Wakili Publik dengan Pertanyaanmu

0
956

SERPONG, KOMPAS CORNER – Sering kali muncul di layar kaca perbincangan yang terlihat begitu halus antara narasumber dengan pembawa acara. Namun, tak sedikit pula perbincangan yang terekam secara langsung yang menayangkan situasi/kondisi di luar kendali host.  Hal ini dapat terjadi karena sebelumnya telah diadakan proses pemilahan informasi dari sumber. Untuk dapat mendapatkan informasi kredibel dan terpercaya, Kompas Corner menghadirkan workshop “Conduct Critical Interview” untuk memperlihatkan tips dan trik mereka yang telah lama berkecimpung dalam perbincangan singkat dengan berbagai sumber.

Turut hadir Dentamira Kusuma dan Febriko Anggara selaku News Anchor Kompas TV. Kegiatan wawancara identik dengan perbincangan antara dua orang atau lebih untuk menggali informasi secara mendalam, serta fakta yang ada terkait topik. Wawancara dapat dilakukan dalam beberapa jenis; wawancara langsung di lapangan, wawancara terencana di studio, wawancara konferensi, wawancara darurat melalui telepon.

  1. Langsung di lapangan

Wawancara langsung di lapangan dilakukan oleh wartawan ketika ia merasa ada informasi yang perlu digali lebih mendalam, seperti sudut pandang pembicara mengenai isu tertentu. Umumnya pertanyaan yang diberikan straight to the point dan dilakukan dalam waktu yang singkat.

  1. Terencana di studio

Membahas isu lebih mendalam dan detail, mengundang narasumber yang ahli di bidangnya untuk memberikan perspektif baru kepada para penonton. Kekurangan dari wawancara di studio adalah memanasnya suasana perbincangan yang dalam siaran langsung sulit untuk dihindari.

  1. Wawancara konferensi

Merupakan adegan perbincangan antara host dengan narasumber yang dihubungkan melalui video. Umumnya mereka tidak saling bertemu secara langsung dan melakukan pembicaraan.

  1. Melalui telepon

Dapat dilakukan apabila pembicara sulit dijangkau secara geografis, dan media membutuhkan informasi dari narasumber tersebut secara cepat dan aktual. Hal ini memaksa para news anchor untuk menghubungi sumber secara langsung melalui telepon. Namun, terkadang signal yang kurang baik dapat menghambat proses penggalian informasi.

Dentamira dalam presentasinya mengatakan bahwa ada tiga struktur wawancara sebagai news anchor ;yakni pembukaan, wawancara, penutupan. Pada sesi pembukaan, pembawa acara dituntut untuk memperkenalkan diri dan juga program yang dibawakan serta perkenalan secara singkat mengenai narasumber.

Ketika berpindah pada tahap wawancara, presenter diminta untuk menyajikan perbincangan yang santai dan menarik, sehingga dibutuhkan bone antara dirinya dengan narasumber. Maka dari itu, sebelum on air pembicara umumnya melakukan diskusi singkat bersama  tamu sebagai ice breaking. “Pada bagian penutup seringkali presenter lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada narasumber,” ujar Riko. “Untuk mengakhiri wawancara, host harus mengucapkan terima kasih kepada narasumber dengan menyebutkan nama beserta gelarnya. Jangan tinggalkan narasumber begitu saja setelah wawancara usai,” tambah Dentamira.

Antusiasme para peserta lokakarya dalam mendengarkan arahan dari pembicara.
Antusiasme para peserta lokakarya dalam mendengarkan arahan dari pembicara.

Berdasarkan pengalaman Dentamira dan Riko, ada 4 tipe narasumber yang sering kali menghiasi proses wawancara;

  1. Singkat dan padat

Merupakan narasumber yang senang menjawab dengan kalimat pendek tanpa penjelasan lebih lanjut.

  1. Berpolitis

Kerap kali tanggapan yang diberikan narasumber tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan, dan ia berusaha untuk mengalihkan pertanyaan tersebut.

  1. Panjang dan lebar

Narasumber yang menjawab panjang dan lebar merupakan kebalikan dari mereka yang menjawab singkat dan padat. Umumnya orang-orang akan memberikan jawaban yang sangat panjang, dan sering kali informasi yang diberikan tidak cukup relevan dengan pertanyaan.

  1. Bouncing

Narasumber yang menjawab pertanyaan presenter dengan pertanyaan kembali.

Lokakarya dilanjutkan dengan praktik langsung apa yang telah diajarkan oleh Dentamira Kusuma dan Febriko Anggara (Riko). Pelatihan tersebut terbagi dalam dua sesi; profiling narasumber dan live interview in studio like.

Peserta memaparkan hasil profiling narasumber yang adalah teman sekelompoknya.
Peserta memaparkan hasil profiling narasumber yang adalah teman sekelompoknya.

Pada sesi pertama, peserta membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang dan membagi tugas 1 orang sebagai host dan lainnya menjadi narasumber. Peserta diminta untuk berperan seakan tidak mengenal rekan kelompoknya dan berusaha untuk menggali informasi mendalam layaknya wartawan mewawancarai narasumbernya. Pada akhir sesi, peserta mendapat kesempatan untuk mempresentasikan informasi yang dapat dibagikan dari narasumber kepada penonton.

Yang tak kalah menariknya, mereka yang berani maju langsung dikomentari oleh Riko, sehingga para peserta dapat memperbaiki kekurangannya dan meraih pelajaran baru dari pembicara.

Pada sesi kedua, hanya satu kelompok yang dengan berani maju ke depan kelas dan melakukan interview layaknya perbincangan yang sering tampil di layar kaca. Stefano Alexander, salah seorang peserta yang berperan sebagai presenter, dan kawan-kawannya pun langsung mendapatkan arahan dari Dentamira dan Riko bagaimana melakukan wawancara secara efektif.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung secara efektif, yakni dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, melakukan eye-contact kepada kamera dan narasumber, serta mengucapkan terima kasih dan nama narasumber pada akhir wawancara.

Dalam wawancara bersama Kompas Corner, Annisa Anindyta yang merupakan peserta Workshop Conduct Critical Interview mengatakan bahwa banyak sekali pelajaran yang ia petik dari workshop tersebut. “Karena nanti saya mau jadi wartawan ketika penjurusan, saya rasa workshop hari ini sangat membantu. Kini, saya mampu memahami dengan jelas bagaimana melakukan wawancara secara efektif,” tegas Annisa.

Jadi, kemampuan news anchor dalam membawakan acara sangatlah penting. Narasumber mampu memberikan informasi yang ia ketahui secara leluasa berkat wawancara yang interaktif dan efektif. Sebelum menutup sesi workshop, Dentamira menambahkan bahwa seorang presenter juga harus menyajikan pertanyaan yang merepresentasikan publik kepada narasumber. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memahami penjelasan narasumber.

 

 

Penulis : Herlina Yawang

Editor : Editorial Kompas Corner UMN

Foto : Dokumentasi Kompas Corner UMN