Dua Jam Kapal Kandas di Ujung Utara Pulau Jawa

0
165

Pertengahan Agustus 2022, kapal yang membawa saya dan rombongan di Pulau Noko, Pulau Bawean, Jawa Timur terpaksa harus kandas. Kami pulang terlalu sore sehingga air surut. Kami tertahan dua jam di pulau kecil nan indah itu. 

Saya selalu mengingat beberapa perkataan orang bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Ya, benar adanya. Saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Pengalaman-pengalaman berharga kemarin membuat saya belajar akan suatu hal. 

Cerita ini akan saya mulai ketika saya diminta berkunjung untuk sebuah perjalanan ke Pulau Bawean. Saya ditugaskan oleh komunitas Bagi Bacaan untuk meliput dan mengambil foto serta video dari perjalanan kami. Hal ini untuk keperluan pemasaran program komunitas kami. Kunjungan selama 3 hari di Pulau Bawean begitu mengesankan. Tepatnya, 9 Agustus hingga 11 Agustus 2022. 

Mungkin nama Pulau Bawean sangat jarang didengar oleh masyarakat. Pulau ini pun sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan. Obyek wisata yang tanpa dipungut biaya masuk ini menyuguhkan pemandangan yang asri  masih gratis  asri. Penduduk lokal masih beraktivitas seperti biasanya. Pulau ini berada di ujung utara Pulau Jawa. Sekitar 120 kilometer dari Kabupaten Gresik. 

Saya ikut dalam rombongan ke Pulau Bawean. Rombongan sebanyak empat orang berangkat ke Bawean melalui Pelabuhan Paciran. Kami harus melewati Kota Gresik, Kabupaten Gresik, dan sampai di Kabupaten Lamongan. Pelabuhan tempat kami naik kapal berada tepat berada di pesisir Kabupaten Lamongan. 

Perjalanan kami tempuh dengan Kapal Gili Iyang. Kami harus bertahan di tengah gelombang air laut Jawa bagian utara selama kurang lebih 9 jam. Untuk mengurangi rasa mabuk perjalanan, saya putuskan untuk tidur. Ditambah hari yang sudah larut malam dan kapal kami akan tiba di Pulau Bawean pada pukul 06.00. 

Perjalanan di kapal ini memberikan pengalaman baru bagi saya. Inilah kali pertama saya menaiki kapal untuk menyebrangi lautan Indonesia. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan.

Sampai di Pulau Bawean, kami disambut dengan garang asem ikan tongkol. Sungguh jawaban atas perut yang keroncongan sedari di kapal tadi. Saya tak sabar menikmati kudapan khas pulau ini yang mengunakan bahan baku ikan. 

Hari pertama dan hari kedua, saya fokus pada keperluan perjalanan dinas kami. Saya tetap meliput dan mengambil spot terbaik untuk keperluan marketing komunitas kami. Kamera dan gawai saya terus pegang ke mana pun pergi. 

Dua hari awal kami bergegas ke sekolah dasar dan juga kantor desa. Kami mengurus perizinan untuk keperluan membangun ruang belajar di salah satu sekolah dasar di sana. Jalan menuju SD sangat terjal dan harus melewati perbukitan. Rasa lelah terbayarkan dengan hamparan persawahan dan bukit-bukit yang memanjakan mata. 

Pulau Bawean bukan hanya pesisir pantai tetapi juga dikelilingi bukit. Pemandangan ini ada di perjalanan menuju SD di salah satu desa. Foto: Rafi Ramadhan

Perangkat desa menyambut kami dengan hangat. Kami diminta langsung datang ke rumah kepala desa untuk meminta izin kegiatan. Stoples krupuk dan kacang khas Pulau Bawean menemani obrolan kami dengan Pak Kades. Seorang teman tak berhentinya mengunyah kacang itu. 

Hari ketiga, tepatnya 11 Agustus 2022, agenda survei kami tidak terlalu padat seperti hari kemarin. Kami memutuskan berangkat ke salah satu pulau yang ada di seberang Pulau Bawean. Namanya adalah Pulau Noko. Sebelum pergi, saya terbiasa mengecek keindahan pulau ini melalui internet. Rasa takjub tak berkesudahan setelah melihat pulau ini di Internet. 

Pukul 10.00, kami memutuskan untuk berangkat ke dermaga tempat menyebrang. Dengan membawa bawaan peralatan bakar ikan, kami sangat bersemangat untuk segera berangkat ke Pulau Noko. Rasa penasaran kita semakin menjadi-jadi ketika masyarakat lokal mengatakan bahwa Pulau Noko adalah tempat yang wajib dikunjungi ketika pergi ke Bawean. 

Baca juga : Menciptakan Digihome di Pulau Bawean

Sesampainya di dermaga kami masih harus menunggu rombongan yang lain. Pukul 11.30 kami baru berangkat menaiki kapal menuju Pulau Noko. Kapal berjalan sangat kencang melewati Pulau Bawean. Gelombang air mulai tinggi sehingga seluruh orang yang ada di kapal bergoyang-goyang. 

Ukuran kapal kami tidak terlalu besar. Rombongan kami sejumlah 15 orang, ditambah 2 awak kapal yang mengoperasikannya. Kami berusaha tenang selama diperjalanan. Kamera dan gawai pun dikeluarkan untuk mengabadikan momen terbaik. “Ayo fotokan aku di sini ya,” celotehan itu muncul dari teman-teman.  

