Pekan Budaya Indonesia

0
3179

Sebagai bangsa besar, Indonesia memiliki sejarah begitu panjang dengan budaya yang berkembang di dalamnya, sangat beragam. Untuk menjaga sejarah dan keberagaman budaya bangsa itu, selama lima hari, lebih dari 30 mahasiswa dari seluruh Indonesia berkumpul dalam ajang Pekan Nasional Cinta Sejarah di Semarang, Jawa Tengah.

Pekan Nasional Cinta Sejarah merupakan bagian dari acara Pekan Budaya Indonesia. Acara yang berlangsung pada 5-9 Agustus 2015 ini merupakan ajang tahunan dari Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Rangkaian kegiatan meliputi pemutaran dan apresiasi film sejarah, dialog kesejarahan, jelajah kuliner, pameran sejarah, dan pawai kebudayaan.

Acara bertema ”Harmoni dalam Keberagaman Budaya” itu mendatangkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Mereka antara lain berasal dari Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Sumatera Utara Medan, Universitas Indonesia Depok, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Udayana Denpasar, dan Universitas Cenderawasih Jayapura.

Meski kegiatan selalu berlangsung seharian penuh, peserta tetap serius dan senang mengikuti acara tersebut. ”Acara ini bukan untuk main-main, melainkan kesempatan berharga mengenal lebih jauh perjalanan sejarah bangsa,” kata Hasib Rozi Pramana, mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya.

Pada hari pertama, semua peserta mengunjungi Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Di sana, peserta menonton dan mendiskusikan film sejarah Guru Bangsa Tjokroaminoto. Hadir pula Mukhlis Paeni sebagai Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Muhammad Ade Syamputra dari tim produksi film tersebut. Film merupakan media penting dalam memperkenalkan sejarah dan budaya ke masyarakat luas. Dalam diskusi itu, peserta sangat antusias menanyakan segala hal mengenai tantangan produksi film sejarah di Indonesia.

Mukhlis Paeni bersyukur karena acara ini membuktikan bahwa pemerintah memperhatikan sejarah sebagai hal penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terkait film sejarah, dia berpendapat, dalam memproduksi film sejarah, sejatinya para pembuat film tidak perlu memperhitungkan untung dan rugi karena manfaat keberadaan film sejarah tidak hanya dapat dirasakan kini, tetapi juga sampai jauh hari ke depan. ”Untuk itu produksi film sejarah harus ditingkatkan,” katanya.

Sementara itu, sebagai sineas, Muhammad Ade Syamputra berpendapat, identitas bangsa dapat dijaga melalui film. Hal ini penting karena banyak masyarakat Indonesia tidak mengetahui sejarah bangsanya. Bahkan, saat riset awal, dia mengakui banyak orang tidak mengenal Tjokroaminoto sebagai seorang tokoh fenomenal. Mereka hanya mengenalnya sebagai nama jalan. ”Berawal dari betapa ironis hal itu di lapangan, kami mengangkat kisah Tjokroaminoto ke dalam produksi film,” kata Ade. Garin Nugroho, lanjut Ade, serius menggarap film sejarah ini. Untuk riset film, diperlukan waktu dua tahun. Sementara untuk pengumpulan arsip, 70 persen didapat dan didatangkan dari Belanda.

”Jadi, kami sebagai sineas, dalam menggarap film sejarah, juga berupaya bekerja layaknya seorang sejarawan,” ujar Ade.

Kekayaan terbesar

Selain itu, peserta mendapat banyak pelajaran dari pemaparan para ahli sejarah, seperti Taufik Abdullah, Anhar Gonggong, Hilmar Farid, Susanto Zuhdi, Singgih Tri Sulistiyono, Wasino, dan Nur Abadi. Mereka antara lain membahas faktor sejarah pembentuk karakter bangsa dan tantangan Indonesia meneruskan cita-cita menjadi poros maritim dunia.

Tidak hanya itu saja, mahasiswa ikut dalam pawai kebudayaan di Simpang Lima Semarang. Pakaian-pakaian adat dari Aceh sampai Papua mewarnai lapangan yang menjadi pusat kota Semarang tersebut sehingga sangat tampak keberagaman budaya bangsa Indonesia dengan segala corak keseniannya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat membuka pawai sangat senang melihat keberagaman budaya Indonesia di pawai kebudayaan itu. ”Kekayaan terbesar kita yang tidak dimiliki negara lain adalah keberagaman budayanya,” kata Anies.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menilai banyak hal dapat diambil dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. ”Salah satunya adalah cara mempersatukan bangsa lewat kebudayaan yang sangat beragam.”

(Savran Billahi – Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia)