Kisah Mahasiswa Kuliah Secara Daring

0
717

Pandemi COVID-19 sudah hampir satu tahun menyelimuti bumi. Kondisi itu memaksa sebagian besar kegiatan manusia baik kegiatan sosial maupun perkuliahan dilakukan dari tempat tinggal masing-masing secara daring. Banyak rencana dan mekanisme kelulusan pelajar yang berubah akibat peristiwa ini, juga perubahan mekanisme ujian masuk sebuah institusi pendidikan menurut peraturan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Awal tahun ajaran baru di tahun lalu, menjadi tantangan tersendiri pagi pelajar dan mahasiswa baru.

Jika pandemi ini tidak ada atau sudah dapat dikendalikan dengan baik secara global, pelajar yang lulus tahun ini dan berkesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi akan menikmati hari pertama di institusi tersebut secara langsung atau luring. Namun, kondisi yang tidak memungkinkan saat ini membuat semua pelajar lulusan tahun 2020 menjadi angkatan pertama sepanjang sejarah yang memulai jenjang pendidikan baru secara daring.

Belajar secara daring di satu sisi memberi keuntungan, namun di sisi lain ada kesulitan yang mengiringinya, dan memunculkan ganjalan. Seolah belum ada keadilan bagi pihak lain. Ii, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Jakarta mengakui ada beberapa keuntungan dari perkuliahan daring  meskipun banyak terdapat kekurangan.

Menghemat biaya hidup di kota tempat ia kuliah menjadi keuntungan bagi Ii yang pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) dibayar dari program beasiswa untuk dirinya. Namun, ia merasa miris melihat ketidakberuntungan finansial teman-teman kuliahnya yang tidak mendapat pengurangan biaya kuliah karena UKT yang ditetapkan perkuliahan secara daring dan luring tetap sama besarannya. Padahal dengan kuliah secara daring dari rumah masing-masing, mahasiswa tidak menggunakan fasilitas, sarana, dan prasarana kampus, tetapi pihak kampus tetap tak memberi potongan UKT kepada mahasiswa pada saat pandemi ini.

Secara pribadi Ii yang memiliki kepribadian ektrovert ini senang berinteraksi dengan banyak orang, tetapi dengan sistem kuliah sekarang dia kesulitan menjalin pertemanan secara daring. Misalnya iamengalami kesulitan dalam berargumen dan menanggapi sebuah persoalan. Bahkan, dalam hal berkenalan dengan mahasiswa satu kelas terkadang mengalami kesulitan dan salah mengingat seseorang sehingga nama kawan-kawannya kerap kali tertukar.

Bantuan paket data internet dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mahasiswa sangat membantu dirinya

Ii yang tinggal di salah satu kepulauan dalam wilayah Sumatera dengan waktu tempuh sekitar empat sampai lima jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi kerap mengalami kendala belajar karena susah sinyal. Jaringan internet sering bermasalah dan tidak stabil, ditambah aktifitas masyarakat di lingkungan ia tinggal kerap menimbulkan suara cukup bising sehingga mengganggu konsentrasi saat mengikuti perkuliahan secara daring.

Menanggapi situasi tersebut, dia tidak hanya berdiam diri. Solusinya, Ii mencari lokasi yang memiliki jaringan internet yang baik dan memadai, walau tetap saja ia masih sering terganggu suara aktifitas warga. Bantuan paket data internet dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mahasiswa sangat membantu dirinya yang berat jika harus membeli paket internet dengan dana pribadi.

Bagi Ii perkuliahan daring menimbulkan banyak kerugian meskipun ada sedikit keuntungan dalam hal finansial. Perkuliahan luring memang memerlukan biaya hidup yang jauh lebih tinggi, tetapi kuliah tatap muka membuatnya punya peluang untuk menggali potensi mahasiswa serta apresiasi dan aspirasi bakat. Bukan hanya ilmu yang ia dapatkan dari perkuliahan, tetapi ada pengalaman, relasi, bisa bergabung dalam perhimpunan mahasiswa, dan perspektif baru.

Hal lain, walau kuliah daring dilaksanakan dari tempat tinggal masing-masing, tetapi pelaksanaan pembelajaran selama seharian menyebabkan banyak tugas yang harus diselesaikan. Tugas dari dosen itu bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan perkuliahan luring, namun ia berusaha keras bisa menyelesaikan tugas dengan cepat. Di luar waktu kuliah, ia memanfaatkannya untuk berinteraksi melalui kegiatan kepanitiaan, organisasi, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan organisasi di sekitar tempat tinggalnya. Salah satu organisasi tersebut mendukung perkumpulan mahasiswa atau teman sebaya dengan persamaan visi dan misi dalam dunia literasi serta memberikan ilmu tanpa dibayar.

