Anak di Pelosok Daerah Juga Ingin Sekolah

0
617

Mengusung tema “Menyemai Kasih, Menuai Asa”, pada 4-7 Februari 2023 lalu, Rumah Baca Pesisir menghelat kegiatan Aksi Safari Literasi Inspiratif berlandaskan rasa kemanusiaan di Dusun Bulu’rinring, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Para volunter yang sebagian besar mahasiswa, berangkat menuju daerah tersebut dengan niat mengabdikan diri untuk masyarakat di sana selama empat hari. Pasalnya, adik-adik di dusun tersebut tidak mendapatkan sarana dan prasarana pendidikan yang merupakan haknya. Orang tua mereka pun acuh akan pentingnya anak-anak mengenyam ilmu.

Senyum merekah beriringan dengan lambaian tangan menyambut volunter yang belum turun dari pick up, kendaraan yang membawa volunter. Kami merasa senang bisa memberikan kontribusi untuk mereka, namun, tampaknya mereka jauh lebih senang.

Tidak mendukung

Para volunteer dan anak-anak di Bulu'rinring
Anak-anak di Dusun Bulu’rinring, Jeneponto, Sulawesi Selatan terpaksa belajar di kolong rumah karena ketiadaan sekolah setelah bangunan sekolah mereka roboh.

“Bu Guru” begitu sapa beberapa anak kepada perempuan volunter. Setelah berbincang dengan mereka, kami baru mengetahui bahwa kolong rumah tempat kami duduk adalah sekolah untuk menggantikan bangunan sekolah lama yang sudah roboh terkena angin kencang.

Jika laskar pelangi menurut kalian menyedihkan, setidaknya mereka punya guru yang ikhlas menjadi lentera. Namun, anak-anak di Bulu’rinring yang juga tumbuh di pelosok daerah minim merasakan hal itu. Menurut warga setempat, akses jalan sulit terlebih lagi saat atau setelah hujan. Pada akhirnya, guru kerap tidak hadir dan anak-anak itu hanya sesekali merasakan manisnya pendidikan.

Hasilnya, meskipun kebanyakan dari mereka sudah duduk di kelas 6 SD, kemampuannya sangat jauh tertinggal dengan anak-anak yang tumbuh besar di kota. Untuk kemampuan membaca, sebagian besar dari mereka masih mengeja.

Bahkan, ada anak yang kabur saat diminta membaca karena malu masih terbata-bata. Untuk menghitung, bisa penjumlahan dan pengurangan satuan menggunakan jari sudah hebat. Mereka masih kebingungan apabila dihadapkan dengan angka puluhan atau ratusan.

Menyikapi hal itu, sewaktu beberapa hari di sana para volunter memutuskan aktif memberikan pengajaran. Mulai dari kesadaran akan membaca, menulis, menghitung, pendidikan karakter, hingga membuat  membangun kepercayaan diri dengan meminta mereka aktif untuk tampil memberikan persembahan sastra di hadapan para warga.

Anak-anak di Bulu'rinring Membaca Buku
Anak-anak di Dusun Bulu’rinring bersama-sama membaca buku

Belasan anak-anak yang sebagian besar tanpa berseragam, datang ke rumah tempat para volunter tinggal sementara tampak antusias. Meski belajar di bawah kolong rumah tanpa sekat pembatas, mereka tidak mengeluh.

Di tempat belajar, mereka tak terganggu walau harus sering menyipitkan mata karena silau akan teriknya matahari. Tangan-tangan kecil tetap memeluk erat buku bacaan yang dipinjamkan dengan wajah senang.

Ekonomi dan kesadaran

Anak-anak di Bulu'rinring Kepanasan
Anak-anak di Bulu’rinring, Jeneponto menahan terik matahari saat belajar di kolong rumah yang menjadi tempat belajar sementara mereka.

Sebenarnya ada sekolah lain di wilayah dusun tersebut. Lokasinya pun tak terlalu jauh dari tempat anak-anak tersebut tinggal. Jika menempuh jalan berkelok jauh dengan naik motor selama 15 menit menembus jalan raya, mereka akan menemukan sekolah lain itu.

Masalahnya, bisa sampai di sekolah tersebut merupakan suatu kemewahan, sebab sebagian besar warga  di sana belum punya motor. Akibatnya, jika ingin bersekolah ke sana, anak-anak harus berjalan kaki yang memerlukan waktu tempuh menjadi setengah jam.

Meskipun punya kendaraan, orang tua perlu mengorbankan waktu bolak-balik mengantar jemput anak-anak dengan meninggalkan pekerjaan mereka. Pasalnya, masyarakat di Bulu’rinring sudah sibuk di sawah sejak pagi hingga sore. Mereka bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, membuat mereka memilih membiarkan anak-anak tidak bersekolah. Anak-anak yang meskipun ingin belajar itu terpaksa menghabiskan hari sia-sia tanpa ilmu pengetahuan.

Tangis perpisahan

Terlebih lagi, para orang tua belum paham bahwa memberikan pelajaran tidak hanya peran seorang guru. Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah. Sesunguhnya keluarga juga merupakan madrasah. Terlebih lagi bagi anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan, banyak meniru perilaku teman-temannya. Penting bagi orang tua untuk mengarahkan sang anak, membentuk karakter, dan menumbuhkan minat belajar.

Saat rombongan kami akan pulang, seorang anak membenamkan kepalanya memeluk salah satu volunter sambil menangis terisak-isak. Dengan bercucuran air mata, ia mengangkat kepala menyampaikan kesedihannya. Mereka masih ingin belajar untuk hari-hari seterusnya.

Begitu para volunter pulang, mereka akan kembali menjadi anak-anak yang tidak memiliki guru meskipun ingin belajar, tidak memiliki gedung sekolah meskipun ingin pergi ke sekolah. Kurang lebih begitu pikir mereka. Sungguh suatu pukulan besar bagi para volunter selama perjalanan pulang ke Kota Makassar.

Andi Rosnaeni, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin