Menyusuri kota-kota kecil dari Maluku hingga Nusa Tenggara Timur menyadarkan kita betapa negeri ini menyimpan energi untuk menjadi bangsa besar. Ada semangat Hatta yang tersimpan di Banda, Maluku, serta gairah Soekarno yang terus menyala di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Setelah terbang sekitar 45 menit dari Ambon, kami tiba di Banda, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Jumat (29/8). Jalanan di Banda amat sepi meskipun hari beranjak siang. Satu-dua warga melongok dari jendela atau pintu rumah saat mendengar raung sirene dari sepeda motor patroli pengawal rombongan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Emi Baadillah (73) penjaga rumah pengasingan Hatta di Banda, Maluku Tengah, Maluku Jumat (29/8). Kompas/Mohammad Hilmi Faiq
Emi Baadillah (73) penjaga rumah pengasingan Hatta di Banda, Maluku Tengah, Maluku Jumat (29/8). Kompas/Mohammad Hilmi Faiq

Di sebuah jalan yang lebarnya lebih layak disebut gang, kami berhenti. Di sisi kanan terdapat bangunan tua. Di sisi kanan pintu masuk tertulis ”Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Naira”. Selain Hatta, kala itu Belanda juga mengasingkan Sutan Sjahrir, Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri di Banda.

Rumah itu beratap seng dan berlantai ubin. Bangunan rumah dibagi dua, yang dipisahkan oleh taman kecil. Di teras bangunan bagian belakang berderet meja, kursi, dan sebuah papan tulis. Di sinilah Hatta dan Sjahrir mengajar anak-anak kampung dengan pengantar bahasa Belanda. Mereka menyelipkan patriotisme lewat cerita sejarah dan lagu-lagu.

Di antara anak-anak itu, salah satunya adalah Des Alwi (1927-2010). Kelak ia menjadi anak angkat Hatta, kemudian tumbuh menjadi wartawan dan diplomat terkemuka. Saat tutup usia, Des Alwi dimakamkan di Banda di samping makam kedua orangtuanya.

Pada papan tulis di teras bangunan bagian belakang itu masih tergurat tulisan kapur tulis ”Sedjarah perjoeangan Indonesia setelah soempah pemoeda di Batavia pada tahoen 1918”. Tulisan itu masih jelas terbaca. ”Itu tulisan terakhir Bung Hatta. Tulisannya sudah kabur, jadi dipertebal lagi dengan kapur tulis,” kata Emi Baadillah (73), penjaga rumah pengasingan Bung Hatta.

Emi berhidung mancung, beralis tebal, dan wajahnya lonjong. Saat dia tersenyum, segera mengingatkan pada wajah Des Alwi. ”Saya memang masih ada ikatan keluarga dengan Des. Ibu saya dan ibu Des bersaudara,” ujarnya.

Emi tergerak menjaga dan merawat rumah itu karena tertular semangat Des Alwi. Emi memakai uangnya sendiri untuk merawat rumah bersejarah itu. Biaya listrik dan air yang mencapai Rp 50.000 per bulan tidak pernah mencukupi jika mengandalkan uang dari kotak sumbangan pengunjung. Mungkin inilah alasan mengapa rumah bersejarah itu kurang terawat. Semasa Des Alwi masih hidup, dialah yang mengupayakan biaya perawatan itu.

Des memiliki perhatian serius terhadap semua situs sejarah di Banda. Des ingin agar Banda selalu dikenang sebagai pulau yang menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa. Lewat Yayasan Warisan Budaya Banda, dia mengupayakan dana untuk perawatan. Selain rumah pengasingan Hatta, Banda juga mempunyai situs-situs penting terkait keberadaan Belanda. Di sana terdapat Benteng Belgica yang dibangun Belanda pada tahun 1611, di atas bukit dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. Dari atas benteng ini, pulau dan lautan Banda terlihat cantik.

Di Banda juga berdiri Istana Mini, yakni kantor dan rumah tinggal Gubernur Belanda. Bangunan ini dibangun setelah terjadi gempa di Banda pada 1863. Kondisi kedua bangunan itu kusam. Perawatan terkesan ala kadarnya. ”Sejak Pak Des meninggal, tak ada lagi biaya yang cukup untuk merawatnya,” kata Hamim (52), penjaga Istana Mini.

Banda menyimpan potensi wisata luar biasa, baik dari sisi sejarah maupun keindahan alamnya. Warga Banda juga sangat ramah terhadap pendatang. Di sepanjang jalan, siapa pun yang kami jumpai selalu tersenyum.

Potensi Wisata

Itu potensi tersendiri bagi daerah wisata, sayangnya belum dikemas secara menarik. ”Kalau ada penginapan bagus ditambah rumah makan dan pemandu wisata, pengunjung bisa sepekan atau bahkan lebih di Banda ini. Banyak situs sejarah menarik di sini,” kata Staf Khusus Wakil Menteri Perhubungan Noor Cholis.

