan minta jatah makan siang. Saya makan siang di Calanthe Art Café di Jalan Hang Kasturi Malaka. Kafe ini tak lain sebuah rumah tradisional Melayu model panggung bertingkat dengan lantai kayu. Desain interiornya mengandalkan barang-barang bekas, seperti kaleng minuman ringan, cangkir, panci, tutup panci, termos, ceret, wajan, yang ditata sedemikian rupa di tembok sehingga enak dilihat. Di sebuah dinding di bawah tangga terdapat foto orang Melayu berkopiah yang tak lain adalah Perdana Menteri Malaysia Ali Rustam. Setelah menyantap ikan yang dimasak garang asem dan secangkir kopi, saya melanjutkan perjalanan.

Pukul 13.30

Perjalanan masih panjang. Setidaknya masih terbentang jarak 256 kilometer lagi untuk mencapai tempat yang kami tuju, Hotel The Ritz-Carlton, Millenia Singapore. Kami sempat keliling dan melintasi jalan-jalan arteri di Malaka. Kondisinya tak jauh berbeda dengan jalan di Jakarta atau Bandung. Hanya saja lebih lengang, tidak macet. Dari Jalan Hang Kasturi tadi ke Lebuh Raya yang jaraknya hanya 4 kilometer, kami tempuh sekitar 25 menit karena lalu lintas padat.

Selepas itu, kami baru bisa tancap gas hingga 175 kilometer per jam. Lengang dan jalan mulus lagi. Di sinilah kami merasakan betul nikmatnya ngebut di jalan mulus. Nyaris tak ada guncangan sehingga serasa berkendara dengan kecepatan 60 kilometer per jam saja.

Pukul 17.00

Sekitar 15 kilometer sebelum Tuas Check Point, kami berhenti di tepi jalan menikmati sore sembari memotret mobil rombongan Mercedes-Benz Urban Hunting X Ultra Singapore yang melintas. Itu kami lakukan sembari menghitung kemungkinan kekurangan bahan bakar. Karena bahan bakar kami masih mencukupi, kami tenang.

Yang tidak bisa santai malah saat di Tuas Check Point karena satu per satu mobil harus mendaftar ke petugas untuk mendapatkan kartu Autopass, kartu untuk membayar tol dan parkir. Ada sedikit salah paham antara panitia dengan petugas sehingga pendaftaran tidak bisa dilakukan secara kolektif. Kebayangkan harus mengurusi satu per satu dari 130 mobil dan hanya ada dua petugas jaga di check point.

Avontur 24 jam KL Spore Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF) 09-09-2016
Avontur 24 jam KL Spore
Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF)
09-09-2016

Pukul 19.45

Akhirnya kami tiba di Hotel The Ritz-Carlton, Millenia Singapore, setelah sempat terhambat di Raffles Ave. Selepas makan malam, mandi, dan ganti baju, saya menikmati hiruk-pikuk kendaraan dari tempat menginap yang kebetulan dilengkapi dengan jendela raksasa dengan pemandangan kota. Lalu lintas malam hari di Singapura tidak terlampau padat, tetapi lalu-lalang mobil menjadi pemandangan indah untuk saya abadikan dalam foto. Namun, rasa kantuk dan lelah setelah perjalanan sekitar 8 jam tadi begitu kuat mendorong saya tidur.

Sabtu, 10 September

Pukul 09.00

Selepas sarapan, saya memanjakan diri di kamar sembari melanjutkan misi tadi malam yang belum tuntas: memotret Singapura dari jendela. Selepas tengah hari, kami berkumpul di lobi menuju lokasi Ultra Music Festival Singapore 2016 yang hanya sekitar 15 menit jalan kaki. Ini sejenis klimaks dari rangkaian panjang perjalanan Kuala Lumpur, Malaysia, ke Singapura. Malam itu, di negeri ”singa muntah” ini, kami pesta pora bersama para DJ kelas dunia.

Avontur 24 jam KL Spore Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF) 09-09-2016
Avontur 24 jam KL Spore
Kompas/Mohammad Hilmi Faiq (MHF)
09-09-2016

Mohammad Hilmi Faiq


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Oktober 2016, di halaman 28 dengan judul “Malaysia-Singapura”.