Dicari: Peneliti Muda Indonesia!

0
9105

Mahasiswa mengemban tugas utama yang termaktub dalam Tridarma Perguruan Tinggi, yang diamini semua perguruan tinggi di Indonesia. Poin kedua dari tugas tersebut adalah penelitian dan pengembangan. Sayangnya, penelitian yang dikerjakan mahasiswa baru sebatas untuk memenuhi tugas kuliah. Mengerjakan skripsi adalah bentuk penelitian ilmiah menggunakan metodologi baku dan disusun runut. Di luar itu, tugas-tugas kuliah pun banyak mengadopsi cara meneliti, bisa lewat pengamatan langsung di lapangan ataupun studi literatur. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa cukup akrab atau juga dibiasakan dengan penelitian. Meski demikian, tak terlalu banyak mahasiswa yang memilih peneliti sebagai profesi mereka di kemudian hari.

Alasannya bermacam-macam. Rata-rata menganggap profesi peneliti terlalu kaku atau serius. Bahkan ada yang beranggapan bahwa menjadi peneliti tidak bisa dijadikan sandaran hidup dari sisi penghasilan. Fitri Damayanti, mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta, justru berpendapat bahwa peneliti adalah juru kunci bagi kelangsungan bangsa. Di tangan para peneliti, kemajuan bangsa dibentuk. Oleh karena itu, Fitri mengharapkan lebih banyak generasi muda yang mau menjadi peneliti, tak sekadar meneliti ketika ada tugas kuliah.

Harapan Fitri kini berusaha diwujudkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa tahun terakhir berusaha ”menarik” kembali calon peneliti asal Indonesia yang menempuh studi di luar negeri.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir misalnya, para penyandang gelar doktor dari kampus luar negeri ”pulang kampung” ke Indonesia dan menjadi peneliti LIPI. Salah satunya adalah Doktor Ratih Pangestuti. Penyandang cum laude dari Pukyong National University, Korea, ini meraih gelar doktor di usia terbilang muda, 29 tahun.

Awal Oktober ini, Ratih menerima penghargaan LIPI Young Scientist Award 2015 atas penelitiannya tentang pemanfaatan teripang atau timun laut sebagai bahan baku obat. ”Selama ini produk biota laut Indonesia diperjualbelikan dalam bentuk mentah. Oleh karena itu, perlu penambahan nilai produk supaya meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia,” ujarnya.

LIPI Young Scientist Award adalah penghargaan kepada ilmuwan muda Indonesia yang berusia di bawah 35 tahun. Penghargaan yang baru pertama kali digelar tahun ini tersebut diberikan kepada peneliti yang konsisten membagikan hasil penelitiannya bagi masyarakat luas ataupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Hasil penelitian yang memberi manfaat langsung bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Meski demikian, hasil penelitian itu tak sepenuhnya bisa langsung diimplementasikan. Hal tersebut terkait dengan kebijakan pengembangan oleh instansi pemerintah terkait.

Hasil penelitian Ratih yang terkait biota laut bersinggungan dengan kepentingan sejumlah kementerian, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perindustrian. Birokrasi  semacam itu kadang membuat hasil  penelitian hanya berhenti sebagai rekomendasi.

Bibit baru

Walaupun demikian, pencarian bibit peneliti baru terus dilakukan. Salah satu caranya adalah mengadakan kompetisi penelitian ilmu pengetahuan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang digelar LIPI sejak 1962. Kompetisi ini ditujukan bagi calon peneliti berusia 12-19 tahun. Di jenjang mahasiswa ada Program Kreativitas Mahasiswa yang diadakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Titik cerah dunia penelitian Indonesia terlihat pada penyelenggaraan LKIR tahun ini. Ada peningkatan jumlah peserta sebanyak 30 persen. Tahun ini, dewan juri ajang itu menyeleksi 2.041 proposal penelitian. Sementara pada tahun sebelumnya proposal yang masuk hanya berjumlah 1.431 buah.