Merekam materi

Jika Ie yang kuliah di jurusan sosial-humaniora punya dua sisi dari kuliah secara daring. Bagaimana dengan mahasiswa jurusan ilmu pasti ?  AF, mahasiswa fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi di Semarang, Jawa Tengah pun mengalami hal sama. Ia merasakan beberapa keuntungan menjalani perkuliahan perdana secara daring. Salah satunya adalah fleksibilitas waktu.

Dalam hal ini, bila dosen mengalami kendala melaksanakan perkuliahan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, maka perkuliahan akan dijadwalkan ulang sehingga tidak ada pengabaian kelas. Meski harus dijadual ulang, menurut AF tak sulit mengumpulkan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan karena cukup bergabung melalui tautan layanan komunikasi video (videotelefoni), seperti Google Meet dan Zoom.

Berbeda dengan Ii, AF  merasa punya waktu luang lebih banyak sebab perkuliahan di fakultasnya  tidak begitu padat. Waktu luang di luar kuliah lebih banyak sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk bisa lebih aktif belajar dengan membaca sumber referensi dan jurnal serta media belajar daring lainnya guna mencapai Student Centered Learning. Perkuliahan terjadwal hanya menyebabkan mahasiswa mendengar penjelasan dosen atau Teacher Centered Learning.

“Mahasiswa lebih susah paham materi, karena hanya bisa menatap layar… Pengalamanlah yang sesungguhnya dicari melalui praktikum,”

Kegiatan perkuliahan melalui aplikasi videotelefoni dapat direkam sebagai arsip dan dapat digunakan untuk mengejar ketertinggalan materi ataupun mengulang materi ketika melakukan ulasan balik untuk belajar. “Kemungkinan untuk merekam mata kuliah pada saat luring sangat kecil karena diperlukan set up posisi kamera untuk merekam penjelasan dosen atau hanya penjelasan suara. Ribet,” ujar AF ketika di wawancara pada Januari lalu.

Meskipun tidak mengikuti kegiatan organisasi atau pun kepanitiaan, AF menilai, fleksibilitas waktu untuk melakukan rapat lebih mudah dilakukan karena fasilitas platform rapat daring sudah banyak dan mudah diakses. Hal itu juga dinilai sebagai efisiensi waktu, sebab rapat luring memerlukan waktu yang lebih banyak untuk mobilisasi menuju titik kumpul. Pertemanan juga sangat dimudahkan seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan adanya fitur chat dan video call.

Akan tetapi di sisi lain, ia merasakan ada kesulitan. “Mahasiswa lebih susah paham materi, karena hanya bisa menatap layar, tidak dapat melihat kenyataan materi secara langsung. Praktikum untuk pemahaman materi melalui menonton video bersifat pengalihan sehingga tidak maksimal mendapat materinya. Pengalamanlah yang sesungguhnya dicari melalui praktikum,” tutur AF ketika mengenai kerugian dari perkuliahan daring.

“Dosen tidak bisa mengontrol mahasiswa karena dosen hanya menyebarkan absen dan menjelaskan materi tanpa mengetahui apakah mahasiswa tersebut benar mengikuti perkuliahan atau tidak. Tidak sedikit mahasiswa yang hanya mengisi absen dan meninggalkan kelas daring untuk melakukan aktivitas lainnya. Materi yang diserap mahasiswa tidak maksimal,” tambahnya AF.

Selama semester  ini belum ada praktik bedah, tetapi ada praktik untuk memahami anatomi tubuh manusia melalui mayat yang diawetkan atau cadaver. Bagi AF, kegiatan ini harus dilakukan secara luring karena ketika sudah menjadi dokter dan melayani pasien dengan tindakan medis juga dilakukan secara luring, bukan daring. Meskipun teknologi pada masa kini sudah cukup mendukung untuk memberikan visual cadaver tiga dimensi melalui berbagi layar dalam videotelefon atau pun aplikasi terkait, ia merasa cara tersebut masih cukup sulit karena memang harus dilihat dan dirasakan secara langsung oleh fisik mahasiswa. Masalah bertambah jika ada gangguan pada jaringan internet.

