Seni Jalanan: Toleransi Bali Mester

0
1304

Puluhan seniman muda ”menyerbu” Bali Mester, merayakan kearifan kampung di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur, itu dengan mural. Lewat program ”Interaksi@Toleransi” mereka menyeru toleransi dan kebebasan berekspresi, hal yang mudah mereka rasakan di Bali Mester, namun jadi barang kian langka di Indonesia.

Sudah lebih dari dua jam Megha Nugraha berkutat dengan kaleng cat semprot, kertas stensil penuh sayatan, dan sebentang dinding di Jalan Limo, Bali Mester. Megha sudah mencetak gambar sesosok bocah yang menunduk dalam dan erat-erat memeluk beberapa buku, seolah sedang bersembunyi karena takut buku-bukunya itu bakal dirampas. Megha tengah mencetak gambar keduanya.

Si bocah itu sekarang seperti mencuri-curi pandang ke arah gambar kedua yang belum lagi berupa itu. Megha masih memicing mata menyusuri sayatan dan lubang di selembar kertas stensil cetakan cat semprotnya. Pelan, ia mencopot kertas stensil itu dan memunculkan adegan pembakaran buku yang dramatis.

Tumpukan buku menggunung itu memerah oleh kobaran api, dikelilingi tiga lelaki yang melemparkan berjilid-jilid buku lainnya ke tengah kobaran itu. Megha mencetak kutipan terkenal Heinrich Heine, seorang jurnalis dan penulis abad ke-18 Jerman yang mengecam para pemusnah buku. ”Where they have burned books, they will end in burning human beings”.

Megha Nugraha menggambar stensil bibliosida sebagai bagian dari kampanye toleransi, keberagaman, dan kebebasan berekspresi di Kelurahan Bali Mester, DKI Jakarta. Para perupa jalanan dari berbagai wilayah beramai-ramai membuat beragam karya mural bertema toleransi, keberagaman, dan kebebasan berekspresi untuk merayakan toleransi hidup warga Bali Mester, sebuah kampung tua di Jakarta Timur, DKI Jakarta, Minggu (5/6). Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong
Megha Nugraha menggambar stensil bibliosida sebagai bagian dari kampanye toleransi, keberagaman, dan kebebasan berekspresi di Kelurahan Bali Mester, DKI Jakarta. Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong

”Maraknya penangkapan dan penyitaan buku-buku beberapa waktu lalu sungguh menggelisahkan saya. Seperti kata Heine, manusia pembakar buku pada akhirnya akan menjadi pembakar manusia lainnya,” ujar Megha, lirih sembari mencetakkan nama aliasnya sebagai seniman jalanan, ”useless”.

 

Menenggang ragam

Minggu (5/6) lalu, Kelurahan Bali Mester ”diserbu” 25 seniman seni jalanan (street art) seperti Megha alias useless. Serbuan bukan dadakan itu digerakkan para aktivis KJakarta Art Movement (JAM) dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI).

Namun, jangan salah kaprah, kampanye toleransi itu bukan digelar untuk membangun kepedulian warga Bali Mester. Aktivis JAM, Bambang Asrini W, justru menyebut kampanye KPSI dan JAM adalah perayaan kearifan hidup warga di Bali Mester.

”Bali Mester adalah kampung yang majemuk dalam konteks etnis, budaya, dan keyakinan warganya. Kampung Bali Mester adalah kampung etnis Bali yang sama tuanya dengan pemukim etnis Bali di Tambora, Jakarta Barat. Penamaan ’Mester’ diambil dari nama Meester Cornelis, penginjil yang membeli tanah di kawasan itu pada 13 Desember 1656. Sejak saat itu, Bali Mester menjadi cawan akulturasi berbagai latar belakang etnis dan budaya—Bali, Tionghoa, dan Jawa,” papar Bambang.

Sebagai cawan adukan berbagai budaya, Bali Mester menyatu dalam perbedaan yang saling diterima para warganya. Kearifan leluhur Bali Mester menenggang ragam terwariskan hingga kini, termasuk ketika Bali Mester bersinggungan dengan kompleksitas urban Jakarta.

Ketua KPSI Bagus Hargo Utomo membuktikan toleransi di antara sesama warga asli Bali Mester juga membuat mereka lebih bertenggang rasa dengan segala perbedaan, termasuk perbedaan kondisi orang dengan gangguan kejiwaan. Toleransi itu yang kini menopang aktivitas KPSI di Bali Mester.