Selama perjalanan, kami disuguhkan dengan hamparan perbukitan yang ada di Pulau Bawean. Sungguh saya sangat takjub dengan pemandangan ini. Air di laut itu berwarna sangat biru. Sangat segar memanjakan mata. Saya tak berhenti-nya bersyukur atas segala nikmat Tuhan. Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Semakin dekat, Pulau Noko semakin terlihat. Rasa tak sabar terus bergejolak.

Rombongan sedang berjalan menuju kapal sebelum berangkat ke Pulau Noko. Foto: Rafi Ramadhan

Sesampainya di Pulau Noko, kami langsung bergegas menyiapkan makan siang. Sebagian rombongan membakar ikan. Ada yang membuat sambal, menyiapkan nasi, dan juga mengipasi ikan yang sedang dibakar. Semua antusias untuk makan bersama. 

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Hari semakin sore dan sudah memasuki waktu shalat Ashar. Rombongan kami pun bergegas shalat di bilik yang ada di Pulau Noko itu. Selagi shalat, awak kapal yang mengantar kami memanggil untuk segera pulang ke Pulau Bawean. 

Saya yang tak tahu menahu tentang pasang surut air merasa kaget. Saya menganggap hari masih siang sehingga kita bisa masih berlama-lama. Dengan cepat saya langsung mengganti pakaian dan siap untuk pulang kembali ke Pulau Bawean. 

Sebelum menaiki kapal, saya diminta membantu mendorong kapal sampai ke air dalam. Sontak saya kaget. Ternyata kapal kami kandas. Air laut sudah surut, tetapi kapal belum berada di tengah lautan. Perasaan saya campur aduk karena malam nanti saya harus kembali untuk pulang ke Pelabuhan Paciran. Kapal kepulangan saya tepat berangkat pukul 21.00. 

Seluruh rombongan dan awak kapal berusaha sekuat tenaga untuk mendorong kapal agar berjalan ke tengah. Kami mendorong dengan penuh cucuran keringat. Akan tetapi, hal ini tidak membuahkan hasil. 

Beberapa teman yang sedang menyiapkan makan siang dengan ikan bakar di Pulau Noko. Foto: Rafi Ramadhan

Saya berusaha tenang akan hal ini. Saya membantu mendorong kapal, tetapi hasilnya nihil. Air semakin surut dan kapal makin sulit bergerak. Saya diminta tenang dan berdoa. “Sudah Mas tenang dulu, nanti kita bisa pulang kok,” tutur salah seorang teman. Kami menunggu kurang lebih selama dua jam. 

Kapal tujuan pelabuhan Paciran akan ada kembali setelah 3 hari. Kapal akan off perjalanan selama tiga hari. Hal ini membuat kepanikan saya semakin menjadi-jadi. Apalagi saya sudah membeli tiket kepulangan ke Paciran pada pagi hari tadi. Tiket sudah siap dan tak mungkin saya harus menambah hari di Bawean. 

Awak kapal kami berusaha menelpon kapal lain untuk menjemput kami. Beberapa rekannya ditelpon berulang-ulang. Setelah beberapa kali ditolak, kami akhirnya mendapatkan bala bantuan. Sebuah kapal dengan ukuran yang sama menghampiri kami. Kapal itu tidak berlayar sampai tempat kami, tetapi jauh di sebrang pulau. Kita harus berjalan kaki sampai ke sana.

Hal menantang pun tiba. Saya dan rombongan harus berjalan menuju ke tengah laut. Kapal yang akan membantu kami ada di sebrang laut surut itu. Ketinggian air semakin jauh menjadi semakin dalam. Awalnya ketinggian berada di lutut, lama kelamaan setinggi perut. Sungguh kepanikan melanda saya ditambah keahilan berenang yang tak saya miliki. 

Rombongan kami menyebrangi lautan surut. Sesekali kaki kami menabrak karang. Barang bawaan harus digendong setinggi mungkin agar tidak basah. Foto: Rafi Ramadhan

Perlahan saya berjalan di tengah laut surut itu. Sesekali kaki saya menabrak karang. Tak disadari saat sudah di kapal, dua robekan luka melanda telapak kaki ini. Saya berusaha berjalan di tengah laut itu dengan tenang. Beberapa teman membawakan tas yang saya pegang. 

Perjalanan dari bibir pantai ke kapal sekitar 1KM.  Saya terus berjalan sambil melihat ke bawah agar tak menabrak karang lagi. Sesekali saya melihat ikan-ikan kecil berenang di depan tubuh saya. Sesampainya di dekat kapal, saya langsung naik ke atas dan segera menenangkan diri. 

Perjalanan kembali ke Pulau Bawean membutuhkan waktu 30 menit. Gelombang air semakin besar. Guncangan di atas kapal semakin kencang. Rombongan kami di kapal ada yang mual dan juga berteriak. Sungguh pengalaman yang luar biasa.  

Inilah pengalaman pertama saya melewati kandasnya kapal di laut. Saya belum pernah merasakan sebelumnya. Kita harus berjalan jauh ke tempat yang airnya lebih dalam untuk menaiki kapal lagi. Saya sangat bersyukur melewati pengalaman yang sangat menakjubkan ini. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 

Tiga hari di Bawean ditambah dua hari di kapal mungkin menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan di hidup saya. Perjalanan di sana mengajarkan bahwa pengalaman tak selamanya berbuah indah. Pasti ada suatu hal yang di luar dugaan dan di luar rencana yang kita tetapkan. Semua itu harus dilewati dengan tenang dan tetap berpikir positif. 

 

Penulis: Rafi Ramadhan, Mahasiswa Universitas Brawijaya dan Magangers Kompas Muda Batch XI