Laksana Tri Handoko, Ketua Dewan Juri LKIR 2015, menyebutkan, peningkatan jumlah proposal penelitian cukup menggembirakan. ”Hal itu mengindikasikan sebenarnya banyak yang berminat pada kegiatan riset,” kata Handoko. Untuk merangsang minat remaja meneliti, LIPI menggandeng British Council melalui The Newton Fund. Jadi, pemenang lomba karya ilmiah berkesempatan memperdalam penelitiannya untuk diikutsertakan di ajang internasional.

Jika hasil penelitian pernah memenangi lomba, apalagi ajang internasional, siswa bersangkutan mendapat kesempatan lebih besar menempuh studi di kampus bergengsi. Pemenang LKIR tahun lalu adalah Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan dari SMA Negeri 1 Surakarta yang menyelisik abu vulkanik Gunung Kelud sebagai materi penyaringan limbah cair.

Berkat karyanya itu, mereka berdua berkesempatan melawat ke Pittsburgh, AS, untuk mengikuti ajang Intel International Science and Engineering Fair. Karya mereka diganjar penghargaan spesial. Luca kini berkuliah di Institut Teknologi Bandung dengan jalur penerimaan khusus. Namanya juga sempat menghiasi media massa berkat kecemerlangannya.

Perjalanan menuju peneliti profesional memang masih jauh. Nah, untuk sampai ke sana, dibutuhkan keteguhan. Handoko berpendapat, mahasiswa yang berminat menjadi peneliti harus bertekad menyelesaikan pendidikannya sampai titik akhir, yaitu jenjang doktoral. ”Selain itu, cari pembimbing atau dosen yang berorientasi pada riset. Semasa kuliah, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk bergabung dengan tim peneliti LIPI supaya bisa merasakan iklim riset ilmiah,” ujar Handoko.

Peluang itu sangat menggiurkan karena, selain bisa menambah wawasan, siapa tahu peneliti profesional mengajak jalan-jalan ke daerah yang diteliti hingga ke pelosok Indonesia. Ada yang berminat? Indonesia membutuhkanmu.


 

ARGUMENTASI

Juru Kunci

Fitri Damayanti, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Penelitian menjadi dasar suatu kebijakan disusun, diterapkan, dan akhirnya dievaluasi. Dengan penelitian, juga dapat ditemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi khalayak. Maka, saya menyebut seorang peneliti sebagai ”juru kunci” dan ”juru selamat” bagi kemajuan suatu negara.

Banyak mahasiswa yang berminat dalam bidang penelitian. Hal itu terlihat dari Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dalam program itu, bidang yang banyak dipilih adalah bidang penelitian. Tugas dari dosen pun tidak jarang mengandung unsur penelitian dan pemecahannya. Namun, sayangnya, penelitian yang dilakukan selama ini sekadar hitam di atas putih alias kurang implementasi. Data dan solusi mangkrak di laptop ataupun di meja dosen.

Saya berpendapat, negara ini membutuhkan peneliti berpengalaman sejak dari mahasiswa. Untuk merintis pengalaman itu, mahasiswa harus peka dengan sekitar, selalu merasa ingin tahu, dan banyak memiliki referensi. Caranya adalah dengan membaca buku dan bermain keluar dari zona nyaman. Jika sudah demikian, bersiaplah menjadi juru kunci kemajuan negara Indonesia.

Jadilah Kritis

Yustinus K Karwayu, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Peneliti merupakan komponen penting dalam suatu bangsa. Dewasa ini Indonesia memiliki banyak peneliti, terutama kaum muda. Pada kenyataannya, para peneliti muda belum semuanya diayomi pemerintah.

Kampus kami, misalnya, setelah berpuluh tahun berkarya baru kali ini mengikuti Pelatihan Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk menjadi peneliti muda oleh Ditjen Dikti. Sebagai mahasiswa, kami telah sering menjadi peneliti. Namun, penelitian itu hanya sampai pada tataran tugas karya ilmiah hingga skripsi.

Sebagai mahasiswa Filsafat, banyak tema penelitian yang sering kami ulas karena luasnya ilmu ini. Beragam cara dilakukan sebagai langkah dasar menjadi peneliti, seperti mengembangkan sikap kritis serta rasa ingin tahu yang tinggi sehingga dapat melihat realitas dengan baik. Selain itu, semangat menulis para peneliti muda, mahasiswa, perlu ditingkatkan agar menjadi peneliti yang produktif.

