Nyanyian Sang Legenda Rimba

0
1138

Sudah hampir satu dasawarsa John Clayton III atau Tarzan meninggalkan Afrika dan hidup di London. Sebuah undangan dari Raja Belgia Leopold II ke Kongo memanggilnya kembali ke tanah tempat masa lalunya bermula. ”The Legend of Tarzan” menyajikan kisah si manusia kera yang pulang ke ”rumahnya”.

Di sana Tarzan berhadapan dengan musuh lama, juga musuh baru, dan kembali membuktikan bahwa dirinya seorang legenda. ”Mereka menyanyikan legenda Tarzan. Bertahun-tahun dia dianggap roh jahat. Hantu di pepohonan. Mereka menceritakan kekuatannya atas hewan-hewan,” kata Jane (Margot Robbie), istri Tarzan (Alexander Skarsgård), kepada George Washington Williams (Samuel L Jackson), seorang utusan Amerika, yang ikut bersama pasangan itu memenuhi undangan tersebut.

Nyanyian legenda itu dilantunkan para anggota suku tempat Jane dibesarkan dan memulai kehidupannya bersama Tarzan sebelum mereka kembali ke London. Sebelum menuju Kongo, ingatan Tarzan melayang kembali saat dia ditinggal kedua orangtuanya dan dibesarkan keluarga gorila di tengah hutan.

Dalam setiap langkahnya, kenangan-kenangan masa lalu semakin deras membanjiri diri Tarzan. Kebahagiaan Tarzan dan Jane karena kembali ke Afrika terenggut saat sekelompok tentara bayaran yang dikomando utusan Raja Belgia, Leon Rom (Christoph Waltz), tiba-tiba menyerang dan menangkap Tarzan, membakar perkampungan, membawa paksa anggota suku untuk dijadikan budak, dan menculik Jane.

Dok. IMDB/Warner Bros. Entertainment/Jonathan Olley
Dok. IMDB/Warner Bros. Entertainment/Jonathan Olley

Rom akan menyerahkan Tarzan kepada Kepala Suku Mbonga (Djimon Hounsou) yang memiliki dendam kesumat kepada Tarzan dengan imbalan berlian opar dalam jumlah besar. Berlian itu digunakan untuk membayar puluhan ribu tentara bayaran untuk memperkuat kekuasaan Rom di Kongo.

Dengan bantuan Williams, Tarzan berhasil lolos. Dari sini, dimulailah petualangan keduanya untuk menyelamatkan Jane sekaligus mengungkap rencana busuk Rom yang ingin menjadikan Kongo sebagai daerah jajahan terhebat di mata rajanya yang dilanda kebangkrutan di atas perbudakan.

Dalam The Legend of Tarzan, si manusia kera dalam dongeng ciptaan Edgar Rice Burroughs itu hadir dalam sosok gagah perkasa. Dia menanggalkan setelan necis bangsawan Inggris, berganti kembali dengan celana rombeng dan bertelanjang dada, seperti wujudnya yang lama. Seperti karakternya, Tarzan digambarkan sangat memahami kehidupan hewan-hewan di hutan belantara, dari gorila, gajah, singa, zebra, buaya, burung unta, hingga semut hitam.

 

Bergelantungan

Film dengan genre action adventure garapan sutradara David Yates ini juga masih menampilkan kepiawaian Tarzan bergelantungan akar pohon dan gesit berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ini ditampilkan, antara lain, saat Tarzan dan beberapa anggota suku mengejar kereta berkecepatan 65 kilometer per jam untuk menyusul Rom yang naik kapal ke hulu sungai.

Tarzan juga sangat kuat. Dia harus berkelahi dengan Akut, gorila yang dulu adalah saudaranya. Tarzan pun berkelahi dengan tentara bayaran, dengan anggota suku Mbonga dan kepala sukunya. Dia berlarian dengan cepat seolah tak kenal lelah. Williams selalu keteteran mengikutinya.

Kehadiran tokoh Williams membawa warna tersendiri dalam film berdurasi 110 menit tersebut. Dia sengaja ikut Tarzan dan Jane ke Kongo untuk membuktikan adanya perbudakan dan praktik buruk lainnya di negara jajahan.

Dok. IMDB/Warner Bros. Entertainment/Jonathan Olley
Dok. IMDB/Warner Bros. Entertainment/Jonathan Olley

Tingkah laku, ekspresi, dan kata-katanya sering kali mengundang tawa di tengah ketegangan yang dihadapi Tarzan. Misalnya saat dia setengah mati mengejar Tarzan dan anggota suku lainnya, lalu harus meloncat dari ketinggian, dan berakhir di gendongan Tarzan saat bergelantungan dari pohon ke pohon.

Dalam film produksi Warner Bros ini, sutradara Yates tak hanya berkisah tentang diri Tarzan belaka. Dia juga mengangkat riwayat tentang perbudakan, penjajahan, dan keserakahan manusia atas kekayaan alam Kongo yang mengakibatkan kesengsaraan. Tahun 1884, Kongo Afrika terbagi dua, yakni wilayah jajahan Inggris dan Belgia. Tak hanya berlian, terselip pula soal perdagangan gading gajah yang merajalela. Pergolakan di Kongo pun masih terjadi sampai sekarang. Begitu pun dengan isu pelestarian hutan dan lingkungan yang kian tergerus peradaban manusia.

 

Penonton juga disuguhi pemandangan Afrika, selain hutan belantara, juga padang rumput luas berikut hewan penghuninya, sungai yang lebar dan alami, pegunungan misterius di balik kabut, serta keramahan dan ketangguhan suku-suku tradisional benua tersebut.

Film tentang Tarzan telah banyak dibuat sejak tokoh ini diciptakan tahun 1912 melalui novel Tarzan of the Apes. Film seri tentang Tarzan dimulai dengan film Tarzan the Ape Man (1932) yang dibintangi Johny Weissmüller dan Maureen O’Sullivan. Setelah itu sederet film tentang Tarzan bermunculan sampai saat produksi film animasi Disney, Tarzan (1999), yang menandai babak baru sosok si raja rimba.

The Legend of Tarzan menambah panjang deretan film manusia kera ini sekaligus menawarkan isu baru yang patut menjadi perhatian kita di masa kini.

 

Fransisca Romana Ninik


 

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 10 Juli 2016, di halaman 27 dengan judul “Nyanyian Sang Legenda Rimba”