Kondisi yang kadang-kadang kurang diantisipasi adalah adanya miskomunikasi dalam kegiatan perkuliahan, organisasi di kampus dan pertemanan sering terjadi sebab informasi disampaikan sepenuhnya secara daring. Bagi AF, kurangnya kesadaran yang tinggi untuk selalu memperbarui informasi menjadi penyebab ketinggalan informasi, seperti halnya waktu pelaksanaan ujian serta perkuliahan mendadak.

Bagi AF, pertemanan secara daring juga menjadi kendala untuk mengenal sifat baik atau buruk seseorang. Media sosial memudahkan seseorang untuk berkamuflase. “Miskomunikasi dalam pertemanan tidak terelakan, seperti halnya penyampaian emosi melalui pesan singkat,” ujarnya.

Tantangan dalam mengikuti perkuliahan daring ini juga tidak sedikit, di antaranya gangguan eksternal yang menyebabkan sifat malas mengikuti kuliah sehinggal tidak sepenuh hati dalam kegiatan pembelajaran. AF menegaskan perlu kesadaran diri sendiri untuk berambisi mengejar materi pembelajaran, memahami makna kegiatan secara daring, aktif dalam diskusi, dan pemanfaatan waktu secara optimal dalam setiap kegiatan. Dalam pertemanan baru secara daring ini, diperlukan pendekatan  individu secara pribadi yang berbeda-beda dan toleransi sesama karena perbedaan kondisi lingkungan tempat tinggal.

Menyatukan mahasiswa

Di tengah situasi belajar secara daring yang memunculkan aneka dampak, SA, mahasiswa jurusan sastra Cina sebuah perguruan tinggi ini  masih mau menjadi ketua angkatan program studi di kampusnya. Ia menyadari ketua angkatan menjadi simbol untuk menyatukan mahasiswa dalam angkatan tersebut agar lebih kompak dan punya tugas menjadii perantara antar angkatan untuk urusan kepentingan umum. Lebih cepat menerima informasi dari kakak tingkat menjadi keuntungan bagi SA sebagai ketua angkatan.

Ia mengaku, manajemen waktu dalam kepadatan jadual kuliah menjadi tantangan baginya. Kesibukan selama perkuliahan daring ini meliputi kegiatan akademik, pertemuan dengan kakak tingkat, dan berbagai pertemuan lain secara daring sehingga harus berpacu pada waktu serta pandai untuk mencari waktu istirahat. Namun, dibalik tantangan tersebut, SA mendapat kesempatan untuk mengenal lebih banyak kakak tingkat (kating) dan mudah mencari teman dekat yang semula menghubungi hanya atas dasar keperluan menjadi teman untuk mengobrol.

Sebagai perantara antar generasi angkatan yang berbeda, SA juga harus membangun kerjasama yang baik. “Mendengarkan dan memahami perintah dari kating. Semua harus dipahami dulu. Saran sangat penting dari angkatan yang akan diolah (terlebih dahulu) untuk (disampaikan) kepada kating,” tutur SA mengenai cara agar mahasiswa dalam angkatannya dapat bekerja sama dengan baik untuk melancarkan komunikasi.

Komunikasi yang baik menjadi kunci kerjasama selama semua hal dilakukan secara daring ini. “Kalimat dalam pesan singkat sering kali disalahartikan oleh yang membaca,” ujarnya. Kondisi tersebut jelas akan berbeda jika semua kegiatan kampus dilakukan secara luring, yang memungkinkan semua pihak bertemu, tatap muka secara langsung untuk menyampaikan sebuah perintah.

Sebagai ketua angkatan, SA punya tiga kunci untuk melayani mahasiswa angkatannya. Pertama komunikasi yang baik diiringi sikap yang serius dan santai, kedua menempatkan diri sesuai situasi. Saat menanganani masalah musti memerhatikan pandangan dari berbagai sudut pandang sebagai kunci terakhir. Ia menerapkan sistem give and take yang diimplementasi dengan melakukan pemahaman terlebih dahulu lalu bertindak.

Perkuliahan daring selama satu semester lalu telah menimbulkan berbagai dampak dengan berbagai perubahan perilaku mahasiswa. Setelah menempuh sebuah perjalanan dalam sebuah periode, kita berharap pengalaman tersebut bisa menjadi dasar untuk mengambil tindakan di masa depan yang situasinya mungkin kurang lebih sama dengan periode lalu.

Tristan Jachremi Caesarius, mahasiswa Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Magangers Kompas Muda Harían Kompas Batch XI