Layar Lebar Produksi Ponsel

0
2810

Memproduksi film layar lebar dengan kamera ponsel? Kini semua menjadi mungkin diwujudkan. Yang dibutuhkan hanya kreativitas dan kerja profesional.

Spesifikasi telepon seluler yang diluncurkan di Indonesia dalam dua tahun terakhir, terutama kelas premium, kian sulit diremehkan. Tidak hanya prosesor dan kapasitas penyimpanan internal, kemampuan kamera adalah salah satu bidang dengan kompetisi paling sengit.

Sensor kamera untuk menghasilkan gambar dengan resolusi terbaik, diafragma untuk tetap bisa diandalkan dalam kondisi pencahayaan terbatas, dan kecepatan mencari fokus gambar umumnya menjadi klaim yang diperebutkan produsen setiap kali meluncurkan produk.

Pun demikian dengan kualitas video, sebagian kecil tipe ponsel yang beredar di Indonesia kini sudah memiliki fitur untuk merekam gambar bergerak dengan resolusi 4K. Resolusi ini memiliki piksel empat kali lebih banyak daripada layar definisi tinggi yang kebanyakan ada di toko elektronik.

Menyebut beberapa nama, seperti seri Xperia dari Sony, Oppo R7, dan Samsung Galaxy S6, sudah memiliki fitur video dengan resolusi 4K. Salah satu konsekuensi dari fitur ini umumnya memiliki kapasitas penyimpanan internal yang besar mengingat ukuran file dari video 4K dengan durasi 1 detik akan jauh melampaui video resolusi lebih rendah.

Seberapa jauh fitur ini dimanfaatkan penggunanya?

Kreativitas

Pikiran itulah yang membuat Derryl Imanalie (23) gelisah. Dengan perangkat dan teknologi yang lebih terjangkau untuk banyak orang, seharusnya membuat karya yang berkualitas tinggal bergantung pada kreativitas pembuatnya. Untuk itulah, kemudian dia menawarkan konsep membuat film layar lebar dengan memanfaatkan kamera ponsel kepada salah satu rumah produksi. Usulnya pun diterima meski harus melakoni beberapa pengujian untuk memastikan gambar yang diambil dari kamera ponsel bisa ditampilkan di layar bioskop.

Dimulai dari Juni 2014, proyek tersebut membuahkan hasil dengan film berjudul Cai Lan Gong dengan genre horor yang ditayangkan di bioskop pada 22 Oktober. Kisah ini memiliki benang merah dengan dua film, Jelangkung dan TusukJelangkung, yang juga dihasilkan Rexinema, rumah produksi yang digandengnya.

Terpaut hampir 11 tahun dari film Jelangkung yang disutradarai Rizal Mantovani, cerita yang dibawakan Cai Lan Gong justru mundur ke belakang, menyoroti fenomena jelangkung jauh sebelum dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Sesuai tekad Derryl sejak awal, film berdurasi kurang dari 90 menit ini selama pengambilan gambar sepenuhnya menggunakan kamera ponsel.

Profesional

Meski menggunakan ponsel, jangan dibayangkan bahwa pengambilan gambar akan menyerupai pengguna kamera pada umumnya, hanya menyorongkan punggung ponsel dan merekam gambar begitu saja. Menggunakan kamera bukan berarti meninggalkan peralatan yang lain.

Director of Photography film Cai Lan Gong Yuniarto Wibowo mengungkapkan, mereka menggunakan peralatan profesional, seperti lensa sinema, stabilizer, hingga pengaturan tata lampu layaknya membuat film dengan kamera video. Bedanya, setiap ponsel harus menggunakan wadah yang dipesan khusus agar bisa dihubungkan pada lensa dan tripod.

”Jika ingin membuat film profesional, tentunya harus dilakukan secara profesional pula,” ujarnya.

Mereka memiliki empat macam perangkat kamera untuk mengambil gambar dalam beragam keadaan. Untuk gambar long shoot, mereka hanya menempelkan neutral density (ND) filter untuk menapis sinar matahari yang masuk ke dalam lensa. Melalui aplikasi Open Camera yang dipergunakan selama pengambilan gambar, juru kamera hanya mengatur fokusnya ke infinity atau seluruh bagian tajam.

