Taman Kota Milik Kita

0
1963

Kota adalah ruang yang selalu tumbuh. Celakanya, pertumbuhan kota sering kali berjalan liar, mengabaikan kebutuhan dasar penghuninya, termasuk kebutuhan pada ruang terbuka. Kaum muda, sebagai bagian dari masyarakat, cenderung ditinggal oleh arus perubahan itu. Namun, selalu ada cara untuk menyiasatinya.

Pandangan itu dilontarkan oleh pemerhati kota, Marco Kusumawijaya, dalam tulisannya mengenai album musik Dosa, Kota, & Kenangan (2015) yang dibuat oleh kelompok Silampukau asal Surabaya. Marco menulis ”Mereka (kaum muda) sering kalah (oleh perubahan kota), misalnya dalam perebutan ruang, bahkan untuk kegiatan yang sepele seperti bermain bola”.

Salah satu lagu dalam album itu adalah ”Bola Raya”. Dalam kalimat lugas, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening itu menceritakan, mereka bermain bola di jalan raya tak memedulikan cemoohan orang. ”Kami rindu lapangan yang hijau. Harus sewa dengan harga tak terjangkau. Tanah lapang berganti gedung. Mereka ambil untung, kami yang buntung”. Demikian lirik lagu itu.

Gedung yang dimaksud dalam lagu itu bisa termasuk pusat perbelanjaan. Tak bisa dimungkiri memang, pusat perbelanjaan atau mal menyediakan ruang untuk perjumpaan. Namun, untuk bisa memanfaatkannya, ada syarat ini-itu. Katakan saja, untuk bisa duduk-duduk bercengkerama dengan kawan lama, orang harus jajan terlebih dulu. Untuk berolahraga, tentu harus menyewa fasilitasnya.

Taman di perkotaan sudah semestinya kembali berperan sebagai tempat berkumpul yang egaliter. Semua golongan berbagai usia bisa berkumpul atau sekadar asyik menikmati kesendirian sambil membaca buku, misalnya. Memang ada juga sisi komersial yang menyusup di taman itu, seperti para pedagang asongan. Namun, menyisihkan uang sedikit untuk pedagang kecil seperti mereka pun tak ada ruginya. Sepiring ketoprak, misalnya, bisa disantap dengan membayar Rp 10.000 saja.

Warga mengisi waktu libur dengan bermain dan bercengkerama di Taman Ayodya, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu (atas). Warga berolahraga di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Taman menjadi oase, tempat berlibur dan berolahraga murah bagi warga.   *** Local Caption *** Warga berolahraga di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (18/5). Taman menjadi oase, tempat berlibur dan berolahraga murah bagi warga.
Warga berolahraga di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (18/5). Taman menjadi oase, tempat berlibur dan berolahraga murah bagi warga.

Dalam beberapa tahun terakhir, warga Jakarta sudah mulai mendatangi kembali taman-taman yang ada. Beberapa taman yang ramai setiap sore adalah Taman Surapati dan Taman Ayodya. Beragam sekali kegiatan di sana. Banyak yang bergerombol duduk-duduk, ada yang berlari kecil mengitari taman mencari keringat, ada yang berkesenian.

Satria Fajar (24) mengunjungi Taman Surapati pada Minggu pekan lalu. Ia terlihat asyik menggambar pepohonan dan patung yang ada di taman itu menjelang berbuka puasa. Sayup terdengar alunan musik keroncong yang dimainkan beberapa kelompok dari sisi barat taman.

Satria hobi menggambar. Ia tak hanya menggambar di taman. Namun, menggambar di taman memberinya energi tambahan. ”Inspirasi untuk gambar biasanya bermunculan kalau di taman. Musik yang ada di sini tidak mengganggu konsentrasi saya, tapi justru memunculkan inspirasi baru,” katanya.

Di sudut lain ada juga sekelompok anak muda yang serius berdiskusi. Mereka sedang membahas proyek pertunjukan. ”Bertemu di kampus sudah terlalu sering dan bosan. Di taman ini, suasananya baru dan sejuk, banyak pepohonan. Obrolan biasanya jadi lebih cair,” kata Ida Lutfianti (22).

Miras dan bir

Aktivitas asyik lain juga ada di Taman Menteng. Komunitas Baca-Baca di Taman (KBBT) hampir setiap Sabtu malam menggelar lapak di depan rumah kaca di taman itu. Mereka mempersilakan siapa saja untuk datang, buka buku, dan membaca. Boleh juga membawa sendiri. Selain itu, mereka juga sering menggelar diskusi. ”Ada acara Miras, akronim dari mikir keras, dan Bir atau bincang ringan. Di acara Miras itu, kami pernah kedatangan penulis Heri Latief. Kami lantas berdiskusi soal karyanya dan bergantian membacakan puisi, siapa pun yang punya karya,” kata Agus (26), salah seorang pegiat komunitas itu.

Menurut Agus, kegiatan membaca di taman adalah bentuk pendobrakan stereotip. Membaca bukanlah kemewahan bagi golongan yang bisa membeli buku dan punya ruang pribadi. Di taman, tempat berkumpulnya bermacam-macam orang, aktivitas membaca berwujud sebagai kegiatan egaliter. Selain buku, lapak mereka juga diisi dengan sejumlah edisi zine, buklet buatan sendiri yang diperbanyak dengan cara fotokopi. Komunitas itu, kata Agus, juga membuat zine sendiri dengan penulis dari sesama mereka, termasuk Agus. Mereka sangat terbuka untuk tukar-menukar zine dengan komunitas atau orang yang punya zine.

Kota Bandung, Jawa Barat, dengan julukannya sebagai ”Parijs van Java” punya banyak taman juga. Pemerintah kota itu bahkan merancang setiap taman tersebut dengan fungsi khusus, seperti taman untuk mengajak jalan-jalan binatang peliharaan, taman untuk berolah kebugaran, dan taman untuk menonton film.

Taman Film, demikian namanya, terletak di bawah Jembatan Pasupati, ikon kota. Di salah satu tiang jembatan itu ada layar berukuran besar. Pengunjung bisa menikmati film yang ditayangkan atau sekadar menonton siaran langsung pertandingan klub sepak bola kebanggaan mereka.

Konon, kawasan Taman Sari itu dulunya adalah tempat ”jin buang anak”, kumuh, dan tidak nyaman. Sekarang, banyak pembuat film yang berusaha menampilkan karya mereka di sana. Para pembuat film independen di Bandung mendapat tempat untuk mempertontonkan karya. Hal itu bisa menambah semangat baru bagi talenta kreatif di bidang perfilman.Pemerintah, sebagai pembuat kebijakan, punya dana sehingga sudah selayaknya memperbanyak taman dan fasilitas penunjang, se

perti lampu, tempat sampah, serta petugas kebersihan dan keamanan. Jika sudah demikian, warga bertanggung jawab menghidupi taman itu dengan berbagai kegiatan. Jadi, main-mainlah ke taman. Siapa tahu kalian bisa dapat inspirasi untuk menjalani kehidupanmu. Jangan lupa untuk membuang sampahmu pada tempatnya.

(Herlambang Jaluardi)


Versi cetak artikel ini terbit di rubrik ‘Kompas Kampus’ harian Kompas edisi 14 Juli 2015, di halaman 33