Gebyar HUT Kompas Corner: It Isn’t About Speed, It’s About Quality

0
784

SERPONG, KOMPAS CORNER – Tiga tahun sudah berdiri dengan kokoh sebuah ruang interaktif bentukan Kompas yang dengan setia mendukung mahasiswa untuk memanfaatkan waktu senggang yang ia miliki dengan efektif. Contohnya, dengan membaca kumpulan buku terbitan Kompas, menelusuri Pusat Informasi Kompas (PIK), dan memperbaharui informasi aktual dengan harian Kompas.

Senin (2/5) lalu telah dilaksanakan gebyar pesta Hari Ulang Tahun Kompas Corner ke-3 tahun di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang dimeriahkan dengan seminar dan lokakarya bertemakan ‘Literacy: From Noise To Creative Ideas’ , Turut hadir Muhammad Bakir sebagai Redaktur Pelaksana Harian Kompas beserta jajarannya, Ika Yanuarti,S.E, MSF selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMN, Hira Meidia, Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik, Komunitas Rencang, LPPM Rumpin, Teater Katak, dan finalis Proyek Personal Branding.

Acara diawali dengan penyampaian sepatah-dua kata dari Muhammad Bakir yang begitu antusias menanggapi tema HUT yang diusung Kompas Corner tahun ini yang bertolak dari motto Kompas Gramedia itu sendiri, From noise to voice. Beliau menjelaskan bahwa dari luapan informasi yang ada dan yang saling berlomba-lomba untuk dapat diketahui oleh masyarakat luas, Kompas harus dengan kritis mewakili pertanyaan masyarakat Indonesia berkaitan dengan berita aktual. Menanggapi hal tersebut, Harian Kompas memilih 130 berita untuk dipublikasikan ke seluruh Indonesia.

Dalam kata sambutannya, Muhammad Bakir menyayangkan tingkat literasi bangsa ini yang masih sangat rendah. Berdasarkan pada data UNESCO, porsi membaca masyarakat Indonesia hanya mencapai 4-6 jam per hari. “Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang dapat menamatkan 1 judul buku per tahunnya” tandasnya. Menutup kata sambutannya, M. Bakir mempertegas bahwa dalam dunia jusnalistik, setiap reporter wajib membaca buku, karena untuk melakukan suatu ekspedisi dibutuhkan informasi tambahan terkait hal yang diamati. Contohnya, Ekspedisi Batik, Ekspedisi Mangroove, dst yang dilakukan Kompas. Beliau juga menambahkan bahwa dengan membaca lebih banyak, akan tercipta ide-ide yang menarik sehingga penulisan berita pun tidak menjadi monoton. “Karena jika tidak ada kreasi baru kemungkinan beritanya tidak akan dibaca orang!” jelas Muhammad Bakir seraya mengakhiri kata sambutannya.

Tak hanya perwakilan Kompas, pihak Universitas Multimedia Nusantara yang diwakili oleh Ika Yanuarti,S.E, MSF selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan pun turut menyampaikan harapannya untuk Kompas Corner.“Semoga para peserta HUT Kompas Corner bisa mendapat manfaat dari kegiatan ini. Untuk Kompas Corner, Selamat Ulang Tahun dan semoga suskses terus berkarya meningkatkan prestasi,” tutup Ika Yanuarti.

Kelancaran Gebyar Hari Ulang Tahun Kompas Corner ini juga tak lepas dari dukungan Community Partner yang ada di UMN, diantaranya yakni Rencang, Rumpin, dan Teater KataK. Masing-masing dari community partner tersebut diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri mereka lebih lanjut kepada para peserta HUT Kompas Corner yang ke-3.

Prosesi tiup lilin ulang tahun yang diwakili oleh ketua Kompas Corner (kanan) bersama program manajer Kompas Corner (kiri).
Prosesi tiup lilin ulang tahun yang diwakili oleh ketua Kompas Corner (kanan) bersama program manajer Kompas Corner (kiri).

Adegan puncak yang senantiasa dinanti pun tiba yakni Seremoni Pemotongan Tumpeng dan Tiup Lilin. Sebagai suatu kehormatan, Kompas Corner mengundang Muhammad Bakir perwakilan Kompas Gramedia untuk memotong tumpeng pertama, yang kemudian diberikan secara simbolik kepada Ika Yanuarti, perwakilan dari UMN, dan kepada Hans selaku ketua Kompas Corner Generasi-3. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi tiup lilin kue ulang tahun oleh Sulyana Andikko, Program Manajer Kompas Corner, bersama dengan Hans.

Seminar pleno yang merupakan acara inti dari segala rangkaian acara Senin itu juga diramaikan dengan pemaparan proyek sosial hasil dari workshop Personal Branding (17/3). Ketiga finalis antara lain Anak Langit (23/4), Anak Desa Kenal Kreasi dan Seni (9/4), (16/4), (23/4), dan Cek Gizimu (24/4) masing-masing diberikan kesempatan untuk menunjukan hasil kerjanya.