”Sekretariat KPSI pernah berpindah-pindah ke banyak lokasi di Jakarta dan kami pernah mencicipi berbagai macam stigma warga Jakarta terhadap orang yang mengalami skizofrenia. Ketika sekretariat berpindah ke Bali Mester, kami menemukan penerimaan dan dukungan warga terhadap KPSI. Warga sangat peduli dengan aktivitas KPSI ataupun anggota komunitas kami,” kata Bagus.

Selo Riemulyadi dari JAM menyebut serbuan para seniman seni jalanan pada Minggu itu adalah serangan ulang JAM dan KPSI pada 2013. Sejak lama, para aktivis JAM dan KPSI ingin mengulang keberhasilan kampanye seni jalanan bertema perayaan kepedulian warga Bali Mester terhadap orang dengan gangguan kejiwaan itu. Sejak awal 2016, mereka mempersiapkan ”Interaksi@Toleransi”, yang lantas mengalami pergeseran tak terduga akibat maraknya aksi intoleransi dan pemberangusan kebebasan berekspresi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Para seniman jalanan menggambar mural bertema kebebasan berekspresi di dinding luar Pemakaman Umum Kober Jatinegara.di Jalan Jatinegara Timur IV, Bali Mester, DKI Jakarta. Para perupa jalanan dari berbagai wilayah beramai-ramai membuat beragam karya mural bertema toleransi, keberagaman, dan kebebasan berekspresi untuk merayakan toleransi hidup warga Bali Mester, sebuah kampung tua di Jakarta Timur, DKI Jakarta, Minggu (5/6). Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong
Para seniman jalanan menggambar mural bertema kebebasan berekspresi di dinding luar Pemakaman Umum Kober Jatinegara.di Jalan Jatinegara Timur IV, Bali Mester, DKI Jakarta. Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong

”Mengejutkan, sepanjang awal 2016, kita melihat kebebasan warga untuk berekspresi dibungkam di mana-mana. Kami bersepakat menjadikan ”Interaksi@Toleransi” sebagai seruan bagi toleransi dan kampanye kebebasan berekspresi. Kami merayakan toleransi warga Bali Mester untuk cakupan yang lebih luas, yaitu keberagaman Indonesia,” kata Selo.

 

Beragam seruan

Para perupa punya beragam tafsir dan respons ”keberagaman Indonesia”. Bagi perupa jalanan Achmad ”Amet” Gozali, misalnya, tema itu adalah momentum untuk mengenang kembali seluruh warisan nilai KH Abdurrahmad Wahid, presiden keempat RI yang akrab disapa Gus Dur itu.

”Proses kami sangat cair, kami hanya menerima kata kunci ’toleransi’ dan bebas menafsirnya menjadi karya. Bagi saya, tokoh siapa lagi yang harus saya gambar? Kalau toleransi ya Gus Dur,” ujar Amet yang membuat mural Gus Dur di salah satu dinding taman dan tempat bermain warga.

Yang paling kolosal adalah ulah para perupa jalanan membuat mural di sepanjang Tempat Pemakaman Umum Kober Jatinegara. Dinding yang memanjang di Jalan Jatinegara Timur IV itu biasanya penuh coretan-coretan cat semprot tanpa tema, kebanyakan sekadar semprotan nama sebagai penanda, dan dalam sesore disulap menjadi ”papan kampanye” raksasa bermural apik.

Di antara mereka, Teguh ”tehato” Hadiyanto menggambar mural sepasang tangan di atas dinding berlatar merah. Satu tangan membentuk isyarat ’‘setuju’, berupa telunjuk dan ibu jari bertemu. Satu tangan lainnya meniru bentuk pistol, dengan telunjuk urus dan ibu jari menekuk serupa pelatuk. Tehato menoreh kutipan, ”I don’t agree with what you have to say, but I will defend to the death your right to say it”. Ya, ketidaksetujuan atas pikiran orang bukan alasan untuk memberangusnya!

Teguh "Tehato"€ Hadiyanto menggambar mural bertema kebebasan berekspresi di dinding luar Pemakaman Umum Kober Jatinegara di Jalan Jatinegara Timur IV, Bali Mester, DKI Jakarta. Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong (ROW) 05-06-2016
Teguh “Tehato”€ Hadiyanto menggambar mural bertema kebebasan berekspresi di dinding luar Pemakaman Umum Kober Jatinegara di Jalan Jatinegara Timur IV, Bali Mester, DKI Jakarta. Kompas/Aryo Wisanggeni Genthong (ROW)
05-06-2016

 

Mural-mural itu lalu diunggah ke sejumlah media sosial. Bambang, Selo, dan para perupa jalanan itu mencoba membola-saljukan kearifan dan toleransi Bali Mester di jagat maya agar bergaung luas.

Aryo Wisanggeni G


 

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 10 Juli 2016, di halaman 24 dengan judul “Toleransi Bali Mester”