Provinsi Qinghai yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut menjanjikan keindahan alam dan keunikan etnis minoritas Muslim. Tiupan angin pegunungan, kuliner halal, dan keramahan masyarakatnya menjadikan provinsi ini layak dikunjungi pada liburan musim panas. Itulah kesan yang tertinggal setelah mengunjungi sejumlah daerah di Provinsi Qinghai bersama wartawan dari Malaysia yang diundang oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta dan China Radio International.

Kamis

17.00 tiba di Bandara International Xining Caojiabao langsung meluncur ke restoran Muslim. Sandup (29), pemandu wisata yang menjemput kami di bandara, menyambut hangat. Restoran berlabel halal dengan nuansa Timur Tengah ini menyajikan menu makanan yang kebanyakan berbahan daging. Kuliner berbahan dasar daging kambing dan yah atau sapi berbulu khas daerah pegunungan menjadi santapan utama. Babaocha atau teh yang terdiri atas delapan herbal menjadi penghangat tubuh. Yogurt tradisional dari susu kambing menjadi menu penutup sebelum kami beristirahat di hotel Muslim Tower di pusat kota.

Babaocha atau teh yang terdiri dari delapan herbal. Babaocha menjadi minuman utama disetiap perjamuan. Kompas/Priyombodo (PRI) 28-07-2016 ---------------------- foto ilustrasi untuk tulisan avontur PRI
Babaocha atau teh yang terdiri dari delapan herbal. Babaocha menjadi minuman utama disetiap perjamuan.
Kompas/Priyombodo (PRI)
28-07-2016
———————-
foto ilustrasi untuk tulisan avontur PRI

Jumat

07.30 Meski di musim panas, udara sejuk pagi hari di kota Xining terasa dingin. Kami yang terbiasa dengan iklim tropis harus mengenakan jaket untuk mengusir hawa dingin. Pagi ini kami tidak sarapan di hotel. Sanduk mengajak kami mengunjungi restoran mi tarik daging sapi yang populer bernama Mi Lanzhou Tiongkok. Lanzhou merupakan nama kota asal dari mi tarik. Namun, kemudian mi tarik dipopulerkan oleh masyarakat Qinghai ke berbagai pelosok daerah di Tiongkok, bahkan mancanegara. Mi tarik telah dikenal sejak 4.000 tahun silam, menurut Kepala Persatuan Mi Tarik Qinghai, Ma Qingyun. Saat ini ada 80.000 restoran dan kedai mi tarik di seluruh Tiongkok yang 30.000 di antaranya dikelola oleh orang Qinghai yang kebanyakan Muslim. Mi tarik Qinghai terkenal karena daging sapi Qinghai yang enak dan halal.

12.00 Menunaikan ibadah shalat Jumat di Masjid Agung Dong Guang, Xining. Masjid yang bangunan utamanya menyerupai kuil penuh sesak dengan jemaah yang mengenakan peci haji dan sorban berwarna putih. Bahkan, halaman masjid yang panas terik hingga emperan toko dipenuhi jemaah. Shalat Jumat di masjid tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Pengunjung berdoa di hadapan patung Budha di pulau Gading yang berada di danau air asin Qinghai di provinsi Qinghai, Tiongkok. Kompas/Priyombodo (PRI) 30-07-2016 -------------------------- foto ilustrasi rubrik Avontur tulisan PRI
Pengunjung berdoa di hadapan patung Budha di pulau Gading yang berada di danau air asin Qinghai di provinsi Qinghai, Tiongkok.
Kompas/Priyombodo (PRI)
30-07-2016
————————–
foto ilustrasi rubrik Avontur tulisan PRI

14.00 Taman Nasional Geologi Gui De terletak di sebelah selatan kota Xining, berjarak 100 kilometer dan ditempuh selama 2 jam perjalanan dengan bus wisata. Selama perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan dari perpaduan gugusan pegunungan dan hamparan padang rumput. Gui De dibuka pada 2010 oleh pengusaha Muslim setempat bernama Wahaiqing. Butuh waktu 10 tahun untuk menyiapkan fasilitas di lokasi wisata yang menyajikan keindahan pemandangan alam berupa gugusan pegunungan seluas 248,24 kilometer persegi. Gui De merupakan taman geologi perpaduan dari pegunungan, lembah, sumber air panas, dan aliran Sungai Kuning. Lokasi itu cocok bagi penggila fotografi lanskap.

19.00 Taman Batu Suiseki. Taman yang tergolong baru ini memajang keunikan batu-batu berukuran besar dan kecil yang diambil dari Sungai Kuning. Batuan yang ditata di taman itu terbentuk karena erosi air dan angin di Sungai Kuning.

Pengunjung mengabadikan pemandangan dari gugusan gunung yang terbentuk dari erosi angin di taman nasional geologi Gui De di Provinsi Qinghai, Tiongkok. Kawasan wisata yang tergolong baru itu dikembangkan oleh pengusaha muslim setempat. Kompas/Priyombodo (PRI) 29-07-2016 ---------------------------- ilustrasi tulisan avontur PRI
Pengunjung mengabadikan pemandangan dari gugusan gunung yang terbentuk dari erosi angin di taman nasional geologi Gui De di Provinsi Qinghai, Tiongkok. Kawasan wisata yang tergolong baru itu dikembangkan oleh pengusaha muslim setempat.
Kompas/Priyombodo (PRI)
29-07-2016
—————————-
ilustrasi tulisan avontur PRI

Sabtu

09.30 Dataran tinggi Gunung Riyue atau Gunung Matahari dan Bulan. Di lokasi ini terdapat dua bangunan paviliun, yaitu paviliun matahari dan bulan di puncak. Konon, paviliun itu untuk mengenang pernikahan putri Wencheng dan putri Jincheng dari Dinasti Tang untuk dinikahi oleh Raja Tibet. Lokasi ini menjadi tempat favorit turis untuk berfoto. Di pelatarannya, masyarakat setempat menawarkan jasa menunggang yah atau sapi berbulu berwarna putih dengan biaya 10 yuan kepada pengunjung. Anda juga bisa berfoto dengan anak domba yang sudah dihias. Di tempat berketinggian 3.502 meter di atas permukaan laut itu merupakan bagian dari Jalur Sutra.

