LPMM Undip Adakan Pengobatan Gratis di Magelang

0
94

Bagi Mbah Karso Utomo (82) pengobatan gratis yang diberikan oleh tim dokter Universitas Diponegoro, Semarang sangat berarti, karena dirinya bersama ratusan warga desa lain dimudahkan berobat ke tempat pengobatan gratis. Pengobatan gratis dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip itu berlangsung di Klinik Kebencanaan Undip, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang-Jawa Tengah, pada Minggu (25/9/2022).

Mbah Karso yang mengeluh gatal-gatal di telapak kaki yang ia derita sebulan sudah mendapat obat untuk diminum serta salep oles dari dokter dari Fakultas Kedokteran Undip. Ia berharap gatal-gatal yang ada pada kakinya bisa segera sembuh.

Seperti Mbah Karso, sekitar 300-an warga Desa Gulon dan desa sekitarnya memanfaatkan pengobatan gratis tersebut. Mereka sangat antusias dengan datang sejak pagi hari hingga siang hari pukul 14.00. Nanang, warga Desa Gulon juga menyatakan hal yang serupa. Ia berharap di waktu mendatang tim dari Undip bisa kembali hadir memberikan pengobatan yang disebutnya sangat penting bagi warga desa.

Tim dokter Universitas Diponegoro, Semarang dipimpin dr Abdul Mugni dan Dr Sri Winarni bersama relawan lain melayani warga selama dua hari. Foto : dokumentasi pribadi

Pengobatan gratis Undip itu merupakan bentuk pengabdian kelembagaan yang dibentuk LPPM Undip. Pengobatan gratis tersebut sudah kesekian kalinya dilaksanakan. Sebelumnya mereka melakukan pengobatan serupa di Dukuh Gojoyo, Kabupaten Demak dan Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Desa Sumber Wuluh, ketika itu adalah lokasi terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan, kami sangat berharap Insyaallah bisa hadir. Tentu menyesuaikan agenda pengabdian lainnya yang sudah ditetapkan LPPM Undip,“ kata dr. Mughni di lokasi pengobatan gratis.

Terkait hal itu, Wakil Ketua LPPM Undip Bidang Penelitian Prof Dr Agus Subagio menyatakan, apa yang dilakukan tim LPPM lewat para dokter sebagai wujud dari sejumlah program yang di canangkan LPPM dan beberapa diantaranya diimplementasikan atas warga Desa Gulon. Lembaga yang dipimpinnya juga ingin hadir mendampingi masyarakat. “Kami terus akan memantapkan komitmen kami untuk program pengabdian kepada masyarakat seperti ini serta sesuai kebutuhan lain masyarakat,” ujar Agus yang akrab disapa Asub.

Sosialisasi pelatihan simulasi evakuasi bencana Gunung Merapi oleh salah satu dosen Universitas Diponegoro di Desa Gulon. Foto : Dok. pribadi

Simulasi evakuasi 

Masih dalam rangkaian pengabdian masyarakat selama dua hari sejak Sabtu hingga Minggu (24-25/9/2022), LPPM juga mengadakan pelatihan simulasi evakuasi bencana Gunung Merapi yang diikuti 50 relawan dari berbagai desa di sekitar Gunung Merapi. Pelatihan menghadirkan para ahli, dosen Universitas Diponegoro, para dokter, serta profesional terkait kebencanaan.

Pelatihan juga berlangsung di Klinik Diponegoro dan Laboratorium Kebencanaan Fakultas Kedokteran Undip di desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Para relawan yang dilatih dibekali keterampilan dan keahlian terkait kebencanaan, mitigasi bencana dan pertolongan bagi warga korban bencana hingga pengelolaan dapur umum yang pada umumnya sering dibutuhkan dalam tempo yang singkat oleh warga di seputar Gunung Merapi.

Salah satu peserta, Dwi, warga desa di Kecamatan Salam mengatakan semua yang ada dalam pelatihan dinilai penting, apalagi juga banyak praktik sehingga makin mahir dan paham bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana alam.

Pada kesempatan itu Camat Salam Kabupaten Magelang, Wiharyanto mengatakan, kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro kali ini kiranya bisa ditindaklanjuti dengan pengoptimalan Klinik Diponegoro dan Laboratorium Kebencanaan Undip yang ada di desa Gulon. Gedung klinik berlantai tiga dan fasilitasnya sudah baik, ia harapkan bisa dioptimalkan pemanfaatannya. Warga akan sangat senang bila ada keberlanjutan dari Undip.

“Kami dari pemerintahan tingkat kecamatan berkomitmen untuk bekerjasama dengan Undip bagi program yang bermanfaat bagi masyarakat kami,“ tutur Wiharyanto. Kerjasama dengan Undip diharapkan berlanjut di waktu mendatang, mengingat beberapa desa di wilayahnya ada yang berdekatan dengan Gunung Merapi, yang kadang bencana datang tanpa pernah diduga.

Warga harus memiliki kesigapan dan keahlian jika suatu saat menangani harus bencana. Para pelatihan kemarin, warga dan relawan yang dilatih, bermalam di tenda-tenda dalam lokasi pelatihan di Gulon.

“Kami bersama para pelatih tidur di tenda dan mengelola dapur umum. Tidur di tenda ini juga latihan adaptif jika suatu saat kita menghadapi bencana alam,” kata dr Sri Winarni, didampingi Humas Tim Pengabdian LPPM Undip, Dr Adi Nugroho.

Rohmat Arief Julianto,  mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Diponegoro