Melirik Eksistensi Radio di Era Disrupsi

0
100

Seperti yang kita ketahui, era disrupsi adalah era segala sesuatu tatanan dan kebiasaan berubah. Seperti yang dikutip dari divedigital.id, era disrupsi adalah sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya para pelaku kehidupan yang masih menggunakan cara serta sistem lama nanti akan kalah bersaing dengan mereka yang berhasil menyambangi cara-cara baru tersebut.

Di era disrupsi ini, banyak sekali penyesuaian-penyesuaian tekhnologi serta perangkat kehidupan yang semakin berkembang pesat. Mulai dari komunikasi, transportasi, hingga transaksi sehari-hari. Disamping itu semua, peran telepon pintar pun kini sudah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat untuk pencari informasi dan sarana hiburan. YouTube, TikTok, Spotify, dan lain sebagainya adalah beberapa dari contoh sarana hiburan berbasis sosial media yang ramai digunakan.

Tetapi, ingatkah pada era dimana sosial media dan internet belum marak digunakan, radio menjadi salah satu sumber informasi dan sarana hiburan yang disebut-sebut paling canggih oleh masyarakat masa itu, dan bahkan radio pun adalah sarana informasi dan hiburan paling eksis sebelum akhirnya saluran televisi menjadi sarana hiburan dan informasi yang paling digilai oleh masyarakat.

Dilansir dari lokadata.id bahwa ketika Music Television atau MTV pertama kali tayang di jejaring televisi kabel Amerika Serikat pada 1 Agustus 1981, menayangkan sebuah video musik dari kelompok The Buggles berjudul “Video Killed the Radio Star“. Momen itu diklaim sebagai awal dari senja kala radio karena kehadiran video (baca: televisi).

Radio di era disrupsi ini perlahan mulai kehilangan eksistensinya. Remaja pada saat ini mungkin hanya sepersekian persen yang masih menikmati radio sebagai sarana hiburan sekaligus informasi. Namun ternyata, diluar sana masih banyak stasiun radio yang jatuh bangun mempertahankan eksistensinya agar tetap eksis menyambangi perkembangan zaman.

Sebuah prinsip dari salah satu tokoh manajemen, Peter Drucker yaitu “berinovasi atau mati” tampaknya kini menjadi salah satu prinsip stasiun-stasiun radio pada saat ini. Contoh saja RRI atau Radio Republik Indonesia yang masih bisa bertahan dan eksis hingga saat ini. Salah satu strateginya adalah dengan membuat program-program khusus bagi kawula muda, yang di siarkan dari RRI Programa dua. Sebagai penyataan singkat, dari kemungkinan pertanyaan yang dipikirkan adalah pembagian programa RRI itu karena sasaran pendengar yang berbeda dan juga dengan program siar yang berbeda-beda.

Foto Kunjungan Radio DIsta fm UIN Raden Mas Said Surakarta ke RRI Solo
Foto kunjungan Crew Radio Dista FM UIN Raden Mas Said Surakarta ke RRI Solo – Photo by Dista FM

Raissa, salah satu mahasiswi perguruan tinggi di Jakarta mengatakan dirinya lebih sering mendengarkan podcast yang ada di berbagai platform internet atau musik yang dapat diakses olehnya dari aplikasi spotify atau lain sebagainya. Bahkan ia mengaku jarang, mungkin hampir tidak pernah mendengarkan siaran radio. Dari keterangan Raissa, mungkin sebagian besar remaja generasi milenial memiliki pendapat yang sama, karena sudah merasa lebih nyaman dengan adanya internet, terlebih dengan beragam fitur serta konten yang menarik.

Lalu, apa saja sebenarnya yang bisa membuat radio bisa menjadi menarik bagi kawula muda?

Sesuai anak muda

Program siar, pembahasan, tema, juga isi siaran yang sesuai akan sangat mempengaruhi anak-anak muda yang mungkin belum pernah mendengarkan radio sama sekali. Program siar pun selain harus bisa menyesuaikan dengan mood dan tren, tentu harus bisa dikemas dengan menarik dan juga asik. Hal-hal tersebut nanti akan menjadi poin plus yang akan membantu menarik atensi pendengar.

Sebagai contoh, ketika salah satu orang yang rajin mendengarkan radio, kemudian mendapati salah satu program siar yang menarik, maka orang tersebut akan menjadikan program siar itu menjadi program siar favorit. Ditambah dengan fitur internet yang ada saat ini, yaitu fitur sharing, stories, dan semacamnya, itu bisa menjadi salah satu penarik minat dari para kawula muda.

 Lagu yang menarik

Di setiap stasiun radio pasti akan memiliki satu divisi atau departemen music director. Nah divisi itu yang menyusun playlist juga menyortir dan menyiapkan lagu-lagu yang akan diputar. Seorang music director sebelum menyusun playlist  harus memiliki selera musik yang sesuai dengan target pasar.

Selain lagu-lagu pilihan dari sang music director, pendengar pun biasanya diberikan kesempatan untuk memesan lagu, entah itu via Whatsapp, Instagram, Twitter dan lain sebagainya. Nah, pemilihan lagu tersebut yang nanti juga berpengaruh terhadap pendengar, karena beberapa orang merasa senang ketika mendapat lagu-lagu yang bagus dan enak untuk didengar muncul di indera pendengarnya saat mendengarkan siaran radio.

Tema menarik dan kekinian

Bukan hanya menarik, namun juga kekinian. Di setiap program siar, tema pembahasan yang ada pun juga harus selalu up to date. Menyesuaikan dengan kejadian atau suatu tren di waktu itu. Selain kekinian, tema yang diangkat oleh penyiar pun juga harus bisa dibawakan dan disampaikan dengan baik sekaligus menarik, karena lagi-lagi salah satu hal penting yang bisa menarik atensi pendengar.

Contoh kecilnya adalah beberapa waktu yang lalu ramai dibahas di laman Twitter yang merambah ke semua ranah sosial media mengenai kasus Novia Widyasari, tema yang bisa diangkat dari kasus  mengenai awareness masyarakat terhadap pelecehan seksual pada perempuan.

Interaksi dengan pendengar

Selain memberi kesempatan pendengar memesan lagu kesayangan, pengelola radio biasanya menyediakan lapak untuk curhat, atau sekedar berbagi pengalaman atau cerita-cerita dari tema yang sedang di bahas. Jadi, sebagai pendengar pun bisa ikut menceritakan pengalaman, cerita dan lain sebagainya via telepon langsung atau sosial media.

Interaksi semacam itu di era 1990-an lalu adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para penikmat radio pada era itu, terutama bagi para kawula muda. Entah itu menunggu salam yang ditujukan kepadanya, atau menunggu salam yang dikirim melalui radio dibacakan oleh sang penyiar.

Dari poin-poin diatas bisa menjadi pertimbangan bagi kawula muda untuk kembali menikmati siaran radio. Karena radio pun masih bisa menjadi sarana hiburan dan juga informasi terkini, bahkan bagi para pecinta musik radio adalah salah satu sarana untuk menemukan lagu-lagu baru yang bagus, atau sekedar sebagai teman untuk sing a long. Sebagian besar remaja masa kini pun masih sesekali mendengarkan radio ketika berada di mobil, itupun jika memang perangkat multimedia di mobil tersebut belum men-support slot USB, dan juga bluetooth.

Meskipun  zaman telah berganti, namun radio tetap mampu mempertahankan eksistensinya. Lantas, apakah satu diantara kalian tertarik untuk kembali mendengarkan dan menikmati keseruan radio?

Salwa Nurhandini Suwandi, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta-Jawa Tengah