Lagu Cinta Jangan Melulu Mendayu-dayu

0
2464

Dari masa ke masa, lagu-lagu cinta mengisi relung-relung hati para pendengarnya. Melodi dan liriknya sama-sama bertransformasi. Dulu sendu dengan lirik mengharu biru, menyiratkan ketakberdayaan perempuan. Kini zaman berbeda, lagu cinta tak lagi cengeng. Liriknya pun jauh lebih berdaya.

Menyebut lagu cinta rasanya tak bisa lepas dari sosok pencipta lagu Rinto Harahap. Di era 70-an, Rinto melejitkan penyanyi seperti Diana Nasution dengan ”Benci tapi Rindu”, Hetty Koes Endang dengan ”Dingin”, Rita Butarbutar dengan ”Seandainya Aku Punya Sayap”, dan Iis Sugianto dengan ”Jangan Sakiti Hatinya”. Semuanya bernuansa sama, sendu dan mengharu biru. Perempuan di lagu cinta era 70-an selalu berada di posisi lemah.

Era 80-an ditandai dengan kemunculan penyanyi, seperti Betharia Sonata. Salah satu lagu ciptaan Rinto yang dibawakan Betharia adalah ”Kau Tercipta Untukku”. Meski melodinya relatif riang, liriknya berkisah tentang perempuan yang bertanya- tanya apa salahnya sehingga dia ditinggalkan begitu saja.

Popularitas Betharia makin meroket dengan lagu ”Hati yang Luka”. Lagu ciptaan Obbie Messakh itu mengusung melodi mendayu-dayu dengan lirik sedih— orang menyebutnya cengeng— yang memosisikan perempuan sebagai obyek penderita. Gagal dalam hubungan cinta, lalu merana sehingga meminta dipulangkan kepada orangtuanya.

Simak saja liriknya. Berulang kali aku mencoba/slalu untuk mengalah/demi keutuhan kita berdua/walau kadang sakit/lihatlah tanda merah di pipi/bekas gambar tanganmu/sering kau lakukan/bila kau marah menutupi salahmu….

Kompas/Lucky Pransiska
Kompas/Lucky Pransiska

Meski cengeng, lagu ini meledak luar biasa di era 80-an. Menteri Penerangan RI saat itu, Harmoko, sampai mengeluarkan larangan pemutaran lagu-lagu cengeng di TVRI. Larangan itu tak mempan, justru menambah popularitas ”Hati yang Luka”, yang kemudian disusul dengan versi jawabannya, versi dangdut, keroncong, pop Jawa, bosas, dan versi anak.

Popularitas Betharia juga diikuti Dian Piesesha dengan ”Tak Ingin Aku Sendiri”. Liriknya berkisah tentang kesetiaan perempuan yang rela berkorban demi keutuhan hubungan meski tak jelas bagaimana nasibnya. ”Tak Ingin Aku Sendiri” pun sukses melambungkan nama Dian, termasuk ”Aku Masih seperti yang Dulu” ciptaan Pance Pondaag yang terjual hingga 2 juta kopi!

Catat pula Ratih Purwasih dengan lagunya ”Antara Benci dan Rindu” (Yang, Hujan Turun Lagi), yang liriknya berkisah tentang perempuan yang disakiti tetapi hanya bisa menangis merindukan sang kekasih. Juga Iis Sugiarti yang membawakan ”Sakitnya Hati Ini” berkisah tentang perempuan yang disakiti dan bersedih sepanjang waktu. Pilu, sendu, mendayu-dayu.

Jangan lupa ada Nia Daniati yang juga kerap menyanyikan lagu-lagu cinta yang mengharu biru. Ada ”Cintamu Cinta Apa” yang liriknya berkisah tentang rasa putus asa karena diduakan kekasih hati, serupa dengan lagu ”Dia Sahabat Karibku”. Ada juga ”Burung Pun Ingat Pulang”, curahan hati ditinggal kekasih yang tak pulang-pulang. Salah satu lagu populer Nia, ”Gelas-gelas Kaca” ciptaan Rinto, sama mendayu-dayunya meski tak berkisah tentang cinta.