Dengan mengusung tema Slow Journalism, Kompas Corner mengundang Wisnu Nugroho selaku Pemimpin Redaksi Kompas.com untuk berbagi pengalaman bersama hadirin dan tamu undangan HUT Kompas Corner ke-3. Wisnu memulai pembelajaran dengan mengajak ingatan pendengar untuk kembali kepada peristiwa di mana 121.933 tweet dilayangkan menanggapi mencekamnya suasana di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat (14/1). Perkembangan teknologi memudahkan masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi informasi dengan sangat cepat, bahkan topik terkait dapat mendunia dalam sekejap mata. Seluruh media masa mengalami banjir informasi. Bahkan jika diingat kembali, hampir setiap telepon pintar disodori pesan singkat yang silih berganti tiada henti mengabari berita ‘terkini.’

Pemaparan cara mempraktikan prinsip Slow Journalism dengan kritis oleh Wisnu Nugroho.
Pemaparan cara mempraktikan prinsip Slow Journalism dengan kritis oleh Wisnu Nugroho.

Banyak masyarakat Indonesia yang kemudian terbawa informasi, dan kemudian menjadi panik. Dalam sesinya, Wisnu menegaskan bahwa sebagai generasi penerus bangsa, tidak seharusnya kita menelan informasi secara mentah tanpa ditelaah kebenarannya. Sebagai contoh, isu adanya ledakan di Palmerah. Menanggapi hal tersebut, Kompas mengirim beberapa wartawannya untuk memeriksa kebenaran informasi yang ada. Wisnu mengimbau para hadirin untuk menjadi skeptik dalam menerima informasi yang beredar dengan cepat untuk mencegah tersebarnya informasi yang tidak terverifikasi.

“Social Media boleh digunakan, tetapi hanya untuk mendapatkan informasi awal saja, selebihnya Anda harus bertanya-tanya akan kebenaran informasi tersebut,” tegas Wisnu. Layaknya makanan, ada ketimpangan antara fast food dengan slow-cooking food. Kualitas yang diberikan makanan yang dimasak perlahan tentunya lebih baik dibandingkan dengan makanan cepat saji. Begitupun dengan berita, informasi yang diberikan terkadang mendatangkan rasa siaga secara spontan sekalipun belum terbukti kebenarannya.

Sepanjang hari, berita aktual tentang ledakan di Sarinah telah meluap dan terjadinya banjir informasi. Hal ini mendorong media cetak, salah satunya yakni Kompas, untuk merancang berita dari sisi yang berbeda sehingga pembaca tidak merasa bahwa berita tersebut sudah ‘kedaluwarsa’. Untuk mengemas berita menjadi out of the box, Kompas mengirim sejumlah wartawan dan tim multimedia ke lokasi kejadian untuk merancang alur ledakan tersebut. Setelah berita tersebut dipublikasikan keesokan harinya, pihak Harian Kompas sendiri mendapat umpan balik yang baik dari para pembaca setia yang merasa puas dengan informasi baru yang dihadirkan.

Seminar pleno HUT Kompas Corner memikat perhatian hadirin untuk mengulik lebih dalam tentang Slow Journalism.
Seminar pleno HUT Kompas Corner memikat perhatian hadirin untuk mengulik lebih dalam tentang Slow Journalism.

Prinsip Slow Journalism

  1. Team work & collaboration
  2. Research

Melakukan riset secara mendalam merupakan hal yang penting. Namun, analisa investigative dan visualisasi data juga memainkan peran penting dalam penulisan berita yang disuguhkan. Dalam wawancaranya bersama Kompas Corner, Wisnu mengatakan bahwa sebuah gambar mampu mewakili seribu kata. Menurutnya, membaca tak melulu harus dari teks, namun juga bisa dari sumber referensi terpercaya lainnya.

“Berdasarkan pengalaman saya, kita memang harus luangkan waktu untuk membaca. Jika tidak dipaksa demikian, maka kemungkinan besar kita tidak akan membaca,” ujarnya. Wisnu mengambil contoh Joshua Hammer yang melakukan penelitian dan peliputan mendalam terhadap kecelakaan Airbus A320 yang menabrak Gunung Alpen. Artikel tersebut dikeluarkan setelah satu tahun Joshua mengumpulkan seluruh informasi relevan (22/2/16).

Melihat pentingnya visualisasi gambar pada sebuah berita, Wisnu memperkenalkan Visual Interaktif Kompas (VIK) kepada hadirin tentang bagaimana Kompas mempraktikkan prinsip Slow Journalism tersebut dan mengemas informasi secara atraktif berkat desain grafis multimedia. Sekalipun membutuhkan waktu yang lama dan riset yang mendalam, pada akhirnya  VIK mendatangkan kepuasan tersendiri bagi para viewer-nya, terbukti dari jumlah pengunjungnya yang melesat tinggi.

 

Penulis : Herlina Yawang & Gulman Azkiya

Editor : Editorial Kompas Corner UMN

Foto : Dokumentasi Kompas Corner UMN