FESTIVAL BUDAYA: Kesederhanaan Indonesia Pukau Dunia

0
3912

Iringan lagu tari saman menggema di seluruh penjuru auditorium. Para penari serentak mengempaskan badan mengikuti satu irama yang padu. Tempo semakin cepat, tepukan tangan penari semakin terdengar. Seakan tak sempat mengedipkan mata, lengkingan suara para penari menarik penonton yang memberikan standing applause.

Tari saman asal Aceh, Indonesia, menjadi penutup yang manis dalam festival budaya Encuentro Internacional de Folklore yang diselenggarakan 2-6 September 2015 di kota Zaragoza, Spanyol. Di bawah naungan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan CIOFF Indonesia, komunitas Pasir Putih dan Usace Unpad berhasil membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Festival yang sudah digelar 20 tahun ini diikuti delapan negara, yaitu Rusia, Hongaria, Banglades, Slovenia, Spanyol, Argentina, Meksiko, dan Indonesia.

Kesederhanaan Indonesia di Mata Dunia Ghina Rizqi Fitria

Dalam festival yang diselenggarakan Eifolk Spanyol ini, penampilan dari delapan negara dibagi menjadi dua bagian selama dua hari. Pada hari ketiga, semua peserta mendapat kesempatan tampil di panggung.

Kami mendapat kesempatan tampil pada hari kedua. Tim dari Meksiko membuka festival dengan sangat meriah. Dansa berpasangan didukung kostum indah warna-warni memanjakan mata penonton. Para penari dengan cepat berlari ke belakang panggung dan kembali dengan pakaian serba putih yang jauh berbeda. Belum selesai mata ini dipukau, tak sadar para penari sudah kembali berganti pakaian dan melakukan tarian yang makin dinamis. Seakan tak mau kalah, penari Argentina menutup hari itu dengan tarian yang hampir sempurna. Seperti pasukan, mereka mengentak-entakkan kaki secara bersamaan, berputar, meloncat, hingga menggunakan mulut untuk melakukan atraksi.

Tampilkan yang terbaik

Setelah melihat penampilan dari negara lain, kami dihinggapi rasa takut dan ragu-ragu. Kami, yang tidak memiliki latar belakang sebagai penari dan pemusik, serasa ingin terjun ke jurang setelah melihat para penari profesional unjuk aksi. Mereka menari dengan sangat lihai dan indah, jauh dari kata cacat. Namun, kami masih tetap semangat. Setelah makan malam, kami semangat berlatih untuk menampilkan yang terbaik.

Giliran kami unjuk kebolehan. Tak disangka, kegigihan kami membuahkan hasil. Kesederhanaan kami membuat tarian dan musik khas Indonesia memukau penikmat budaya tradisional mancanegara. Paling tidak, itulah yang dikatakan fotografer asal Perancis, Michel Renard, yang turut mendokumentasikan festival ini.

”Budaya Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara lain yang tampil dalam festival ini. Dibandingkan dengan negara-negara yang mayoritas datang dari Benua Eropa, Indonesia memiliki alat musik dan bentuk tarian yang sangat tradisional,” kata Michel.

Berbeda dengan tarian Eropa dan Amerika Latin yang kerap diiringi alat musik lengkap dan lebih modern, kami berhasil menciptakan alunan musik yang ringan dan apik, hanya dengan mengandalkan alat musik saron, kenong, tambur, dan gendang. Bahkan, pada tari saman, penari hanya diiringi suara syekh dan beberapa gendang. Unik, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan budaya kita.

Tim yang hanya terdiri dari 12 penari dan 7 pemusik ini justru membuat Indonesia menjadi buah bibir dalam festival tersebut. Panggung yang biasanya terisi penuh gerakan dansa berpasangan dari puluhan penari terasa berbeda saat bendera Indonesia mulai ditampilkan di atas layar. Dalam festival tersebut, tim Universitas Padjadjaran menampilkan delapan tarian, yakni tari saman, tari nandak, tari greget, tari yapong, tari tifa, tari enggang dan balian, serta tari piring.

Setiap tarian memiliki ciri khas. Mulai dari tari greget dan nandak yang genit, tari yapong dan enggang yang anggun, hingga tari tifa, balian, dan piring yang penuh semangat. Mulai dari membawa properti kipas, gendang, bulu-bulu, hingga piring untuk menari.

Baik penari maupun pemusik mempelajari delapan tarian tersebut dalam waktu tiga bulan. Tidak ada dasar apa pun, hanya keinginan dan niat yang tulus untuk memperkenalkan budaya Indonesia serta mengubah pola pikir bangsa luar terhadap bangsa kita. Semoga apa yang telah kami capai dapat menginspirasi kaum muda lainnya. Sudah saatnya generasi muda turun langsung mengharumkan nama Indonesia.

(Ghina Rizqi Fitria Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Oktober 2015, di halaman 35