Baru di ujung era 80-an, ada Atiek CB yang mengusung lagu cinta dengan lirik berbeda, seperti di lagu ”Maafkan”, ”Kekang”, dan ”Semua Telah Berlalu”. Ada nuansa gugatan di lagu-lagu itu.

Kritis, menggugat

Era 90-an ditandai dengan kemunculan Melly Goeslaw. Bersama band Potret, Melly juga mengusung lagu-lagu bertema cinta. Namun, berbeda dengan lagu cinta era 80-an yang cengeng, lirik lagu-lagu cinta Melly menjungkirbalikkan posisi perempuan yang selama ini selalu inferior. Musiknya pun tak lagi bernada minor.

Lagu-lagu yang ditulis Melly membukakan mata bahwa dalam relasi asmara, perempuan pun bisa menjadi sosok superior. Lagu yang menggambarkan superioritas perempuan itu adalah ”Terbujuk dan Salah”.

Coba simak lirik ”Terbujuk”. Tak ada cinta di hati untuk dirimu/Kudekati kamu hanya untuk membujuk/Agar terwujud semua keinginan hatiku/ Tak kamu rasakan tak kamu pahami/Siapa aku gimana aku/Mungkin tak akan setuju memenuhi mauku. Lugas, berani, dan menunjukkan dominasi perempuan.

Gugatan terhadap posisi perempuan makin menguat di lagu karya Oppie Andaresta. Selain tak lagi berlirik cengeng, lagu-lagu cinta di tangan Oppie juga bernada kritis, bahkan menunjukkan kemandirian perempuan. Seperti di lagu ”Kau Bilang”, ”Mau Have Fun”, dan ”Single Happy”.

Coba perhatikan lirik ”Single Happy”. Mereka bilang aku pemilih dan kesepian/terlalu keras menjalani hidup/beribu nasehat dan petuah yang diberikan/berharap hidupku bahagia/aku baik baik saja/menikmati hidup yang aku punya/hidupku sangat sempurna/I’m single and very happy….

Era 2000-an, ada Dewiq dengan lagu ”Bete”, yang dinyanyikan bersama Ipang. Ada juga Andini Aisyah (Andien) dengan lagunya ”Moving On” ciptaan Abdul. Lagu ini berkisah tentang perempuan yang putus cinta, tetapi tak mau larut dalam sedih dan terus maju. Semangat serupa ada di lagu ”Meniti Pelangi”.

Lagu ”Parasit” dan ”Bukan Permainan” yang diusung Gita Gutawa juga menunjukkan gugatan terhadap lelaki yang memperlakukannya sewenang-wenang. Penyanyi Raisa yang belakangan menguasai jagat musik Tanah Air pun mengusung semangat yang sama.

Perhatikan betapa lagu-lagunya tak hanya mengusung musik bernada ceria, tetapi juga semangat kemandirian perempuan yang tak lagi bergantung pada laki-laki. Simaklah lirik-lirik berani itu di ”Serba Salah”, ”Pergilah”, ”Melangkah”, dan ”Bye- bye” yang masih kerap wara-wiri di radio.

Direktur VMC Music Entertainment Muhammad Soufan mengatakan, hingga kini lagu cinta menjadi resep ampuh untuk menjaring pasar. ”Kita bukan enggak pernah membuat lagu upbeat, tapi balik lagi, karena orang Indonesia lebih senang nonton sinetron, lagu cinta masih favorit. Dalam satu label, kalau dijembrengin, penjualan lagu tertinggi pasti dari lagu cinta yang mellow,” katanya beberapa waktu lalu.

Lagu cinta tentu sah-sah saja. Tetapi, sebaiknya tak melulu mendayu-dayu. Seperti kata Efek Rumah Kaca di lagunya ”Cinta Melulu”: Oh, oh, lagu cinta melulu/kita memang benar-benar melayu/suka mendayu-dayu….

Dwi As Setianingsih


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Mei 2016, di halaman 18 dengan judul “Lagu Cinta Jangan Melulu Mendayu-Dayu”