Bimbo La Bow, Kepala Desa Tanah Rata, Kecamatan Banda, menjelaskan, pelancong asing kerap datang ke Banda untuk menyelam atau snorkeling. Namun, mereka sering mengeluh karena kesulitan transportasi dan akhirnya membatalkan rencana kunjungan selanjutnya. Mereka lebih betah di Bali atau Lombok karena fasilitas lebih memadai.

Banda hanya dikunjungi kapal laut sekali sebulan dan pesawat perintis tiga kali sepekan. Untuk mencapai Banda dari Ambon dengan kapal laut, butuh waktu hingga 16 jam. Bimbo membayangkan, jika frekuensi penerbangan dan kunjungan kapal ditambah, jumlah pelancong makin banyak ke Banda.

Soekarno

Patung Bung Karno di samping pohon sukun di kompleks  Pelabuhan Bung Karno, Ende, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (30/8). Patung ini untuk mengingatkan kebiasaan Bung karno merenung di bawah pohon itu hingga tercetus Pancasila. (Kompas/Mohammad Hilmi Faiq)
Patung Bung Karno di samping pohon sukun di kompleks Pelabuhan Bung Karno, Ende, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (30/8). Patung ini untuk mengingatkan kebiasaan Bung karno merenung di bawah pohon itu hingga tercetus Pancasila. (Kompas/Mohammad Hilmi Faiq)

Situasi di Banda mirip dengan Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satu kota yang kami singgahi. Di sini berdiri rumah bersejarah, rumah pengasingan Soekarno. Meskipun dirawat, rumah itu terkesan ala kadarnya. Padahal, ketika di Ende inilah Soekarno menelurkan Pancasila.

Belanda mengasingkan Soekarno di Ende sejak tahun 1934 karena wilayah ini terpencil. Saat itu terdapat sekitar 2.600 pejuang yang diasingkan Belanda ke Boven Digoel, Papua. Belanda tidak mengasingkan Soekarno ke Boven Digoel lantaran khawatir itu mempermudah Soekarno menyusun kekuatan.

Di Ende, Soekarno sangat rajin shalat. Tempat shalat favoritnya adalah Masjid Besar Ar-Rabithah, sekitar 1 kilometer dari rumah pengasingan. Masjid yang berusia lebih dari 500 tahun itu masih kokoh berdiri meskipun pernah diguncang gempa pada 1992. ”Soekarno setiap subuh shalat di sini,” kata Takmir Masjid Ar-Rabithah Ibrahim Djakaria.

Selain ke masjid, Soekarno juga sering menghabiskan waktu di pantai sembari duduk di bawah pohon sukun. Warga memercayai, perenungan Soekarno di bawah pohon bercabang lima itulah yang kemudian menghasilkan Pancasila, dasar negara Indonesia. Kini, sekitar 2 meter dari batang pohon itu terdapat patung Soekarno duduk. Sore itu, wajah Soekarno berkilatan keemasan diterpa cahaya matahari.

Saat tiba di Alor, NTT, kami disambut dengan tari cakalele. Begitu pun saat kami mendarat di Bandara Frans Seda, Maumere, dan Bandara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Persamaan tarian itu, para penari membawa pedang dan tameng. Mereka mengawal tamu yang datang.

Antonius Anton Sogelaka (81), guru sekaligus sesepuh Maumere, mengatakan, tari papak khas Maumere itu berarti sambutan dan penghormatan bagi tamu. Bagi warga, tamu ibarat pahlawan perang yang perlu dilindungi keselamatannya. Jika sesuatu terjadi pada tamu, tuan rumah harus bertanggung jawab sepenuhnya. Tari cakalele dari Alor dan tari papak dari Sumba pun maknanya lebih kurang sama.

Sikap ini rupanya membuat pendatang, terutama pelancong mancanegara, betah berada di NTT. Di Alor, kami menjumpai beberapa pelancong anak-anak menyantap mi instan di pintu masuk bandara. Sikap mereka seperti warga berada di kampungnya sendiri. ”Kami sudah sepekan di sini dan senang karena warganya baik-baik,” kata Kelly, ibu dari anak-anak bule itu.

Warga Alor menjuluki pulaunya sebagai ”Pulau Berkat”. ”Siapa pun yang pernah menginjakkan kakinya di Alor selalu mendapat berkat karena pulau ini pulau berkat,” kata Bupati Alor Amon Djobo. Berkat itu dapat diartikan bahwa warga Alor ramah, murah senyum, dan melindungi tamu sehingga pendatang merasa betah.

Menyinggahi daerah di Maluku dan NTT seperti melihat wajah lain Indonesia. Semangat Hatta, Soekarno, dan keindahan alam timur Indonesia belum cukup untuk mendongkrak wilayah itu maju.

(Mohammad Hilmi Faiq & C Anto Saptowalyono)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 September 2014, di halaman 24 dengan judul “Soekarno, Hatta, dan Wajah Lain Indonesia”