Untuk gambar detail yang membutuhkan ruang tajam, mereka menggunakan perangkat yang terhubung dengan lensa sinema. Lensa tersebut bertugas untuk mencari fokus. Sementara kamera ponsel yang sebetulnya memiliki fitur otofokus malah tidak dipakai dan berfungsi untuk merekam gambar saja. Penggunaan lensa mengakibatkan munculnya vignette atau batas hitam di sekeliling gambar karena sensor kamera tidak menangkap gambar dari lensa secara tepat, solusinya adalah dipotong atau crop.

Gambar dari udara juga tidak ditinggalkan dalam film ini, atau menggunakan drone. Jika kebanyakan di shooting film lain menggunakan kamera bawaan dari drone atau memasang kamera aksi, tim produksi tidak segan menempelkan satu unit ponsel dengan sedikit modifikasi agar pesawat nirawak itu bisa membawa ponsel meski konsekuensinya adalah kesulitan dalam mengatur sudut pengambilan gambar karena tidak bisa dipasang di bagian gimbal.

Menurut Yuniarto, mereka tidak membuat kompensasi apa pun sewaktu bekerja dengan ponsel. Seluruh pengaturan dilakukan layaknya mereka bekerja dengan kamera video pada umumnya.

Produksi film Cai Lan Gong memanfaatkan kamera dari ponsel pintar untuk mengambil seluruh gambar yang kemudian diproses untuk nanti ditayangkan di layar bioskop akhir Oktober, Kamis (15/10). Meskipun bermodal ponsel, bukan berarti tim produksi meninggalkan peralatan profesional lainnya untuk mengambil gambar. Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo
Produksi film Cai Lan Gong memanfaatkan kamera dari ponsel pintar untuk mengambil seluruh gambar yang kemudian diproses untuk nanti ditayangkan di layar bioskop akhir Oktober, Kamis (15/10). Meskipun bermodal ponsel, bukan berarti tim produksi meninggalkan peralatan profesional lainnya untuk mengambil gambar.
Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Kesempatan

Sutradara film David Poernomo menyebutkan, konsep film bioskop yang diambil dengan kamera ponsel saat ini merupakan kali pertama di Indonesia. Ini adalah pembuktian mereka seperti saat film Jelangkung di tahun 2001 adalah film pertama yang diambil dengan kamera digital. Sementara mereka menghadapi pelaku lain yang tidak percaya dengan langkah tersebut.

Kini produksi film cara digital sudah menjadi kelaziman.

Beberapa film yang diambil dengan kamera video memang sudah diproduksi di belahan dunia lain. Misalkan Tangerine yang ditampilkan dalam festival film Sundance tahun ini ternyata diambil dengan kamera ponsel.

”Lantas apabila pertanyaannya adalah kamera ponsel menggantikan kamera video untuk membuat film, saya rasa tidak bisa disimpulkan seperti itu. Semua tergantung dari konsep film yang ingin dibuat dan film ini adalah bukti bahwa kamera ponsel bisa dipakai,” ujar David.

Penggunaan kamera ponsel dalam produksi film bioskop tidak berarti ongkos produksi ditekan secara signifikan, lanjutnya, karena biaya terbesar tetap pada operasional kru, sewa kostum, dan peralatan lain. Setidaknya penghematan bisa dilakukan dari sewa kamera. Jika tidak memiliki kamera untuk pengambilan gambar, tarif rata-rata adalah Rp 5 juta per hari untuk setiap unit.

Derryl melihat peluang ini sebagai kesempatan untuk berkarya. Penggunaan ponsel adalah simbol bahwa setiap orang bisa memanfaatkan teknologi yang sudah ada tidak jauh dari genggaman mereka. Sudahkah kita memanfaatkan teknologi yang ada di genggaman?

(Didit Putra Erlangga Rahardjo)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Oktober 2015, di halaman 30 dengan judul “Layar Lebar Produksi Ponsel”