13.00 Danau Qinghai. Terletak 100 kilometer sebelah barat kota Xining. Pada liburan musim panas, danau ini ramai dikunjungi wisatawan. Danau ini merupakan danau air asin terbesar di Tiongkok. Di lokasi dekat gerbang masuk, pengunjung disuguhi pilihan olahraga air, seperti sepeda air atau berenang di pinggiran danau yang tenang. Pengunjung juga dapat mengunjungi Pulau Gading dengan menumpang kapal cepat sekitar 15 menit perjalanan. Di pulau ini terdapat patung gajah berukuran besar. Ada sejumlah toko suvenir dan deretan tempat makan. Buah semangka populer di tempat itu. Tempat ibadah bagi orang Tibet dengan lima warna benderanya juga dapat dijumpai di pulau tersebut. Maklum saja, wilayah Danau Qinghai merupakan perbatasan antara Provinsi Qinghai dan Tibet.

Suasana di gunung Riyue atau gunung matahari dan bulan di provinsi Qinghai, Tiongkok. Di kawasan tersebut pengunjung dapat berfoto dengan sapi berbulu putih atau yak. Kompas/Priyombodo (PRI) 30-07-2016 ---------------------- foto ilustrasi tulisan avontur PRI
Suasana di gunung Riyue atau gunung matahari dan bulan di provinsi Qinghai, Tiongkok. Di kawasan tersebut pengunjung dapat berfoto dengan sapi berbulu putih atau yak.
Kompas/Priyombodo (PRI)
30-07-2016
———————-
foto ilustrasi tulisan avontur PRI

Minggu

10.10 Lembah Sungai Kuning. Berjarak sekitar 300 kilometer atau 3 jam perjalanan dengan bus wisata menyusuri jalan di samping lereng pegunungan. Di lembah Sungai Kuning terdapat empat bendungan yang dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik. Pemerintah Tiongkok bekerja sama dengan pihak swasta tengah mengembangkan perkebunan di wilayah tersebut. Cabai menjadi komoditas utama. Dari ketinggian dapat dilihat lanskap wilayah Sungai Kuning yang memukau. Menurut rencana, tahun depan akan dibangun tempat wisata terpadu yang tidak hanya menjual keindahan alamnya, tetapi juga keunikan budaya dari etnik Muslim Salar yang mendiami kawasan tersebut.

14.30 Makan siang di Restoran Home of Salar. Restoran tersebut menampilkan keunikan arsitektur bangunan dari etnis Salar. Penggunaan material kayu lengkap dengan ukiran bermotif tanaman menjadi ciri khas bangunan. Ruang-ruang makan di bangunan utama serta di teras dipenuhi pengunjung. Meja-meja makan dipenuhi aneka hidangan yang didominasi oleh roti, hidangan daging kambing dan yah, serta sayur-mayur, dan tak ketinggalan pula babaocha.

Pengunjung berdoa di stupa Tibet yang  di pulau Gading yang berada di danau air asin Qinghai di provinsi Qinghai, Tiongkok.  Kompas/Priyombodo (PRI) 30-07-2016 -------------------------- foto ilustrasi rubrik Avontur tulisan PRI
Pengunjung berdoa di stupa Tibet yang di pulau Gading yang berada di danau air asin Qinghai di provinsi Qinghai, Tiongkok.
Kompas/Priyombodo (PRI)
30-07-2016
————————–
foto ilustrasi rubrik Avontur tulisan PRI

17.00 Mengunjungi Masjid Gaizi di Kabupaten Otonomi Etnis Salar Xunhua, Provinsi Qinghai. Kawasan tersebut merupakan kampung pertama bagi etnis Salar. Di museum yang berlokasi di dekat masjid tersimpan Al Quran tulisan tangan yang menjadi identitas dari etnis Salar. Jelang waktu ashar, etnis Muslim Salar mulai berdatangan ke masjid. Orang-orang tua dengan menunggang sepeda motor listrik perlahan menuju halaman masjid. Sementara itu, beberapa remaja Salar mengambil air wudu dengan menggunakan cerek-cerek plastik.

17.20 Camel Spring. Di pinggir kolam terdapat patung onta putih yang menurut legenda menjadi bagian dari awal keberadaan etnis Salar di Xunhua. Beberapa wartawan dari Malaysia dan China Radio International membasuh muka dengan air dari pancuran mata air yang diyakini dapat membuat awet muda.

Aliran sungai Kuning di Xunhua, Haidong, Provinsi Qinghai, Tiongkok, Minggu (31/7). Di kawasan tersebut dihuni oleh etnis muslim minoritas etnis Salar.  Kompas/Priyombodo (PRI) 31-07-2016 ---------------------- Ilustrasi tulisan Avontur PRI
Aliran sungai Kuning di Xunhua, Haidong, Provinsi Qinghai, Tiongkok, Minggu (31/7). Di kawasan tersebut dihuni oleh etnis muslim minoritas etnis Salar.
Kompas/Priyombodo (PRI)
31-07-2016
———————-
Ilustrasi tulisan Avontur PRI

Priyombodo


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Agustus 2016, di halaman 29 dengan judul “Qinghai yang Aduhai”.