Baca dan Tulis

Zuhrotus Sofiya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Menjadi peneliti bukanlah suatu pekerjaan mudah karena membutuhkan minat untuk terus mendalami ilmu yang digeluti. Saat ini, minat untuk menjadi peneliti di kalangan mahasiswa cenderung menurun.

Salah satu latar belakang adalah mahasiswa yang enggan menulis. Mereka beranggapan bahwa dirinya tidak bisa menulis. Padahal, menjadi mahasiswa tak pernah lepas dari kegiatan membaca dan menulis.

Kurangnya minat mahasiswa dalam membaca dan menulis bisa dilihat dari kurangnya jumlah pers mahasiswa. Dampaknya, hasil karya tulis mahasiswa makin jarang terekspos. Mahasiswa juga perlu memotivasi dalam diri untuk mengikuti kelompok diskusi. Padahal, dari forum semacam ini, mahasiswa dapat memperoleh berbagai pengetahuan sehingga dapat bertukar pikiran dan memunculkan ide.

Penyebab lain dari rendahnya semangat untuk menulis juga disebabkan kurangnya penghargaan dari pihak pemerintah. Seharusnya pemerintah memberikan fasilitas pendukung serta memberikan apresiasi khusus sehingga para mahasiswa dapat lebih aktif dan tergugah untuk mengembangkan minatnya dalam bidang menulis.

Dongkrak Minat

Faruq Hidayat, Jurusan Syariah Prodi Ekonomi Islam STAIN Kudus.

Menjadi seorang peneliti tentu tidaklah mudah. Dalam membuat penelitian, mereka harus benar-benar mengetahui fokus permasalahan yang akan diteliti. Hal itu dilanjutkan dengan pengumpulan data lapangan. Tak hanya itu, dibutuhkan pula banyak referensi dari buku dan media.

Untuk mengasah kemampuan dalam meneliti, kita bisa mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Dibutuhkan keseriusan dan kejelian dalam membuat karya tulis ilmiah. Belum lagi saat hasil karya tulis diuji, perlu penguasaan materi untuk mengatasinya.

Maka dari itu, kita perlu melatih diri sejak dini. Jika karya tulis ilmiahnya lolos sampai tahap akhir seleksi, ada hadiah uang tunai yang cukup besar bakal jadi imbalannya.

Saya sudah beberapa kali mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Banyak manfaat positif yang telah saya peroleh. Pertama kali ikut lomba saya gagal. Dari kegagalan itu, saya belajar bagaimana aturan dalam membuat karya tulis ilmiah yang benar.

Berlatih membuat karya tulis ilmiah dapat mendongkrak minat mahasiswa agar menjadi seorang peneliti. Hal tersebut juga dapat memudahkan mahasiswa membuat skripsi nantinya.

Dedikasi Mahasiswa

Hestia Istiviani, Universitas Airlangga, Surabaya.

Tidak semua mahasiswa kini menjadi peneliti karena dorongan dari dalam diri. Kebanyakan dari mereka melakukan penelitian karena tugas kuliah atau tugas akhir/skripsi. Padahal, tanpa mereka sadari dan ketahui, aktivitas penelitian sebenarnya terus mereka lakukan.

Banyak mahasiswa merasa bahwa penelitian itu rumit karena harus menggunakan teori serta pengerjaannya terstruktur dan metodis. Namun, tanpa ada teori atau preferensi dari penelitian terdahulu, bagaimana mungkin penelitian yang bagus dihasilkan?

Profesi peneliti di Indonesia untuk bidang ilmu yang belum tergali dengan baik merupakan peluang bagi mahasiswa. Hal ini bisa dijadikan motivasi agar mahasiswa mau menjadi peneliti, entah itu ikut dalam lembaga atau mengajukan secara pribadi. Itu karena dedikasi mahasiswa untuk kegiatan penelitian akan berdampak positif, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Semoga dengan banyaknya penyedia penelitian ataupun studi lanjut untuk penelitian bisa mendorong mahasiswa berkontribusi bagi negara melalui hasil penelitian yang solutif.

(Herlambang Jaluardi)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Oktober 2015, di halaman 34 dengan judul “D icari: Peneliti Muda Indonesia!“