“Gap Year”, Alternatif Bagi Siswa yang Tidak Lolos Masuk PTN

0
333

Saat ini, kita hidup di zaman yang mengutamakan strata pendidikan. Tak sedikit bidang kerja yang mencantumkan kualifikasi pendidikan pada saat proses rekrutmen yang sangat ketat demi menjaring sumber daya manusia kompeten agar dapat bersaing di dunia kerja nantinya. Untuk mencapai taraf tersebut, seseorang harus melewati tahapan yang tidak mudah. Salah satunya melalui jenjang pendidikan. Tak heran, jika banyak lulusan sekolah menengah baik itu menengah atas maupun kejuruan memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan, khususnya di perguruan tinggi negeri atau PTN.

Menjadi bagian dari salah satu mahasiswa PTN merupakan mimpi bagi para lulusan sekolah menengah atas a tau kejuruan yang sedang berjuang. Apalagi jika mereka sedang memperebutkan bangku perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Banyak alasan mengapa mereka berambisi agar bisa kuliah diperguruan tinggi negeri.

Faktor biaya menjadi tujuan utama. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa biaya kuliah di PTN di Indonesia lebih terjangkau jika dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta. Nama perguruan negeri sudah menjadi prestise bagi sebagian besar orang tua siswa. Ada rasa kebanggaan tersendiri bila putra-putri mereka mampu menembus ketatnya proses seleksi.

Ketatnya persaingan membuat para siswa-siswi seluruh Indonesia sibuk menyiapkan bekal sejak jauh hari. Bahkan sampai-sampai rela mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar (bimbel) diluar jadwal belajar di sekolah yang cukup padat.

Umumnya, ada tiga jalur untuk masuk ke PTN. Jalur pertama, SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi yang langsung diikuti siswa kelas 12. Jalur ini memungkinkan siswa bisa masuk PTN tanpa tes tertulis dengan cara memperhitungkan nilai rapor. Tidak semua siswa dapat mendafat di jalur ini karena kuota yang diberikan untuk jalur SNMPTN hanya sekitar 20 persen dari total kuota per universitas.

Cara kedua, lewat UTBK atau Ujian Tulis Berbasis Komputer. UTBK ini mulai diselenggarakan pada tahun 2019. UTBK ini sejenis tes berbasis komputer yang digunakan sebagai syarat untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN).

Jika lewat dua cara itu bellum juga berhasil, para lulusan SMA, SMK atau madrasah aliyah (MA) bisa mengikuti Seleksi Mandiri yang merupakan cara penerimaan mahasiswa baru yang diadakan dan dikelola oleh masing-masing perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan. Seleksi Mandiri di tiap perguruan tinggi negeri tentu saja berbeda-beda. Ada perguruan tinggi yang menggunakan sistem ujian tertulis atau seleksi rapor.

Menunda kuliah

Akan tetapi, tak sedikit dari para siswa yang enggan mendaftar jalur mandiri dengan alasan masih ada beberapa PTN yang masih menerapkan kebijakan uang pangkal atau uang pembangunan kepada calon mahasiswanya. Hal itu akan memberatkan sebagian calon mahasiswa, mengingat besaran uang pangkal yang umumnya tidak sedikit.

Ada pula yang memilih perguruan tinggi swasta sebagai pilihan terakhir atau menunggu tahun depan apabila ingin kuliah. Mereka yang sudah berencana atau secara terpaksa menunda kuliah setahun, mendapat istilah sebagai gap year.

Gap year atau yang juga dikenal dengan istilah sabbatical year adalah masa di mana seseorang mengambil istirahat sejenak dari sekolah untuk melakukan aktivitas lain seperti berpergian, bekerja, atau volunter, mencari pengalaman baru yang biasanya dilakukan setelah lulus SMA sebelum memasuki dunia perkuliahan.

Saat ini di Indonesia, gap year masih terdengar asing di telinga masyarakat dan menjadi pilihan yang kurang populer bagi siswa lulusan SMA/SMK/MA khususnya. Banyak dari mereka yang memaksakan diri kuliah di perguruan tinggi manapun, tak lain alasannya hanya untuk menghindari berbagai pandangan negatif dari gap year. Muncul berbagai stigma bahwa gap year adalah aib. Mereka beranggapan akan tertinggal jauh dengan teman-teman angkatan jika memutuskan untuk menunda kuliah.

mereka yang tengah menunda perkuliahan bisa bergabung ke komunitas gap year supaya rasa jenuh  selama di rumah dapat teralihkan

 

Alasan utama mereka mengambil langkah ini yaitu murni karena mereka ingin mengejar perguruan tinggi negeri ternama dan program studi favorit. Ada sebagian yang beranggapan bahwa bisa lolos di perguruan tinggi negeri adalah sebuah prestise. Dalam artian positif, ia akan berjuang kembali untuk memperebutkan kursi di perguruan tinggi negeri pada tahun berikutnya. Terlepas dari pandangan buruk mengenai gap year, mereka yang mengambil langkah tersebut dapat menyiapkan secara matang untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri di tahun berikutnya.

Banyaknya waktu luang yang mereka miliki bisa untuk mengikuti bimbel baik secara luring atau daring sebagai salah satu siasat untuk lolos seleksi PTN. Selain itu, mereka yang tengah menunda perkuliahan dapat bergabung ke komunitas gap year supaya rasa jenuh selama di rumah dapat teralihkan. Banyak yang bisa kita dapatkan saat bergabung dengan komunitas tersebut. Kita bisa bertukar informasi mengenai dunia perkuliahan seperti pendaftaran perguruan tinggi, informasi tentang try out, belajar bersama secara daring, atau saling memberi motivasi.

Terlepas dari semua penjelasan ini, gap year tidak akan memberi jaminan apakah seseorang dapat diterima di perguruan tinggi negeri ternama, apakah seseorang tersebut dapat meraih sukses nantinya. Kesimpulannya, jalur apa pun yang dipilih untuk memasuki PTN pasti memiliki tantangan serta risiko tersendiri. Baik itu jalur SNMPTN, UTBK, Seleksi Mandiri, atau gap year sekali pun. Semua bergantung pada usaha tiap individu. Mereka harus bisa mengantisipasi dan mempersiapkan kemungkinan terburuk yang mungkin bisa terjadi.

Hana Agustina mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar Magelang-Jawa Tengah.