Asa Sukarelawan Sobat Mengajar Indonesia Melawan Virus Korona

0
126

Komunitas Sobat Mengajar Indonesia telah melaksanakan pengabdiannya yang ke-6 pada 23 Agustus 2021 silam. Komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan tersebut berhasil menjangkau 28 sekolah di wilayah pelosok Banten, yakni Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Pemilihan dua wilayah tersebut didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal, yang menetapkan Lebak dan Pandeglang sebagai salah satu wilayah tertinggal di Indonesia.

Menginjak usianya yang ketiga, komunitas yang didirikan oleh Mus’ad al Habib, alumnus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Jakarta, bersama rekannya, tahun ini melebarkan sayapnya ke beberapa daerah baru, yaitu Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak serta Kabupaten Pandeglang. Pengabdian di Pandeglang merupakan ekspansi pertama Sobat Mengajar setelah sebelumnya selama tiga tahun membantu pendidikan di Kabupaten Lebak.

Sukarelawan Sobat Mengajar mengabdi selama 30 hari sejak tanggal 23 Juli lalu. Dalam jangka waktu tersebut, mereka menjalankan berbagai kegiatan seperti mengajar sekolah dasar (SD), mengajar ngaji dan membaca, program donasi, serta penyuluhan kesehatan. Relawan yang datang dari berbagai kampus di Indonesia sebelumnya telah menjalani berbagai tahapan seleksi sebelum menjalani program pengabdian.

Mulai dari seleksi administratif, wawancara, pembekalan, hingga pengabdian yayasan yang dilakukan secara daring harus dilalui oleh calon sukarelawan. Rangkaian persiapan yang berlangsung selama lebih kurang dua bulan tersebut diharapkan dapat membekali mereka dengan pengetahuan dan keperluan yang diperlukan selama mengabdi kelak.

Para sukaelawan diajari cara membuat rencana pembelajaran serta berbagai keterampilan mengajar anak-anak seperti pembelajaran aktif dan seni rupa. Proses pembekalan tersebut dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat selama masa pandemi Covid-19.

Tak heran, kondisi tempat penempatan yang ekstrem menuntut relawan untuk memiliki kemampuan yang mumpuni. Jalan yang rusak, akses yang sulit, serta jarak sekolah yang jauh menuntut relawan untuk mengerahkan tenaga ekstra dalam proses mengajarnya. Beberapa sekolah, misalnya SDN 3 Jatake di Kampung Sinagar, Kecamatan Panggarangan baru bisa dicapai setelah dua puluh menit berjalan kaki dari desa terdekat. Akses jalan setapak yang masih berupa tanah dan batu juga hanya memungkinkan sepeda motor untuk lalu lalang. Jangan membayangkan ada mobil di sana, sebab kampung tersebut hanya dihubungkan dengan jembatan sempit yang hanya bisa dilalui satu motor.

Membaur

Selain mengajar, para sukarelawan juga aktif membaur dengan masyarakat. Selama pengabdian sukarelawan Sobat Mengajar tinggal di rumah warga dan merasakan menjadi bagian penduduk asli kampung tersebut. Mereka juga aktif mengikuti kegiatan masyarakat seperti pengajian dan syukuran. Ada pula program donasi hijab dan pakaian yang ditujukan bagi masyarakat setempat.

Selain itu, sukarelawan yang tergabung sebagai “tim kesehatan” aktif berkeliling mengadakan penyuluhan kesehatan ke beberapa kampung. Penyuluhan yang mengambil tema gizi anak serta penyakit tidak menular ini mendapatkan respon yang antusias dari masyarakat, sebab berdasarkan pengakuan warga jarak dari kampung ke puskesmas terdekat cukup jauh, satu jam dengan mengendarai motor. Program puskesmas keliling pun baru menyambangi tiap kampung sekurang-kurangnya tiga bulan sekali.

Di sela-sela kesibukannya, para sukarelawan pun masih sempat menikmati masa-masa pengabdiannya. Sering mereka diajak anak-anak atau warga sekitar untuk menikmati keindahan yang ada di kampungnya. Bermain di lapangan, sampai ekspedisi ke hutan terdekat dipandu anak-anak menjadi pengalaman yang berarti dalam proses mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar.

Besar harapan untuk Sobat Mengajar Indonesia agar bisa menjadi roda penggerak pemerataan pendidikan di wilayah tertinggal. Lewat Sobat Mengajar, diharapkan timbul perubahan positif pada tubuh anak-anak di wilayah, meskipun sedikit, agar mereka bisa mendapatkan akses bagi masa depan yang lebih baik.

Gianluigi Fagrezi, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Jakarta, sukarelawan kesehatan Sobat Mengajar Indonesia Batch 6